Archive for June, 2001

Busana Tradisional Betawi Wujud Akulturasi Budaya

Tuesday, June 26th, 2001

Busana Tradisional BetawiTampilan busana khas Betawi kaya akan nuansa warna dan ragam. Lihat saja, keanekaragaman motif batik tradisional yang kental nuansa Cina, Timur Tengah, dan Eropa. Memang, keberagaman itu terwujud dari akulturasi berbagai kebudayaan asing dan lokal. Bukti akulturasi itu bisa dilihat di Museum Tekstil di Jalan Petamburan Nomor 4 Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Menurut Kepala Seksi Edukasi Museum Tekstil Tukiran Effendi, masyarakat Betawi kerap menggunakan kain batik beraneka motif dari hasil akulturasi tersebut. Misalnya, pengaruh dari Cina, yaitu Buketan, Liong, Lokcan atau Burung Hong. Sementara motif kereta kuda atau binatang khas Eropa dengan warna biru menandai masuknya pengaruh Eropa. Sedangkan, kebaya Krancang atau terkenal disebut kebaya Encim, kebaya Enyak, baju Sadariah, dan baju Abang-None serta pakaian pengantin Betawi, mendapat pengaruh Timur Tengah.

Keunikan lain, lanjut Tukiran, warga Betawi, baik kalangan atas maupun bawah menggunakan motif yang sama. Hanya saja yang membedakan adalah pemilihan bahan batiknya. Untuk kalangan atas, umumnya terbuat dari bahan Mori halus Cap Sen. Sementara untuk kalangan bawah terbuat dari Mori kasar atau Belacu. Tak hanya itu, para pengunjung juga bisa melihat berbagai jenis alat permainan tradisional, seperti Yoyo, Ketapel, dan Gasing. Tak ketinggalan, satu perangkat alat masak dan peralatan nelayan tradisional bisa dilihat pengunjung museum.

Sumber : (ANS/Esther Mulyanie dan Soedjatmoko) Liputan6.com, Jakarta

“Batik Stretch” Itu Akhirnya Tiba Juga

Sunday, June 17th, 2001

Telah lewat delapan bulan sejak Carmanita meluncurkan koleksi “The Birth of Batik Stretch” sebagai pernyataan trend mode tahun 2001 sebelum akhirnya apa yang dimunculkan dalam trend itu diturunkan ke dalam produk yang siap untuk dilempar ke pasar.SEORANG perancang busana dituntut untuk mewujudkan gagasannya itu dalam serangkaian produk yang bisa diakses konsumen setelah ia mengeluarkan trend. Urutannya begitu, karena mode adalah industri, bukan sebuah seni instalasi yang setelah diproduksi lalu dimiliki sebagai collector item.

“Memang agak berjarak waktu dari saat saya meluncurkan trend Oktober tahun lalu. Setelah pergelaran tahun lalu saya melihat beberapa perkembangan politik yang tidak menguntungkan untuk segera memproduksi. Tetapi, lama-lama saya pikir keadaan akan selalu begini. Sebentar lagi ada Sidang Istimewa. Akhirnya saya putuskan sekarang saja,” jelas Carmanita usai pergelaran di Chantique Skaly, Pasaraya, Jakarta, Kamis lalu. Oktober tahun lalu Carmanita mengeluarkan koleksi rancangan yang menggunakan bahan-bahan bercampur serat Lycra yang memberi efek regang pada kain.

Dengan menyebut seri rancangan ini sebagai Summer Collection-adakah musim panas di Indonesia kecuali musim kemarau yang panas dan lembab?-Carmanita menggelar versi yang lebih sederhana dari koleksi trend tahunannya. Ia menyebut koleksinya ini lebih membumi dengan garis yang lebih simpel, dan tentu saja sudah dibuat dalam ukuran untuk para perempuan yang tidak bertubuh seperti peragawati.

Namun, melihat rancangan Carmanita yang terbuat dari berbagai jenis bahan tetapi semua menggunakan campuran serat elastis Lycra, tidak bisa tidak memang akan sampai pada kesimpulan baju-baju ini dibuat untuk perempuan yang tidak takut menampilkan sensualitas keperempuanannya dan tidak memiliki kelebihan timbunan lemak.

Legging yang ketat membungkus kaki dipadankan dengan blus-blus pendek yang juga memeluk tubuh dengan erat. Rok-rok panjang pun meski ketat mengikuti kontur tubuh, tidak sulit diajak melangkah karena sifat regang serat elastis tersebut. Sedangkan atasan bisa dikombinasikan dengan kardigan.

***
Yang membuat rancangan Carmanita tetap unik adalah sentuhan batik dan ragam hias yang berasal dari motif-motif batik tradisional. Meskipun menggunakan teknik batik dalam membuat ragam hias dan meminjam motif-motif batik tradisional, tetapi rancangan Carmanita terasa kontemporer karena ia menggarap penempatan dan pemilihan motif dengan selektif.

Motif kawung misalnya, hanya ditempatkan di bagian tepi blus, sementara motif mega mendung digambarkan hanya garis-garisnya dan diletakkan berserak tak beraturan. Titik dan garis yang menjadi dasar motif batik, dimanfaatkan secara harafiah pada rancangan Carmanita. Untuk menambah sentuhan kekinian, payet dan manik-manik dipakai menghiasi ragam hias tersebut.

Warna-warna “panas” seperti kuning terang, oranye, biru muda, dan hijau cerah berpadu dengan warna-warna redup seperti merah marun gelap. “Pada beberapa warna ternyata memang tidak bisa muncul dengan cerah, meskipun saya sudah mengusahakan berbagai cara,” tutur Carmanita. Akhirnya, kesan yang dihasilkan menjadi seperti menggunakan pewarna alami.

Sebelum sampai pada hasil yang seperti sekarang, Carmanita telah melakukan riset dua tahun. Riset itu terutama karena ia menggunakan teknik batik tulis dengan menggunakan lilin malam sebagai penahan warna dalam membuat ragam hias.

Sifat regang serat sintetis itu ketika dicampur dengan beragam bahan seperti sutera, katun, poliester, dan lainnya, ternyata membawa konsekuensi yang berbeda dibandingkan serat yang tidak menggunakan Lycra, di dalam penyerapan warna. Selain itu ukuran canting pun sempat menjadi kendala karena jenis bahan yang berbeda menyebabkan perbedaan ketajaman garis yang berbeda pula.

Batik di Lycra menambah kekayaan khasanah batik Indonesia yang selama ini umumnya dicanting di atas katun halus ataupun sutera. Pernah sejumlah perancang diundang untuk membuat batik di atas wol atas prakarsa produsen wol Australia, tetapi proyek ini tidak kedengaran lagi kabarnya.

Hal di atas mungkin karena Indonesia negara tropis sehingga pemakaian wol sangat terbatas, sementara motif batik sangat dikenal di Indonesia tetapi tetap memerlukan reinterpretasi agar bisa memasuki kehidupan masyarakat urban yang kontemporer. Selain itu, harga akan menjadi kendala karena wol sendiri sudah merupakan materi yang mahal. Ditambah dengan pemberian ragam hias dengan memakai teknik batik (tulis atau cap), bisa dipastikan harganya akan semakin mahal.

***
Dalam konteks ini, Carmanita memiliki keberanian untuk mewujudkan batik Lycra-nya ke dalam produk “massal”, meskipun ia menyasar pembeli dari kelompok kelas menengah atas. Setidaknya, Carmanita telah membuat batik di atas kain regang ini tidak hanya menjadi sekadar proyek percobaan, tetapi sudah diproduksi secara komersial sehingga kehadirannya benar-benar bisa dicatat dalam sejarah perjalanan batik Indonesia.

Untuk melihat apakah tawaran Carmanita ini akan disambut masyarakat, tentu harus dilihat beberapa saat lagi. Carmanita dengan rancangannya ini memang memasuki daerah produk mode yang sesungguhnya yaitu sangat terikat kebaruan yang dipengaruhi oleh waktu, selera konsumen, disertai persaingan ketat dari produk mode lainnya dari dalam dan luar negeri.

“Saya memang belum memasuki pasar kelas menengah karena dalam keadaan seperti sekarang saya melihat kita harus masuk ke pasar kelas atas, atau ke kelas bawah sekalian. Untuk pasar kelas menengah, saya melihat masih terlalu riskan untuk saya,” tuturnya.

Bila membicarakan sasaran pasar produk mode, rancangan Carmanita memiliki keunggulan dibandingkan produk dari materi sejenis asal luar negeri. Keunggulan itu pada unsur eksklusivitas desain secara keseluruhan dan intensifnya pengerjaan tangan di dalamnya, sementara produk impor sepenuhnya menggunakan mesin dan diproduksi secara massal untuk dipasarkan ke berbagai penjuru dunia.

Rasanya dengan kelebihan itu ditambah kedekatan para perancang Indonesia dengan masyarakat mode, Indonesia masih punya harapan bersaing dengan produk mode dari mancanegara ketika era perdagangan bebas benar-benar tiba. Masalahnya, siapkah para perancang Indonesia bersaing?

Sumber : (nmp) Kompas Cetak, Jakarta

Batik Betawi di Museum Tekstil

Sunday, June 17th, 2001

BATIK BETAWI DI MUSEUM TEKSTIL - Museum Tekstil di Jalan KS Tubun No 4, Jakarta Barat, akan menggelar pameran kain batik Betawi dalam rangka menyambut ulang tahun Jakarta pada 22 Juni mendatang, mulai tanggal 20 Juni hingga 4 Juli 2001. Sedangkan hingga tanggal tersebut, di Museum Tekstil dipamerkan kain-kain dari Jawa dan Bali. Di antara kain yang dipamerkan adalah kain batik dari Tulungagung (Jawa Timur), kain pagi-sore dari Banyumas, kain songket dari Bali, kain ikat ganda dari Tenganan (Bali), kain dari lasem (Jawa Tengah), kain batik dari Garut (Jawa Barat), serta kain tenun dari Pedan (Klaten, Jawa Tengah). Menurut Tukiran Effendi, Kepala Seksi Edukasi Museum Tekstil, kebanyakan kain-kain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta juga sedikit kain di Jawa Barat mendapat pengaruh dari kain-kain batik Vosrtenlanden yaitu Solo dan Yogyakarta. Hal itu bisa dilihat dari motif seperti semen dan lereng yang selalu hadir sebagai ragam hias, berbaur dengan motif-motif lain, termasuk motif yang berasal dari Cina atau Eropa. (nmp) Kompas cetak, Jakarta

Kesenian yang Menitis dari Bung Karno

Wednesday, June 6th, 2001

Guruh Soekarno PutraKesenian adalah kehidupan lain dari sisi Sukarno, Presiden pertama RI. Tak heran bila visi itu tampak nyata dari penguasaan akan seni lukis, seni patung, musik, seni wayang kulit, seni pertunjukan, membatik, hingga seni arsitektur sekali pun. Bung Karno (BK) sempat beramanat, berbagai corak kesenian itu mesti diwariskan kepada seluruh bangsa Indonesia.

Dunia seni memang amat mendarah daging pada diri “Putra Sang Fajar” ini. Buktinya, dalam keseharian, di kala senggang, BK acap menghabiskan waktu menikmati keindahan karya seni. Dalam lingkungan tempat tinggalnya, di Istana Merdeka Jakarta. BK juga membangun suasana indah itu. Misalnya saja, dengan memasang koleksi lukisan atau patung, dan seringkali menggelar pertunjukan wayang. Aksi memperkenalkan berbagai bidang seni itu pun selalu diperkenalkan kepada anak-anaknya.

Menurut putra bungsu BK, Guruh Soekarnoputra, berbagai seni tadi tak pernah alpa diperkenalkan kepada mereka. “Tak ada hari tanpa kesenian,” kata Guruh perlahan, seakan membayangkan masa kecil dia. Bahkan, dalam setiap kesempatan, BK selalu mengangkat dan menampilkan budaya local dalam acara-acara kenegaraan, sebagai budaya nasional.

Tak hanya itu kecintaan BK pada dunia seni. Sebab dia, menurut Guruh, juga mengamanatkan supaya beragam seni tadi mesti diwariskan dan dipersembahkan kepada seluruh rakyat Indonesia. “Jadi, semua barang-barang kesenian tadi akan disimpan dalam sebuah museum,” kata Guruh, optimistis.

Niat BK tampaknya bak gayung bersambut. Sebab saat ini, Yayasan Bung Karno yang dimiliki oleh putra putri BK sedang mempersiapkan realisasi amanah tadi. Misalnya dengan menginventarisasi koleksi-koleksi BK dan menyimpannya dalam Persada Bung Karno. Sedianya, Persada itu akan terdiri dari museum, perpustakaan, dan balai pengkajian penelitian pelestarian dan pengembangan ajaran-ajaran BK.

Sumber : (BMI/Esther Mulyanie dan Dwi Guntoro) Liputan6.com, Jakarta

Ketika Perupa Batik Jawa dan Aborigin Berpadu

Monday, June 4th, 2001

Batik Perpaduan yang dipamerkanKarya seni batik ternyata tak hanya didominasi Suku Jawa. Buktinya, suku Aborigin di Benua Australia memiliki karya seni serupa. Bila lukisan batik Jawa terinspirasi dari cerita pewayangan, batik Aborigin bersumber dari kidung leluhur, lingkungan dan upacara adat.

Kendati lahir dari inspirasi berbeda, perpaduan seni batik kedua suku itu mampu menghasilkan sebuah karya unik. Seniman batik Jawa Agus Ismoyo dan Aborigin Nia Flian telah membuktikan dalam sejumlah lukisan, baru-baru ini. Hasilnya, berbentuk lukisan batik tradisional berwarna coklat suram yang diekspresikan dari hasil dialog dengan spirit leluhur.

Kolabarasi kedua seniman itu, dinilai positif oleh sejumlah kalangan, khususnya pengamat batik. Di mata mereka, perpaduan itu, bukan terletak pada penguasaan kedua pelukis terhadap keragaman. Tetapi, kekuatan kedua perupa itu terletak pada kesamaan aspirasi terhadap budaya warisan leluhur mereka.

Menanggapi hal itu, baik Agus maupun Flian mengaku akan terus mengembangkan karya batik yang mereka hasilkan. Sebab, bagi mereka, tak ada larangan untuk memperluas tradisi. Alasannya, tradisi tak bersifat statis.

Sumber : (AWD/Sentot Noerachman dan Eko Purwanto) Liputan6.com, Jakarta