Anjlok, Ekspor Konveksi dan Batik Jawa Tengah

Sejumlah pengusaha industri kecil yang bergerak di bidang konveksi dan batik di Jawa Tengah (Jateng) menyatakan dalam dua tahun terakhir ekspor konveksi dan batik ke luar negeri merosot sampai 70 persen. Ini antara lain akibat situasi politik yang tidak menentu. Penyebab lainnya karena pengusaha asing kini mengalihkan pembelian batik dan konveksi ke negara lain yang lebih stabil seperti India dan Malasyia. Negara pesaing itu bisa menawarkan harga lebih murah dengan kualitas yang sama. Sebuah kondisi yang tak mungkin dicegah oleh pengusaha Indonesia.Demikian kesimpulan sejumlah pengusaha, dan pengurus Kamar dagang Indonesia (Kadin) Jateng, ketika dimintai komentarnya tentang suasana perdagangan nasional dan antar- negara, di sela-sela pembukaan Central Java Expo 2001 di Semarang, Sabtu (14/7) yang diikuti 35 pengusaha industri kecil dan menengah, enam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan satu daerah Kabupaten Pemalang.
“Kondisi ekonomi di sini tidak memungkinkan kita bersaing mengingat harga-harga bahan baku naik, termasuk upah pekerja,” ujar Ny Naila Ahmad, pengusaha batik dari Pekalongan. Pameran yang dibuka oleh Wakil Gubernur Jateng Bidang Kesra Mulyadi Widodo ini, dihadiri antara lain Ketua Gabungan Serikat Buruh Industri Indonesia (Gasbiindo), Hadi Pranoto dan Ketua Kamar dagang Indonesia (Kadin) Jateng, Soendoro.

Naila mengemukakan, selama ini pihaknya banyak mengekspor celana dan pakaian kasual ke Santa Barbara (AS). Sampai 1998, dia masih mampu mengirim 200.000 hingga 250.000 potong sekali kirim dengan nilai lebih dari 500.000 dollar AS. Namun, dalam dua tahun terakhir, ekspor merosot sampai 70 persen sehingga rata-rata hanya mampu mengirim 75.000 potong saja. Merosotnya nilai ekspor, selain akibat saingan produk asal India dan Malaysia, juga akibat kenaikan bahan baku tekstil.

“Upah pekerja sejak dimulainya UMP juga naik tajam. Hal ini sangat mengurangi modal pengusaha tidak bisa lagi mempertahankan produk dengan harga seperti tahun 1998,” katanya. Dia menambahkan, dari 350 karyawan telah dikurangi menjadi 200 orang saja.

Pengusaha lain, Nunik Nurniyati dari Ungaran mengemukakan, pihaknya juga batal mengadakan transaksi bisnis dengan mitra dari Brunei akibat lonjakan bahan baku. Bahan baku yang dibeli merupakan bahan kain eksgarmen. Kain celana maupun kain pulan dibelinya seharga Rp 6.000/kg sampai Rp 20.000/kg tergantung lebar dan jenis kainnya.

Sedangkan Wagub Jateng, Mulyadi Widodo dalam sambutan pembukaan pameran mengemukakan, pengembangan aneka industri kecil termasuk tiga sektor penting dalam memberi kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jateng yang rata-rata 30 persen per tahun. Dua sektor lain yang tidak kalah penting adalah pertanian dan sektor pariwisata.

“Hasil industri kecil banyak menghasilkan devisa. Tahun 1999, nilai ekspor nonmigas sektor industri kecil mencapai Rp 1.518,9 juta dolar AS atau meningkat sekitar 9,83 persen tahun 1998 hanya 1.382,9 juta dollar AS. Nilai ekspor indsutri secara keseluruhan pada 1999 merupakan 91,21 persen,” kata Mulyadi Widodo.

Merugikan

Di sisi lain, imbauan sejumlah kedutaan asing di Indonesia agar pengusaha mereka tidak berkunjung ke Indonesia menjelang pelaksanaan SI MPR sangat merugikan pengusaha di Jateng. Sejumlah pengusaha asing akhirnya membatalkan rencana kedatangan mereka.

Ketua Gasbiindo Jateng, Hadi Pranoto di depan peserta pameran mengemukakan, kemampuan industri kecil menghasilkan devisa selayaknya memperoleh dukungan pemerintah supaya kelangsungan usaha tetap berjalan.

Menurut Ketua Kadin Jateng Soendoro, SI MPR akan menjadi semacam ancaman dan membuat semua bentuk kerja sama dagang akan meleset. Padahal informasi itu tidak benar. Soendoro justru mengingatkan pemerintah, khususnya para bupati di daerah, untuk mewaspadai praktik pengusaha asing yang merekrut tukang, ahli batik, ahli ukir setempat untuk dikirim ke negara pembeli. (who) Kompas cetak, Semarang

Leave a Reply