Dari Baju Encim hingga “Sutera Kecewa”
BUKAN orang Pekalongan namanya, kalau mentok kehabisan inovasi varian kerajinan batik dan tekstil. Perubahan suasana kehidupan politik di Tanah Air belakangan ini, langsung disambar pembatik tradisional di Pekalongan. Kalau di bidang kebudayaan para warga negara keturunan Cina sudah bisa bebas mengekspresikan budaya mereka, maka di bidang bisnis para perajin pun mulai menggarap pembuatan baju encim (panggilan untuk wanita Cina yang telah bersuami). Dan, tanpa dinyana, masyarakat pun menyambutnya antusias.
Menurut Rusmiati, baju encim itu mulai berkibar bermula dari pesanan bapak angkat yang minta dibuatkan seperangkat kain bermotif. Perajin antusias memenuhi pesanan itu. Tidak tahunya, kain motif itu dipakai beberapa artis di Jakarta untuk tampil di layar kaca.
“Jadilah kami ini mencoba membuat baju encim dengan mutu sedang dan harga murah. Ketika dipajang di pasar grosir, eh, tak tahunya laris juga,” katanya seraya menambahkan, perajin tak menipu konsumen, pasalnya kualitas bahan tetap terjaga meskipun harga murah jauh di bawah harga baju encim yang dipakai artis.
Baju encim pesanan artis itu berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp 6 juta, rata-rata terbuat dari sutera dan kain batik tulis. Tingginya permintaan masyarakat yang menyenangi baju encim ini ditangkap perajin batik dengan menyediakan baju yang berkualitas, namun murah.
Kaum ibu dan perempuan bebas memilih baju encim lengkap di Pekalongan, murah serta banyak pilihan. Baju sama, kecuali kualitas agak berbeda. Bahannya bukan dari kain sutera melainkan kain batik sogan, paling murah Rp 110.000 hingga Rp 250.000 per set.
Satu set baju encim terdiri dari kerudung, kain sarung, dan baju encim yang umumnya berwarna putih berhias motif bordir. Kebanyakan baju encim yang tersedia masih berupa bahan. Kain belum dijahit, kecuali kerudungnya siap dipakai. Apabila pembeli menginginkan baju siap pakai, bisa memilih dengan menambah harga antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per set.
KREASI lain yang tak kalah laris, yakni tenun ikat akar cendana yang dikembangkan sejak sebulan terakhir ini. Alat tenun bukan mesin (ATBM) yang sempat menganggur beberapa tahun lalu, kini mulai beroperasi lagi, terutama di sentra kerajinan tenun Medono, Pekalongan tengah.
Akar cendana yang berbau wangi dan tahan lama itu kebanyakan bahannya dibeli di Bandung. Perajin mengubah menjadi pelengkap karpet berbagai macam dan ukuran. Mulai karpet kecil untuk alas shalat, karpet meja hingga karpet lantai besar. Bahan lain dari akar dibuat hiasan korden, hiasan dinding kamar tidur atau lemari pakaian.
“Bau wangi akar cendana kalau dirawat, alami dan tahan lama. Kalau baunya berkurang bisa diperciki air sedikit, wanginya muncul lagi,” ujar Endang, penjaga stan yang menjual aneka kain tenun.
Mulai diliriknya akar cendana penambah bahan pelengkap kerajinan tenun ikat, merupakan awal kebangkitan kembali tenun ikat. Perajin tampak sangat antusias menekuni pertenunan dan hal ini memunculkan hasil yang juga laris di pasaran.
Kain tenun ikat itu telah dibentuk berbagai varian, seperti tas wanita, tas belanja, topi maupun berbagai ragam aksesori peralatan keperluan rumah tangga atau perkantoran.
Kerajinan akar cendana untuk penghias ruangan, lemari maupun kamar tidur dijual bervariasi pula. Mulai harga Rp 9.000 hingga ukuran besar mencapai Rp 20.000; tas wisata dan belanja kecil seharga Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per buah.
Sejumlah perajin di Medono mengemukakan, lima tahun terakhir sesungguhnya ATBM sudah diistirahatkan. Perannya dikalahkan oleh produksi massal kain batik printing maupun cap. Tenggelamnya kain tenun seiring dengan berubahnya selera masyarakat yang lebih menggemari motif yang bersifat massal dan murah.
“Begitu ada inovasi untuk mengubah pola penggunaan kain tenun telah menghidupkan kembali alat tenun tradisional. Ini semakin meneguhkan bahwa alat tenun yang dulu disebut kuno itu masih memiliki gereget untuk menghidupi perajin,” kata Darimin, perajin setempat.
***
PERAJIN batik tradisional di Pekalongan tidak melulu mengerjakan batik tradisional. Di antara ribuan perajin, terselip beberapa perajin yang menekuni batik sutera dengan segala kemampuan dan keahlian merancang batik sutera yang konon sangat digemari di belantara Nusantara dan luar negeri.
Masih membekas kebiasaan keluarga mantan Presiden Soeharto yang selalu mengenakan pakaian batik setiap kali merayakan hari besar atau hari ulang tahun anggota keluarganya. Dari sejumlah pakaian batik itu kebanyakan bahan sutera, di antaranya pesanan dari perajin di Pekalongan.
Kini, perajin tradisional yang lain juga mulai menggarap kembali baju batik “sutera kecewa”. Disebut sutera kecewa karena bahannya bukan sutera asli melainkan kain batik biasa yang lebih halus dan mengkilat. Harganya pun lebih murah, berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 25.000 per potong.
Larisnya baju batik sutera, tidak lain karena jelinya perajin menangkap hasrat masyarakat, utamanya petani di pedesaan yang berkeinginan mengenakan baju batik dengan motif maupun bahan sehalus sutera.
Kalau baju sutera asli harganya mencapai jutaan rupiah, tentunya perajin harus menyiasati bahan untuk memenuhi selera mereka. Dengan harga murah, terciptalah baju batik “sutera kecewa” (tiruan).
Antusiasme perajin menggarap segmen batik “sutera kecewa” ini, tidak lain seiring dengan masa panen padi yang mulai berlangsung sejak Maret, dan akan berlangsung hingga tiga bulan ke depan. Petani yang panennya berhasil biasanya mempunyai dana lebih untuk menambah koleksi baju batik.
Baju encim, karpet cendana dan “sutera kecewa” merupakan produk perajin batik tradisional, yang mampu menggerakkan bisnis kerajinan batik yang sempat terpuruk dua tahun terakhir. Perajin tradisional tidak muluk-muluk mengejar target. Modal kecil yang tersedia sudah mampu memacu gairah usaha apabila perputaran berlangsung cepat.
“Kita membuat baju dari kain dua meter, bisa langsung dijual dan hasilnya untuk membeli kain empat meter. Dari kain itu bisa dibuat dua baju yang langsung dijual guna membeli bahan yang cukup untuk membikin empat baju lagi. Modal cepat kembali untuk usaha berikutnya,” tutur perajin.
Sumber : (who) Kompas Cetak, Jakarta