Berkontemporer Tanpa Batas Media

Seni memang tidak mengenal aturan baku. Termasuk di antaranya soal memilih media yang dianggap paling cocok sebagai sarana tempat hasrat diutak-atik hingga melahirkan keindahan. Ajang seni kebebasan buat sang seniman bertema “Pameran Kria Kontemporer Indonesia” itu digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, sejak Selasa kemarin hingga 12 Juli mendatang.

Sebenarnya, beragam media yang digunakan para perupa, bukanlah barang yang sulit dijumpai. Namun berkat seni kerajinan tangan dan perasaan yang halus, semua material tadi bisa berubah wujud menjadi seni yang penuh keindahan. Mulai dari kain batik, batu, besi, rotan, kayu balsa, kertas daur ulang, kertas singkong, hingga daun.

Tengok saja karya yang memilih batik. Oleh sang perupa, kreasi yang diberi judul “Api” itu memang dianggap mampu berbicara banyak. Meski tak jelas inti pesannya, kemarahan tersirat di balik kain batik berukuran besar yang menggambarkan sebuah kobaran api menyala, seakan siap menerkam siapa saja.

Lantas terlihat juga sebuah lingkaran besar yang terbuat dari kertas daur ulang. Tepat di atasnya, ada selembar daun yang terus berputar mirip jarum jam. Bagi si perupa, karyanya boleh jadi menganalogikan sebuah perjalanan waktu yang terus berputar, berulang, dan tak akan pernah berhenti. Judulnya “Siklus Alami”.

Kreasi kontemporer ini juga menghadirkan kreasi berbentuk kepala manusia dan tangan yang terbuat dari kertas singkong. Lagi-lagi, sang perupa tentu punya pesan dari sesuatu yang pernah berkelebat di benaknya.

Ciptaan karya seni dengan menghalalkan berbagai media memang menjadi potret kemurnian hasrat yang terpendam. Namun perpaduan seni, kebebasan, dan sang perupa, adalah karya sempurna dari keindahan itu sendiri.

Sumber : (BMI/Apriliana dan Bambang Triyono) Liputan6.com, Ambon

Leave a Reply