Archive for May, 2001

Harga Batik Terpengaruh Fluktuasi Dolar AS

Tuesday, May 15th, 2001

Batik Khas Jawa BaratFluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berakibat ke segala sektor. Para pengusaha batik di Jawa Barat juga terkena imbas, sehingga terpaksa menaikkan harga jual batik hingga 50 persen. Pasalnya, sebagian bahan dasar untuk membuat batik masih diimpor. Hal tersebut dikemukakan seorang perajin asal Indramayu Uut di Bandung, Jabar, baru-baru ini.

Menurut Uut, kenaikan harga batik jelas-jelas mempengaruhi omzet penjualan. Bila Biasanya dalam sepekan mampu menjual batik senilai Rp 5 juta, kini ia hanya mampu meraih omzet Rp 2 juta. Kondisi ini juga dialami pengusaha batik di sejumlah daerah [baca: Jumlah Perajin Batik Semakin Berkurang].

Menanggapi hal itu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika meminta pengusaha batik memanfaatkan kenaikan mata uang dollar terhadap rupiah. Dengan begitu, kata Ardika, pengusaha batik dapat meningkatkan ekspor ke negara-negara yang selama ini menjadi konsumen batik.

Para pengusaha dan perajin batik di Jabar, seperti dari Kabupaten Garut, Indramayu, Tasikmalaya, Cirebon, dan Bandung, sebenarnya telah berupaya mengatasi masalah tersebut. Satu upaya di antaranya adalah memanfaatkan bahan pembuat batik dari dalam negeri, yakni kain sutera alam.

Sumber : (ORS/Patria Hidayat) Liputan6.com, Bandung

Batik “Sudagaran” Lahir karena Larangan

Friday, May 11th, 2001

Batik bercorak sudagaran, yang marak di sekitar pertengahan abad ke-19 di wilayah Surakarta dan Yogyakarta, muncul karena Keraton Kasunanan di Solo maupun Keraton Kasultanan di Yogyakarta saat itu amat ketat memberlakukan larangan bagi masyarakat awam untuk membuat, apalagi mengenakan batik dengan motif tertentu yang diklaim sebagai batik yang mengandung kekuatan magi.

Demikian paparan pengusaha batik H Santosa dari Batik Danar Hadi Solo saat menerima rombongan pencinta kain adat Indonesia yang tergabung dalam Wastra Prema Jakarta, di Ndalem Wuryaningratan Solo, Rabu (9/5). Rombongan Wastra Prema yang dipimpin Ny Adiyati Arifin Siregar ini diikuti sekitar 60 orang, antara lain Ny Harmoko, Ny Ali Said, dan Ny Satuti Yamin.

KG Ratu Alit dari Keraton Kasunanan Surakarta dalam kesempatan itu mengakui, pihak keraton pernah memberlakukan kain batik larangan dengan motif tertentu, seperti Parang Barong, Parang Rusak termasuk Udan Liris. Larangan itu berlaku sampai hari ini. Sedangkan Keraton Kasultanan Yogyakarta juga mengeluarkan larangan untuk motif semen seperti Semen Ageng dan ragam hias Peksi Huk.

Santosa Danar Hadi menerangkan, batik Sudagaran merupakan jarik (kain batik) yang mengambil corak khas yang menjadi busana kaum saudagar (pengusaha). Kalangan saudagar di Jawa saat itu membuat kreasi batik yang berbeda dari motif baku pada batik yang ada.

Reaksi

Batik Sudagaran merupakan reaksi atas klaim kaum bangsawan yang melarang kaum awam menggunakan motif larangan. “Motif larangan dari kalangan keraton justru merangsang seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut, setelah digubah di sana-sini, dapat dipakai masyarakat umum,” tuturnya.

Desain batik Sudagaran umumnya terkesan “berani” dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua. Batik Sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik Sudagaran menggubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.

“Sesuai dengan selera saudagar batik yang dinamis, yang selalu ingin tampil beda dan ingin menjadi pusat perhatian, seniman batik terpacu untuk membuat motif yang berbeda dari aslinya, selalu lebih halus dan rumit sehingga mencuri perhatian,” paparnya.

Sumber : (asa) Kompas Cetak, Solo

Pekalongan Maju, Yogyakarta Lesu

Sunday, May 6th, 2001

SALAH satu bukti adanya sinyal yang berbeda tentang situasi ekonomi terlihat dari produksi dan perdagangan batik. Di Pekalongan krisis ekonomi tidak begitu mempengaruhi usaha kerajinan batik di kota itu. Tetapi, sebaliknya di Yogyakarta (yang bersama Solo) selama ini dianggap sebagai pusat produksi dan perdagangan batik, malah lesu.

Turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tidak begitu berpengaruh terhadap kemajuan usaha kerajinan batik di Pekalongan, walaupun juga diakui terjadinya kenaikan harga bahan baku yang seiring dengan meningkatnya permintaan pesanan dari banyak kalangan terhadap produk kerajinan batik Pekalongan.

Sedangkan dari Yogyakarta dilaporkan, banyak pengusaha batik dan kerajinan sebenarnya mengalami masa paceklik, terutama mereka yang mengandalkan pasar pada kunjungan wisatawan mancanegara.

Di Pekalongan, beberapa bahan baku yang naik harganya itu meliputi kain santung, kain prima, dan bahan jadi sutera. Kenaikannya berkisar Rp 150-Rp 1.500 per yard kain. Sedangkan di Yogyakarta, pasar batik dan kerajinan terus mengalami penurunan, sehingga mereka yang selama ini mengandalkan pasar dalam negeri termasuk kunjungan wisatawan mancanegara (seperti sejumlah pengusaha batik di pusat batik Kampung Prawirotaman), banyak yang gulung tikar, atau pindah usaha ke usaha perhotelan.

Direktur Pasar Grosir Sentono, Pekalongan, Hasanuddin menjelaskan, berkat promosi yang gencar dilakukan perajin, termasuk mengikuti pameran batik di Jakarta belum lama ini, diakui dampaknya cukup besar. Permintaan produk-produk batik hasil kerajinan Pekalongan banyak mengalir. “Tetapi seiring dengan kenaikan itu, naiknya permintaan juga dibarengi dengan kenaikan harga-harga bahan baku,” ujar Hasanuddin.

Harga bahan baku yang naik itu, meliputi kain santung, kain prima dan bahan jadi sutera. Dari sejumlah bahan baku itu, kenaikan cukup tinggi itu pada kain santung. Kain santung kini mencapai Rp 4.000 per yard, sedangkan kain prima sudah mendekati Rp 3.500 per yard dan kain jadi sutera juga mengalami kenaikan harga yang beragam.

“Kalau pakaian jadi dari sutera untuk kemeja, misalnya, kini dijual Rp 85.000 hingga Rp 150.000 per satuan. Dengan harga ini ada kenaikan antara Rp 5.000-Rp 10.000. Untuk pakaian perempuan, baju setelah dengan selendang berkisar Rp 150.000 hingga Rp 250.000,” ujarnya.

Damin, perajin lain di Kajen, Pekalongan, mengatakan, berhubung belanja bahan mengalami kenaikan maka harga jual pun ikut naik. Malahan, karyawan juga menuntut adanya kenaikan upah setelah tahu banyak produk begitu laris di pasaran.

Dia mengatakan, kenaikan bahan itu sebenarnya tidak terlalu berat karena permintaan produk kerajinan juga naik. “Permintaan pakaian daster (baju tidur) ke Jakarta yang biasanya saya hanya mengirim empat kodi per minggu kini tambah menjadi enam kodi. Kemudian, order baju batik juga ada peningkatan dengan pesanan 7.500 biji.”

Perajin lain, Mahlul Akbar mengemukakan, perajin juga masih banyak menerima limpahan dari panen kali ini. Musim panen ini setidaknya bisa menjual hasil kerajinan. Rata-rata pedagang di pasar grosir bisa menjual pakaian batik empat-enam potong per hari.

Penurunan di Yogyakarta
“Terus-terang, saya baru saja mengalami penurunan omzet paling tidak 15 persen per bulan. Kalau saya tidak mengandalkan diri dengan karya-karya saya sebagai desainer, wah enggak ngerti lagi bagaimana nasib saya yang harus menanggung ratusan karyawan,” ujar desainer beken dan pengusaha batik dan berbagai kerajinan Ardiyanto Pranata kepada Kompas.

Selain mengandalkan, pasar pada desain-desain pakaiannya, Ardiyanto mengaku, pasar terbesarnya sebenarnya bukan pasar lokal. “Saya mengandalkan diri pada garmen. Ini sudah agak lama, dan saya punya pasar Amerika. Makanya, meskipun nilai rupiah terus merosot, untuk komiditas garmen, justru menguntungkan,” kata Ardiyanto yang mulai melayani pasar baru Jepang via Bali.

Menurut Ardiyanto, berbagai corak garmen-dan bukan batik-kini tengah nge-trend di Bali, atas permintaan wisatawan Jepang. “Banyak turis Jepang yang menyatakan kawin di negeri mereka itu biayanya mahal, maka mereka membuat wedding ceremony acara perkawinan di Bali dengan harga lebih murah, lengkap dengan bajunya,” ujar Ardiyanto.

Menurut Ardiyanto, bisnis batik dan garmen yang mengandalkan pasar wisatawan, harus mempunyai ciri khas, yaitu high fashion atau secara khusus memiliki jaringan pemasaran langsung ke negara lain. Tanpa itu, bisnis batik, garmen, maupun kerajinan akan mengalami kesulitan.

ATBM
Sementara itu industri lain di Pekalongan seperti ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) juga tak mengalami kelesuan akibat naiknya harga dollar. Menurut perajin ATBM di Kota Pekalongan, Umi, pemasaran produk-produk ATBM masih tetap selancar minggu sebelumnya. Bahkan, para pemesan yang berdatangan dari luar kota seperti dari Jakarta, Bandung, dan Ciamis, juga tetap memesan dalam volume yang sama yaitu dua kodi.

“Pendapatan kami tetap sama, Rp 3 juta per hari. Apa mungkin karena sekarang masih musim haji yah, sehingga masih banyak orang yang punya uang. Saya tidak tahu apakah kalau musim haji sudah habis, pendapatan kami masih tetap sama?” tanya Umi.

Sementara, pembeli eceran pun tetap berdatangan. Baik yang memesan langsung ke rumahnya maupun yang datang ke Pasar Grosir Sentono.

Sumber : (who/vin/hrd) Kompas Cetak

Batik “Gajah Uling”, Khas Banyuwangi

Friday, May 4th, 2001

SELAMA ini, orang mengidentikkan batik dengan Kota Solo dan Pekalongan di Jawa Tengah, maupun Kota Yogyakarta. Walaupun, usaha batik di Pulau Jawa, sebenarnya tak hanya berkisar di situ-situ saja.

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, adalah salah satu wilayah produsen batik, yang jarang ditengok orang. Padahal, kekhasan batik Banyuwangi dengan ciri gajah uling-nya, tak dapat dikesampingkan begitu saja.

Gajah uling memang bentuk dasar batik Banyuwangi. Pada kain batik produksi kota ini, selalu ada gambar gajah uling. Dari asal katanya, kata itu merupakan gabungan kata dari gajah, dan uling, yaitu sejenis ular yang hidup di air (semacam belut).

Ciri itu berbentuk seperti tanda tanya, yang secara filosofis merupakan bentuk belalai gajah dan sekaligus bentuk
uling. Di samping unsur utama itu, karakter batik tersebut juga dikelilingi sejumlah atribut lain. Di antaranya, kupu-kupu, suluran (semacam tumbuhan laut), dan manggar (bunga pinang atau bunga kelapa).

“Itu konsep dasar gajah uling. Kalau ada batik dengan unsur-unsur itu, dan latar belakangnya putih, berarti itu batik khas Banyuwangi,” kata Pemimpin Kelompok Pengrajin Batik “Sayu Wiwit”, Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi, Soedjojo Dulhadji.

Dari arti katanya, gajah yang merupakan hewan bertubuh besar, berarti mahabesar. Sedangkan uling berarti eling, atau ingat. “Jadi, berdasar telaahan saya pribadi, gajah uling ini mengajak kita untuk selalu ingat kepada yang mahabesar, kepada Tuhan,” katanya.

Toh, sampai sekarang belum ada kesepakatan final mengenai dasar filosofi gajah uling. Sehingga, masing-masing pengusaha batik memiliki keyakinan sendiri-sendiri tentang keberadaan trade mark batik Banyuwangi ini.

Soedjojo, bisa dikelompokkan sebagai penganut aliran konvensional yang masih setia pada pakem gajah uling. Tak heran, kain batik produksi Sayu Wiwit, selain menampakkan wajah gajah uling dengan kentara, juga banyak yang berlatar belakang putih. Pasalnya, ia berpendapat batik khas Banyuwangi memang seharusnya berwarna dasar putih.

Mempekerjakan 25-30 tenaga kerja, Sayu Wiwit selama ini melayani pasaran batik di Kota Banyuwangi dan sekitarnya. Pasar andalannya, baju seragam siswa dan karyawan di lingkungan Banyuwangi, yang digerakkan atas rekomendasi Bupati Banyuwangi.

***

Lain halnya dengan Suyadi, pemilik Sanggar Batik Virdes di Desa Simbar, Kecamatan Cluring. Bagi Suyadi, pakem gajah uling bisa dikembangkan konsepnya dengan sedemikian rupa, mengikuti selera pasar. “Prinsip saya, pembeli adalah bos. Sehingga bagaimana kata konsumen, saya akan ikuti. Yang penting bentuk gajah uling tidak ditinggalkan, masih tetap ada,” jelasnya.

Tak heran, corak batik Virdes terlihat lebih dinamis, karena lebih berani mengacak pakem gajah uling. Akibatnya, wajah trade mark khas Banyuwangi itu terselip di antara keramaian warna dan gambar lainnya.

Suyadi tak terlalu pusing dengan omzet produksi batik yang banyak dari segi kuantitatif. Untuk setiap corak baru yang dibuatnya-misalnya corak baru batik sutra-ia hanya membuat sepanjang enam meter saja, sebagai sampel.

Sampel itu kemudian dipajang di galeri mininya di Desa Simbar, atau dipamerkan di stan-stan pameran. Biasanya, tak lama setelah motif baru itu dipasarkan, sudah ada pembeli yang memesan, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak, misalnya mencapai 100 lebih.

“Sesudah ada pesanan dari konsumen itulah, saya memproduksi batik motif itu sesuai jumlah yang dipesan,” katanya. Dengan corak baru yang sering berganti dan jenis kain yang juga disesuaikan keinginan pembeli, ia berani mematok harga tinggi untuk batik produksinya.

Harga batik tulis dan batik cap di Virdes, berkisar antara Rp 14.000 per meter, sampai Rp 1 juta per meter. Harga itu bisa dinilai wajar, karena konsumen langganan batik Virdes adalah kalangan pejabat, pengusaha, dan pelanggan mancanegara.

Sejumlah pasar yang telah dirambahnya, antara lain Palembang, Jambi, sejumlah kota di Kalimantan, dan hampir semua kota di Jawa Timur. Selain itu, Suyadi juga sering memasok batik gajah uling ke Italia, Perancis, Inggris, dan Australia.

Sumber : (adp) Kompas Cetak, Jakarta