Batik “Sudagaran” Lahir karena Larangan

Batik bercorak sudagaran, yang marak di sekitar pertengahan abad ke-19 di wilayah Surakarta dan Yogyakarta, muncul karena Keraton Kasunanan di Solo maupun Keraton Kasultanan di Yogyakarta saat itu amat ketat memberlakukan larangan bagi masyarakat awam untuk membuat, apalagi mengenakan batik dengan motif tertentu yang diklaim sebagai batik yang mengandung kekuatan magi.

Demikian paparan pengusaha batik H Santosa dari Batik Danar Hadi Solo saat menerima rombongan pencinta kain adat Indonesia yang tergabung dalam Wastra Prema Jakarta, di Ndalem Wuryaningratan Solo, Rabu (9/5). Rombongan Wastra Prema yang dipimpin Ny Adiyati Arifin Siregar ini diikuti sekitar 60 orang, antara lain Ny Harmoko, Ny Ali Said, dan Ny Satuti Yamin.

KG Ratu Alit dari Keraton Kasunanan Surakarta dalam kesempatan itu mengakui, pihak keraton pernah memberlakukan kain batik larangan dengan motif tertentu, seperti Parang Barong, Parang Rusak termasuk Udan Liris. Larangan itu berlaku sampai hari ini. Sedangkan Keraton Kasultanan Yogyakarta juga mengeluarkan larangan untuk motif semen seperti Semen Ageng dan ragam hias Peksi Huk.

Santosa Danar Hadi menerangkan, batik Sudagaran merupakan jarik (kain batik) yang mengambil corak khas yang menjadi busana kaum saudagar (pengusaha). Kalangan saudagar di Jawa saat itu membuat kreasi batik yang berbeda dari motif baku pada batik yang ada.

Reaksi

Batik Sudagaran merupakan reaksi atas klaim kaum bangsawan yang melarang kaum awam menggunakan motif larangan. “Motif larangan dari kalangan keraton justru merangsang seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut, setelah digubah di sana-sini, dapat dipakai masyarakat umum,” tuturnya.

Desain batik Sudagaran umumnya terkesan “berani” dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua. Batik Sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik Sudagaran menggubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.

“Sesuai dengan selera saudagar batik yang dinamis, yang selalu ingin tampil beda dan ingin menjadi pusat perhatian, seniman batik terpacu untuk membuat motif yang berbeda dari aslinya, selalu lebih halus dan rumit sehingga mencuri perhatian,” paparnya.

Sumber : (asa) Kompas Cetak, Solo

Leave a Reply