Archive for July, 2001

Masa Penjajahan Turut Mewarnai Khasanah Batik Indonesia

Sunday, July 22nd, 2001

Batik Akulturasi Belanda & JepangPerpaduan kebudayaan pada batik ternyata sudah terjadi pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Akulturasi tersebut memunculkan perpaduan motif yang cantik dan sebagian kini masih bisa dilihat di Galeri Kusuma Jakarta. Demikian pantauan SCTV, baru-baru ini.

Pada umumnya, Batik Belanda berwarna dasar putih atau biru mengangkat gambar-gambar yang berkaitan erat dengan kegiatan orang Belanda di Nusantara. Seperti kapal perang, meriam, parasut hingga tentara Belanda. Pada masa itu, berkembang juga batik kompeni, yakni batik berwarna pastel yang bermotifkan tokoh dari cerita anak-anak. Seperti taman ria, bidadari, cinderella atau si topi merah dengan serigala.

Sedangkan pada masa penjajahan Jepang, akulturasi budaya batik ditandai kelangkaan kain mori sebagai bahan dasar untuk membuat batik. Hal tersebut menjadi inspirasi yang menarik, yakni lahirnya kain batik yang disebut pagi sore. Kain panjang yang lebih dikenal sebagai kain motif Jawa Hokokai tersebut, terbagi atas dua motif yang berlainan. Maksudnya, agar dapat dipakai secara bergantian.

Perpaduan budaya barat dan timur tampak cantik berpadu dalam sehelai kain. Soalnya motif asli Indonesia, seperti parang atau tumpal pada ujung kain dapat dipadukan dengan motif khas budaya kedua bangsa penjajah tersebut. Sayangnya, belakangan ini, motif-motif hasil perpaduan tersebut telah terlupakan lantaran perkembangan batik yang bermotif mengikuti selera pasar. Akibatnya, kain-kain tersebut kini menjadi barang yang langka dan hanya dapat ditemukan pada galeri-galeri khusus yang menjadi kolektor.

Sumber : (ORS/Esther Mulyanie dan Eko Purwanto) Liputan6.com, Jakarta

Kesengsem Batik Yogya

Friday, July 20th, 2001

IA memang langganan juara lomba. Tapi, jujur saja, kemenangan yang diraihnya dalam Lomba Motif Batik Yogyakarta 2000 pekan lalu, sesungguhnya sangat mengejutkan dirinya.

Bayangkan saja, Ir Winarno, sang pemenang utama itu, bukanlah sosok yang dikenal demen banget batik. Meski pernah memenangkan lomba merancang busana, ia sebenarnya nyaris tak tahu menahu khasanah batik, apalagi batik Yogyakarta.

Tapi begitulah, lembaran batik bernama Sekarjagad karyanya itu akhirnya toh mampu mengungguli peserta lainnya bahkan mampu mencuri perhatian juri lomba, yang mayoritas orang asing dan mayoritas juga dikenal sebagai pakar batik.

“Itulah letak tantangannya. Saya bukan saja bisa menguji habis-habisan rasa seni yang saya miliki, tapi saya juga bisa memilih tema yang tak terpikirkan oleh peserta lainnya,” ujar Winarno, di ruang kerjanya, Selasa (12/9).

Persiapannya untuk mengikuti lomba memang patut diacungi jempol. Kesibukannya selaku Direktur Utama PT Kerta Gana, untuk beberapa saat ‘terpaksa’ ditinggalkannya, karena ia harus membolak-balik buku-buku batik. Toh semuanya tak berakhir sia- sia, karena justru dari situlah Winarno bisa kesengsem dengan sederetan motif kuno batik Yogya, dari Kawung, Parang, Lereng, Nithik sampai Grompol.

Saking kesengsem-nya, ke-17 motif kuno batik itu akhirnya malah ‘dipaksakan’ Winarno untuk hadir di atas lembaran sutera supra yang dibelinya dengan harga Rp 35.000/m. Dan akhirnya lahirlah sebuah karya batik Yogya nan eksklusif dan penuh gaya, serta mengundang decak kagum para pemerhati dan pencinta batik dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul di Hyatt Regency Yogyakarta.

“Saya buat tiga bunga ukuran besar dengan daun yang amat banyak. Di setiap kelopak, daun dan kuncupnya saya selip-selipkan ke-17 motif kuno batik Yogya. Karena seperti kumpulan aneka motif, makanya kesannya jadi modern dan saya pun akhirnya menamainya dengan ‘Sekarjagad’,” tuturnya.

Mungkin sulit dipercaya jika karya sang juara batik ini telah menempuh proses yang panjang. Sebelum bertemu Tini, pembatik alusan muda usia dari Yogya yang kini bekerja di Batik Winosastro, tak seorang pembatik pun bersedia membatik untuknya. Desain “Sekarjagad” itu dinilai mereka sangat angel.

Tak hanya itu, untuk mendapatkan warna khas Yogya seperti biru dari tom (indigo vera), lembaran sutera itu sampai harus dicelup-celup sebanyak 15 kali. Demikian juga untuk warna soganya, kain itu kembali dicelup empat kali di dalam larutan yang berasal dari kulit tingi, jambe, dan tegeran.

“Semuanya surprised buat saya. Saran pewarnaan dari ibu Hani Winosastro (pemilik Batik Winotosastro) justru berhasil melahirkan warna kluwus, sehingga kesan kunonya jadi kuat sekali. Itulah yang akhirnya mendorong keyakinan saya bahwa ‘Sekarjagad’ akan menarik minat juri dari luar negeri,” paparnya.

Begitulah, tiga bulan sudah dilaluinya untuk berproses dalam menuangkan gagasannya, dan Rp 3 juta sudah dihabiskannya untuk mewujudkan “Sekarjagad”. Akankah Winarno berpuas diri dengan penghargaan utama, berupa piala berujud canting dari Megawati Soekarnoputri dan hadiah uang Rp 10 juta?

“Penghargaan itu bukan saja memaksa saya untuk ‘jatuh cinta’ pada batik, tapi juga memacu saya untuk belajar lebih banyak lagi tentang batik. Terus terang, saya akhirnya malu kenapa harus orang asing yang jadi pakar batik, kenapa bukan kita, wong Yogya yang notabene pemilik asli yang jadi pakarnya,” tutur Winarno, yang kini memutuskan untuk berkecimpung di Paguyuban Pencinta Batik “Sekarjagad”.

Sumber : (idt) Kompas Cetak, Jakarta

Anjlok, Ekspor Konveksi dan Batik Jawa Tengah

Friday, July 6th, 2001

Sejumlah pengusaha industri kecil yang bergerak di bidang konveksi dan batik di Jawa Tengah (Jateng) menyatakan dalam dua tahun terakhir ekspor konveksi dan batik ke luar negeri merosot sampai 70 persen. Ini antara lain akibat situasi politik yang tidak menentu. Penyebab lainnya karena pengusaha asing kini mengalihkan pembelian batik dan konveksi ke negara lain yang lebih stabil seperti India dan Malasyia. Negara pesaing itu bisa menawarkan harga lebih murah dengan kualitas yang sama. Sebuah kondisi yang tak mungkin dicegah oleh pengusaha Indonesia.Demikian kesimpulan sejumlah pengusaha, dan pengurus Kamar dagang Indonesia (Kadin) Jateng, ketika dimintai komentarnya tentang suasana perdagangan nasional dan antar- negara, di sela-sela pembukaan Central Java Expo 2001 di Semarang, Sabtu (14/7) yang diikuti 35 pengusaha industri kecil dan menengah, enam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan satu daerah Kabupaten Pemalang.
“Kondisi ekonomi di sini tidak memungkinkan kita bersaing mengingat harga-harga bahan baku naik, termasuk upah pekerja,” ujar Ny Naila Ahmad, pengusaha batik dari Pekalongan. Pameran yang dibuka oleh Wakil Gubernur Jateng Bidang Kesra Mulyadi Widodo ini, dihadiri antara lain Ketua Gabungan Serikat Buruh Industri Indonesia (Gasbiindo), Hadi Pranoto dan Ketua Kamar dagang Indonesia (Kadin) Jateng, Soendoro.

Naila mengemukakan, selama ini pihaknya banyak mengekspor celana dan pakaian kasual ke Santa Barbara (AS). Sampai 1998, dia masih mampu mengirim 200.000 hingga 250.000 potong sekali kirim dengan nilai lebih dari 500.000 dollar AS. Namun, dalam dua tahun terakhir, ekspor merosot sampai 70 persen sehingga rata-rata hanya mampu mengirim 75.000 potong saja. Merosotnya nilai ekspor, selain akibat saingan produk asal India dan Malaysia, juga akibat kenaikan bahan baku tekstil.

“Upah pekerja sejak dimulainya UMP juga naik tajam. Hal ini sangat mengurangi modal pengusaha tidak bisa lagi mempertahankan produk dengan harga seperti tahun 1998,” katanya. Dia menambahkan, dari 350 karyawan telah dikurangi menjadi 200 orang saja.

Pengusaha lain, Nunik Nurniyati dari Ungaran mengemukakan, pihaknya juga batal mengadakan transaksi bisnis dengan mitra dari Brunei akibat lonjakan bahan baku. Bahan baku yang dibeli merupakan bahan kain eksgarmen. Kain celana maupun kain pulan dibelinya seharga Rp 6.000/kg sampai Rp 20.000/kg tergantung lebar dan jenis kainnya.

Sedangkan Wagub Jateng, Mulyadi Widodo dalam sambutan pembukaan pameran mengemukakan, pengembangan aneka industri kecil termasuk tiga sektor penting dalam memberi kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jateng yang rata-rata 30 persen per tahun. Dua sektor lain yang tidak kalah penting adalah pertanian dan sektor pariwisata.

“Hasil industri kecil banyak menghasilkan devisa. Tahun 1999, nilai ekspor nonmigas sektor industri kecil mencapai Rp 1.518,9 juta dolar AS atau meningkat sekitar 9,83 persen tahun 1998 hanya 1.382,9 juta dollar AS. Nilai ekspor indsutri secara keseluruhan pada 1999 merupakan 91,21 persen,” kata Mulyadi Widodo.

Merugikan

Di sisi lain, imbauan sejumlah kedutaan asing di Indonesia agar pengusaha mereka tidak berkunjung ke Indonesia menjelang pelaksanaan SI MPR sangat merugikan pengusaha di Jateng. Sejumlah pengusaha asing akhirnya membatalkan rencana kedatangan mereka.

Ketua Gasbiindo Jateng, Hadi Pranoto di depan peserta pameran mengemukakan, kemampuan industri kecil menghasilkan devisa selayaknya memperoleh dukungan pemerintah supaya kelangsungan usaha tetap berjalan.

Menurut Ketua Kadin Jateng Soendoro, SI MPR akan menjadi semacam ancaman dan membuat semua bentuk kerja sama dagang akan meleset. Padahal informasi itu tidak benar. Soendoro justru mengingatkan pemerintah, khususnya para bupati di daerah, untuk mewaspadai praktik pengusaha asing yang merekrut tukang, ahli batik, ahli ukir setempat untuk dikirim ke negara pembeli. (who) Kompas cetak, Semarang

Berkontemporer Tanpa Batas Media

Thursday, July 5th, 2001

Seni memang tidak mengenal aturan baku. Termasuk di antaranya soal memilih media yang dianggap paling cocok sebagai sarana tempat hasrat diutak-atik hingga melahirkan keindahan. Ajang seni kebebasan buat sang seniman bertema “Pameran Kria Kontemporer Indonesia” itu digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, sejak Selasa kemarin hingga 12 Juli mendatang.

Sebenarnya, beragam media yang digunakan para perupa, bukanlah barang yang sulit dijumpai. Namun berkat seni kerajinan tangan dan perasaan yang halus, semua material tadi bisa berubah wujud menjadi seni yang penuh keindahan. Mulai dari kain batik, batu, besi, rotan, kayu balsa, kertas daur ulang, kertas singkong, hingga daun.

Tengok saja karya yang memilih batik. Oleh sang perupa, kreasi yang diberi judul “Api” itu memang dianggap mampu berbicara banyak. Meski tak jelas inti pesannya, kemarahan tersirat di balik kain batik berukuran besar yang menggambarkan sebuah kobaran api menyala, seakan siap menerkam siapa saja.

Lantas terlihat juga sebuah lingkaran besar yang terbuat dari kertas daur ulang. Tepat di atasnya, ada selembar daun yang terus berputar mirip jarum jam. Bagi si perupa, karyanya boleh jadi menganalogikan sebuah perjalanan waktu yang terus berputar, berulang, dan tak akan pernah berhenti. Judulnya “Siklus Alami”.

Kreasi kontemporer ini juga menghadirkan kreasi berbentuk kepala manusia dan tangan yang terbuat dari kertas singkong. Lagi-lagi, sang perupa tentu punya pesan dari sesuatu yang pernah berkelebat di benaknya.

Ciptaan karya seni dengan menghalalkan berbagai media memang menjadi potret kemurnian hasrat yang terpendam. Namun perpaduan seni, kebebasan, dan sang perupa, adalah karya sempurna dari keindahan itu sendiri.

Sumber : (BMI/Apriliana dan Bambang Triyono) Liputan6.com, Ambon