Archive for April, 2001

Warga Surabaya Lebih Senang Batik Konservatif

Saturday, April 21st, 2001

SELERA warga Surabaya soal motif batik, tertinggal tiga bulan. Demikian dikeluhkan Anita Yuliantin, pemilik gerai pemasok kain tradisional Shinta’s, saat berpameran di Tunjungan Plasa II, Jumat (20/4). Selain Shinta’s, juga ikut berpameran beberapa pembatik lain seperti dari Yogyakarta, Madura, dan Tuban.

Jika konsumen Bandung sudah memborong satu motif terbaru, warga Surabaya masih malu-malu. Lalu, setelah mereka tertarik, pabrik kain yang memproduksi sudah tidak mengeluarkan motif itu lagi. “Sudah beberapa kali hal ini terjadi. Sewaktu di Jakarta dan Bandung musim batik sutera pelangi, di sini sama sekali tidak laku. Tetapi ketika Jakarta dan Bandung sudah ganti musim motif Malaysia, Surabaya baru tertarik motif pelangi. Kami yang supplier kesulitan,” kata Anita.

Tidak hanya motif dan warna batik yang berbeda. Selera kain pun warga Surabaya juga berbeda dengan kota-kota lainnya. Warga Surabaya lebih senang kain sutera asli. Mereka masih sulit menerima sutera sintesis atau pemasangan motif pada kain yang berbeda dengan biasanya. Misalnya, motif Sumbawa yang biasa menggunakan kain tenun keras dibuat di atas kain sutera bercampur linen.

Anita mengakui, mungkin karena kultur, kebiasaan dan selera Surabaya yang berbeda dengan Bandung dan Jakarta, yang membuat peralihan motif berjalan agak lambat di Surabaya. “Seperti pengantin di Bandung dalam satu hari harus berganti pakaian tujuh kali, sedangkan di Surabaya tidak ada kultur seperti itu. Akibatnya, warga Surabaya tidak terlalu banyak mengoleksi batik,” katanya.

Apalagi, selera warga Surabaya lebih cenderung pada warna-warna kalem dengan motif konvensional. Sedangkan motif-motif terbaru lebih banyak memakai warna yang kuat dan perpaduan warna yang berani. “Seperti motif Malaysia ini yang banyak didominasi warna nila dipadu dengan biru. Bagi warga Surabaya warna seperti ini bukan warna batik. Jadinya mereka tidak percaya diri untuk memakai batik dengan warna cerah ini. Anehnya, batik-batik seperti ini yang memborong pertama adalah perempuan matang. Mereka antusias ketika melihat batik dengan warna ini. Setelah mereka pakai, baru konsumen lain berani membeli,” ujarnya.

Melihat selera Surabaya yang tidak berjalan bareng dengan selera Jakarta dan Bandung, Anita mengaku harus tetap menyediakan batik-batik konservatif. “Biar bagaimanapun warga Surabaya tetap menjadi target penjualan yang utama. Dan mereka pun cukup antusias pada batik. Buktinya, penjualan kami cukup baik,” kata Anita.

Sumber : (arn) Kompas Cetak, Surabaya