Pasar Grosir Pekalongan Perbaiki Tata Niaga Batik
Omzet transaksi batik dan konveksi di tiga pasar grosir di Pekalongan (Jateng) mencapai Rp 100 juta lebih per hari. Transaksi bernilai jutaan rupiah itu terjadi pada hari-hari biasa dengan asumsi omzet sebanyak 200 outlet (kios) minimal sebesar Rp 500.000 per unit. Padahal, ada kios yang mampu meraih keuntungan sampai Rp 1 juta per hari.
Demikian Direktur Pasar Grosir Tekstil dan Batik Pekalongan, Hasanuddin didampingi wakilnya, Nadirin, Jumat (9/3) lalu, di Pekalongan. Hal itu dikemukakan mereka sehubungan dengan adanya ketiga pasar grosir itu, yang telah membubarkan dominasi perdagangan batik dan tekstil perajin dari pedagang di luar Pekalongan yang selama ini hanya dikuasai kelompok bermodal saja.
Pasar grosir yang menjadi pusat bisnis perdagangan ba-tik dan tekstil di Pekalongan itu meliputi grosir Sentono, Baros dan Pusat Kerajinan Medono.
Dalam jangka enam bulan, jumlah perajin yang berpartisipasi terus bertambah dari semula hanya diikuti 100 perajin dan pengusaha lokal kini sudah melonjak lebih dari 156 pengusaha golongan menengah ke bawah.
Keajaiban batik
Hasanuddin menjelaskan, kebangkitan kerajinan batik dan tekstil yang kini mulai dirasakan masyarakat Pekalongan menjadi keajaiban sen-diri. Pasalnya, selama dua tahun hampir semua industri kecil printing, tekstil, dan kerajinan batik mengalami kelesuan. Banyak perajin yang gulung tikar dan ratusan pekerja batik dirumahkan.
Kebangkrutan yang dialami perajin itu, kata Hasanuddin, juga disebabkan gagalnya upaya pemerintah setempat meyakinkan kalangan industri tekstil untuk menjadi bapak angkat bagi ribuan perajin. Saat itu, harga semua bahan baku melonjak sedangkan ekonomi rakyat terpuruk.
Dia menyatakan, pangsa pasar perajin lokal sesungguhnya 60 persen ditujukan membantu petani di pedesaan memenuhi kebutuhan sandang yang murah. Perajin terpaksa gigit jari akibat komoditas pertanian dalam dua tahun belakangan ini juga hancur. Banyak petani bahkan terjerat kredit macet KUT.
“Menghadapi situasi ekonomi yang tidak pasti itu, perajin batik dan tekstil ikut terpuruk. Upaya untuk menjual barang ke kota lain juga tak banyak menolong, karena pembayarannya sering kali macet karena barangnya tidak segera laku di pasaran,” kata Hasanuddin.
Hasanuddin menyebutkan, ketika pasar grosir dibuka pada Juli 2000 lalu banyak perajin yang ragu-ragu ikut ambil bagian dalam bisnis eceran ini. Terlebih, selama ini kalangan perajin batik dan tekstil di Pekalongan banyak yang mengirim barangnya di Pasar Tanah Abang, Jakarta dan Pasar Klewer, Surakarta.
Dalam perjalanannya, bisnis grosir ini justru menggembirakan setelah omzet rata-rata pengusaha yang membuka kios di kawasan ini semakin hari bertambah naik. Rata-rata awalnya masih berkisar Rp 100.000 per hari. “Kemudian perlahan melonjak menjadi Rp 400.000 hingga Rp 1,5 juta per hari. Bahkan harga sewa kios yang semula masih Rp 2,5 juta per dua tahun sudah ada pedagang yang berani menyewanya Rp 10 juta/dua tahun sewa,” ujarnya.
Sumber : (who) Kompas Cetak, Pekalongan