Harga Batik Terpengaruh Fluktuasi Dolar AS

Batik Khas Jawa BaratFluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berakibat ke segala sektor. Para pengusaha batik di Jawa Barat juga terkena imbas, sehingga terpaksa menaikkan harga jual batik hingga 50 persen. Pasalnya, sebagian bahan dasar untuk membuat batik masih diimpor. Hal tersebut dikemukakan seorang perajin asal Indramayu Uut di Bandung, Jabar, baru-baru ini.

Menurut Uut, kenaikan harga batik jelas-jelas mempengaruhi omzet penjualan. Bila Biasanya dalam sepekan mampu menjual batik senilai Rp 5 juta, kini ia hanya mampu meraih omzet Rp 2 juta. Kondisi ini juga dialami pengusaha batik di sejumlah daerah [baca: Jumlah Perajin Batik Semakin Berkurang].

Menanggapi hal itu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika meminta pengusaha batik memanfaatkan kenaikan mata uang dollar terhadap rupiah. Dengan begitu, kata Ardika, pengusaha batik dapat meningkatkan ekspor ke negara-negara yang selama ini menjadi konsumen batik.

Para pengusaha dan perajin batik di Jabar, seperti dari Kabupaten Garut, Indramayu, Tasikmalaya, Cirebon, dan Bandung, sebenarnya telah berupaya mengatasi masalah tersebut. Satu upaya di antaranya adalah memanfaatkan bahan pembuat batik dari dalam negeri, yakni kain sutera alam.

Sumber : (ORS/Patria Hidayat) Liputan6.com, Bandung

Leave a Reply