Kesengsem Batik Yogya

IA memang langganan juara lomba. Tapi, jujur saja, kemenangan yang diraihnya dalam Lomba Motif Batik Yogyakarta 2000 pekan lalu, sesungguhnya sangat mengejutkan dirinya.

Bayangkan saja, Ir Winarno, sang pemenang utama itu, bukanlah sosok yang dikenal demen banget batik. Meski pernah memenangkan lomba merancang busana, ia sebenarnya nyaris tak tahu menahu khasanah batik, apalagi batik Yogyakarta.

Tapi begitulah, lembaran batik bernama Sekarjagad karyanya itu akhirnya toh mampu mengungguli peserta lainnya bahkan mampu mencuri perhatian juri lomba, yang mayoritas orang asing dan mayoritas juga dikenal sebagai pakar batik.

“Itulah letak tantangannya. Saya bukan saja bisa menguji habis-habisan rasa seni yang saya miliki, tapi saya juga bisa memilih tema yang tak terpikirkan oleh peserta lainnya,” ujar Winarno, di ruang kerjanya, Selasa (12/9).

Persiapannya untuk mengikuti lomba memang patut diacungi jempol. Kesibukannya selaku Direktur Utama PT Kerta Gana, untuk beberapa saat ‘terpaksa’ ditinggalkannya, karena ia harus membolak-balik buku-buku batik. Toh semuanya tak berakhir sia- sia, karena justru dari situlah Winarno bisa kesengsem dengan sederetan motif kuno batik Yogya, dari Kawung, Parang, Lereng, Nithik sampai Grompol.

Saking kesengsem-nya, ke-17 motif kuno batik itu akhirnya malah ‘dipaksakan’ Winarno untuk hadir di atas lembaran sutera supra yang dibelinya dengan harga Rp 35.000/m. Dan akhirnya lahirlah sebuah karya batik Yogya nan eksklusif dan penuh gaya, serta mengundang decak kagum para pemerhati dan pencinta batik dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul di Hyatt Regency Yogyakarta.

“Saya buat tiga bunga ukuran besar dengan daun yang amat banyak. Di setiap kelopak, daun dan kuncupnya saya selip-selipkan ke-17 motif kuno batik Yogya. Karena seperti kumpulan aneka motif, makanya kesannya jadi modern dan saya pun akhirnya menamainya dengan ‘Sekarjagad’,” tuturnya.

Mungkin sulit dipercaya jika karya sang juara batik ini telah menempuh proses yang panjang. Sebelum bertemu Tini, pembatik alusan muda usia dari Yogya yang kini bekerja di Batik Winosastro, tak seorang pembatik pun bersedia membatik untuknya. Desain “Sekarjagad” itu dinilai mereka sangat angel.

Tak hanya itu, untuk mendapatkan warna khas Yogya seperti biru dari tom (indigo vera), lembaran sutera itu sampai harus dicelup-celup sebanyak 15 kali. Demikian juga untuk warna soganya, kain itu kembali dicelup empat kali di dalam larutan yang berasal dari kulit tingi, jambe, dan tegeran.

“Semuanya surprised buat saya. Saran pewarnaan dari ibu Hani Winosastro (pemilik Batik Winotosastro) justru berhasil melahirkan warna kluwus, sehingga kesan kunonya jadi kuat sekali. Itulah yang akhirnya mendorong keyakinan saya bahwa ‘Sekarjagad’ akan menarik minat juri dari luar negeri,” paparnya.

Begitulah, tiga bulan sudah dilaluinya untuk berproses dalam menuangkan gagasannya, dan Rp 3 juta sudah dihabiskannya untuk mewujudkan “Sekarjagad”. Akankah Winarno berpuas diri dengan penghargaan utama, berupa piala berujud canting dari Megawati Soekarnoputri dan hadiah uang Rp 10 juta?

“Penghargaan itu bukan saja memaksa saya untuk ‘jatuh cinta’ pada batik, tapi juga memacu saya untuk belajar lebih banyak lagi tentang batik. Terus terang, saya akhirnya malu kenapa harus orang asing yang jadi pakar batik, kenapa bukan kita, wong Yogya yang notabene pemilik asli yang jadi pakarnya,” tutur Winarno, yang kini memutuskan untuk berkecimpung di Paguyuban Pencinta Batik “Sekarjagad”.

Sumber : (idt) Kompas Cetak, Jakarta

One Response to “Kesengsem Batik Yogya”

  1. siddo Says:

    pak Ir Winarno, saya sedang mengembangkan bisnis kain sutera putih kristal yang merupakan bahan dasar kain batik sutera. sapa tau bapak Winarno tertarik silahkan hubungi saya lewat Email Daeng_siddo@yahoo.co.id dan kalo boleh saya minta tolong dikirimkan alamat pengusaha atau pengrajin batik yang ada di Yogya.trim’s

Leave a Reply