Telah lewat delapan bulan sejak Carmanita meluncurkan koleksi “The Birth of Batik Stretch” sebagai pernyataan trend mode tahun 2001 sebelum akhirnya apa yang dimunculkan dalam trend itu diturunkan ke dalam produk yang siap untuk dilempar ke pasar.SEORANG perancang busana dituntut untuk mewujudkan gagasannya itu dalam serangkaian produk yang bisa diakses konsumen setelah ia mengeluarkan trend. Urutannya begitu, karena mode adalah industri, bukan sebuah seni instalasi yang setelah diproduksi lalu dimiliki sebagai collector item.
“Memang agak berjarak waktu dari saat saya meluncurkan trend Oktober tahun lalu. Setelah pergelaran tahun lalu saya melihat beberapa perkembangan politik yang tidak menguntungkan untuk segera memproduksi. Tetapi, lama-lama saya pikir keadaan akan selalu begini. Sebentar lagi ada Sidang Istimewa. Akhirnya saya putuskan sekarang saja,” jelas Carmanita usai pergelaran di Chantique Skaly, Pasaraya, Jakarta, Kamis lalu. Oktober tahun lalu Carmanita mengeluarkan koleksi rancangan yang menggunakan bahan-bahan bercampur serat Lycra yang memberi efek regang pada kain.
Dengan menyebut seri rancangan ini sebagai Summer Collection-adakah musim panas di Indonesia kecuali musim kemarau yang panas dan lembab?-Carmanita menggelar versi yang lebih sederhana dari koleksi trend tahunannya. Ia menyebut koleksinya ini lebih membumi dengan garis yang lebih simpel, dan tentu saja sudah dibuat dalam ukuran untuk para perempuan yang tidak bertubuh seperti peragawati.
Namun, melihat rancangan Carmanita yang terbuat dari berbagai jenis bahan tetapi semua menggunakan campuran serat elastis Lycra, tidak bisa tidak memang akan sampai pada kesimpulan baju-baju ini dibuat untuk perempuan yang tidak takut menampilkan sensualitas keperempuanannya dan tidak memiliki kelebihan timbunan lemak.
Legging yang ketat membungkus kaki dipadankan dengan blus-blus pendek yang juga memeluk tubuh dengan erat. Rok-rok panjang pun meski ketat mengikuti kontur tubuh, tidak sulit diajak melangkah karena sifat regang serat elastis tersebut. Sedangkan atasan bisa dikombinasikan dengan kardigan.
***
Yang membuat rancangan Carmanita tetap unik adalah sentuhan batik dan ragam hias yang berasal dari motif-motif batik tradisional. Meskipun menggunakan teknik batik dalam membuat ragam hias dan meminjam motif-motif batik tradisional, tetapi rancangan Carmanita terasa kontemporer karena ia menggarap penempatan dan pemilihan motif dengan selektif.
Motif kawung misalnya, hanya ditempatkan di bagian tepi blus, sementara motif mega mendung digambarkan hanya garis-garisnya dan diletakkan berserak tak beraturan. Titik dan garis yang menjadi dasar motif batik, dimanfaatkan secara harafiah pada rancangan Carmanita. Untuk menambah sentuhan kekinian, payet dan manik-manik dipakai menghiasi ragam hias tersebut.
Warna-warna “panas” seperti kuning terang, oranye, biru muda, dan hijau cerah berpadu dengan warna-warna redup seperti merah marun gelap. “Pada beberapa warna ternyata memang tidak bisa muncul dengan cerah, meskipun saya sudah mengusahakan berbagai cara,” tutur Carmanita. Akhirnya, kesan yang dihasilkan menjadi seperti menggunakan pewarna alami.
Sebelum sampai pada hasil yang seperti sekarang, Carmanita telah melakukan riset dua tahun. Riset itu terutama karena ia menggunakan teknik batik tulis dengan menggunakan lilin malam sebagai penahan warna dalam membuat ragam hias.
Sifat regang serat sintetis itu ketika dicampur dengan beragam bahan seperti sutera, katun, poliester, dan lainnya, ternyata membawa konsekuensi yang berbeda dibandingkan serat yang tidak menggunakan Lycra, di dalam penyerapan warna. Selain itu ukuran canting pun sempat menjadi kendala karena jenis bahan yang berbeda menyebabkan perbedaan ketajaman garis yang berbeda pula.
Batik di Lycra menambah kekayaan khasanah batik Indonesia yang selama ini umumnya dicanting di atas katun halus ataupun sutera. Pernah sejumlah perancang diundang untuk membuat batik di atas wol atas prakarsa produsen wol Australia, tetapi proyek ini tidak kedengaran lagi kabarnya.
Hal di atas mungkin karena Indonesia negara tropis sehingga pemakaian wol sangat terbatas, sementara motif batik sangat dikenal di Indonesia tetapi tetap memerlukan reinterpretasi agar bisa memasuki kehidupan masyarakat urban yang kontemporer. Selain itu, harga akan menjadi kendala karena wol sendiri sudah merupakan materi yang mahal. Ditambah dengan pemberian ragam hias dengan memakai teknik batik (tulis atau cap), bisa dipastikan harganya akan semakin mahal.
***
Dalam konteks ini, Carmanita memiliki keberanian untuk mewujudkan batik Lycra-nya ke dalam produk “massal”, meskipun ia menyasar pembeli dari kelompok kelas menengah atas. Setidaknya, Carmanita telah membuat batik di atas kain regang ini tidak hanya menjadi sekadar proyek percobaan, tetapi sudah diproduksi secara komersial sehingga kehadirannya benar-benar bisa dicatat dalam sejarah perjalanan batik Indonesia.
Untuk melihat apakah tawaran Carmanita ini akan disambut masyarakat, tentu harus dilihat beberapa saat lagi. Carmanita dengan rancangannya ini memang memasuki daerah produk mode yang sesungguhnya yaitu sangat terikat kebaruan yang dipengaruhi oleh waktu, selera konsumen, disertai persaingan ketat dari produk mode lainnya dari dalam dan luar negeri.
“Saya memang belum memasuki pasar kelas menengah karena dalam keadaan seperti sekarang saya melihat kita harus masuk ke pasar kelas atas, atau ke kelas bawah sekalian. Untuk pasar kelas menengah, saya melihat masih terlalu riskan untuk saya,” tuturnya.
Bila membicarakan sasaran pasar produk mode, rancangan Carmanita memiliki keunggulan dibandingkan produk dari materi sejenis asal luar negeri. Keunggulan itu pada unsur eksklusivitas desain secara keseluruhan dan intensifnya pengerjaan tangan di dalamnya, sementara produk impor sepenuhnya menggunakan mesin dan diproduksi secara massal untuk dipasarkan ke berbagai penjuru dunia.
Rasanya dengan kelebihan itu ditambah kedekatan para perancang Indonesia dengan masyarakat mode, Indonesia masih punya harapan bersaing dengan produk mode dari mancanegara ketika era perdagangan bebas benar-benar tiba. Masalahnya, siapkah para perancang Indonesia bersaing?
Sumber : (nmp) Kompas Cetak, Jakarta