Batik Tradisional Pekalongan Mulai Bangkit Kembali

Setelah dua tahun dilanda kelesuan, usaha perajin dan pengusaha batik di Pekalongan (Jateng) mulai bangkit. Tak kurang 400 unit usaha perajin batik, dari 790 unit pengusaha batik yang sebelumnya sempat menghentikan usahanya, kini sudah mulai berproduksi kembali. Rata-rata perajin batik mampu memproduksi 5 hingga 10 kodi batik per hari.Demikian pengakuan sejumlah perajin batik di Pekalongan yang dihubungi, Selasa (6/3). Mereka juga menjelaskan, bahwa upaya mengekspor berbagai jenis pakaian dan produk batik asal Pekalongan ke Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam juga sudah tiga bulan berlangsung.

“Ekspor pakaian maupun produk kerajinan batik sayangnya belum dilakukan langsung produsen batik di Pekalongan. Barang keperluan ekspor masih dikirim ke Jakarta, dan pengiriman barang ekspor ditangani pengusaha di Jakarta,” ujar Somadi, perajin batik di Kajen, Pekalongan.

Kebangkitan usaha kerajinan batik di Pekalongan itu juga dibenarkan Ketua Persatuan Pengusaha Tekstil di Pekalongan, Mahlul Akbar. Menurut Mahlul Akbar, kebangkitan usaha batiklah yang membuat pengusaha maupun perajin dari sentra kerajinan batik terbesar di Jateng ini banyak yang mampu berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2001.

“Indikator bangkitnya usaha batik bisa diketahui dari jumlah jemaah calon haji di Pekalongan yang mencapai 900 orang, padahal tahun lalu masih berkisar 300 orang saja,” kata Mahlul Akbar yang juga Ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Pekalongan.

Beberapa kecamatan sentra batik yang secara bertahap mulai berproduksi kembali meliputi Buaran, Tirto, Wirodesa, Kedungwuni dan sebagian wilayah Pekalongan Timur. Kebangkitan usaha kerajinan batik tidak hanya dinikmati perajin saja, melainkan juga pengusaha printing ikut ambil bagian. Mereka memasok kebutuhan kain mori yang makin hari diperlukan para perajin batik.

Menurut Somadi, ketika masih krisis ratusan perajin maupun pengusaha printing mengurangi karyawan dan jam produksinya. Untuk jam produksi yang biasanya rata-rata 10 jam sempat dikurangi menjadi lima jam. Jumlah karyawan yang terpaksa dirumahkan cukup besar mencapai lebih dari 700 orang. Setiap perajin mengistirahatkan antara 5 hingga 8 karyawannya.

“Kini hampir semua karyawan yang sempat menganggur di rumah sudah dipanggil lagi untuk bekerja. Saya sendiri terpaksa menambah karyawan menjadi 10 orang dari semula hanya 7 orang,” ujar Somadi yang banyak memproduksi pakaian jadi untuk dikirim ke Surakarta dan Bali.

Harga stabil

Perajin lain, Mohammad Sobri di Poncol (Pekalongan) mengatakan, setiap hari mampu memproduksi dua kodi berbagai jenis barang kerajinan batik. Kebangkitan usaha batik itu tidak lain didukung stabilnya harga-harga bahan baku seperti kain mori dan benang. Kain mori sudah setahun terakhir ini harganya stabil sehingga memungkinkan perajin memperhitungkan kembali selisih biaya produksi dengan keuntungan dari penjualan.

Kain mori per meter harganya berkisar Rp 3.400 hingga Rp 6.500, tergantung kualitasnya. Untuk pembelian dalam partai besar, pedagang maupun produsen kain yang juga kebanyakan pengusaha printing setempat berani memberi harga lebih rendah dibanding harga eceren.

Lebih lanjut, Mahlul Akbar menyatakan, meskipun usaha kerajinan telah bangkit setahun lalu namun membaiknya dunia usaha kerajinan batik masih belum mampu meyakinkan kalangan perbankan setempat. Banyak perajin yang membutuhkan modal usaha guna mendukung kelancaran usaha, seringkali ditolak kalau mengajukan kredit ke bank.

“Dalam banyak pertemuan, rata-rata perajin di sini rata-rata membutuhkan modal antara Rp 25 juta hingga Rp 50 juta,” kata H Mahlul Akbar. Untuk mengembangkan usaha kerajinan dan batik printing di Pekalongan paling tidak dibutuhkan dana Rp 350 milyar.

Sumber : (who) Kompas Cetak, Semarang

Leave a Reply