Asal Usul: Jas Vs Batik

BILA pada awal masa kepresidenannya kita lebih sering melihat Gus Dur berbusana resmi dengan jas dan dasi, kini kita lebih sering melihatnya memakai kemeja batik. Bahkan dalam muhibahnya ke luar negeri akhir-akhir ini, Gus Dur tampak makin pe-de (percaya diri) dengan kemeja batiknya.

Gus Dur sekarang tidak hanya menyamai Nelson Mandela sebagai proponen rekonsiliasi, tetapi juga dalam hal fanatisme berbusana batik. Setelah kunjungannya ke Indonesia pada pertengahan 1990-an, Nelson Mandela seperti tiba-tiba kerasukan ruh batik dan mendadak sontak pindah ke busana batik. Mandela yang Presiden Afrika Selatan (ketika itu) malah menjadi promotor batik Indonesia yang efektif. Maklum, batik kita memang mirip dengan cita tradisional Afrika, selain kenyataan bahwa orang kulit hitam tampil serasi dalam busana batik. Khususnya ragam batik sutra untuk bahan kemeja yang vibran warna maupun coraknya.

Sudah sejak lama saya menggemari batik. Dengan segala keterbatasan, saya berusaha mengoleksi batik semampunya. Kegemaran ini justru kian meningkat sekarang, terutama karena semakin menyadari bahwa seni batik semakin terancam kepunahan. Sejak tiga tahun lalu, sulit mencari batik tulis halus di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Demikian juga di Pasar Klewer, Solo. Yang diperjualbelikan di kedua pasar itu adalah jenis-jenis kain panjang yang harganya di bawah Rp 100 ribu.

“Modalipun awrat, Gus,” kata seorang ibu penjual batik Beringharjo memberi alasan. Modalnya berat. Pembelinya juga terbatas. Jadi, kalau mau beli batik halus yang Rp 300 ribu ke atas, kita harus mencari di toko-toko sepanjang Malioboro. Toko-toko di Solo dan Yogya pun mulai mengalami kelangkaan persediaan batik sutra karena soal permodalan itu pula.

Di Pekalongan kini sudah sangat sulit memperoleh batik tulis halus di toko-toko batik. Satu-satunya pembatik tradisional motif Pancelen (Van Zuilen) kini sudah tergusur ke pinggir Kota Pekalongan. Pengusaha batik keturunan Tionghoa ini bahkan jarang punya persediaan. Kita harus meninggalkan uang-sekitar satu juta rupiah-sebagai modal untuk membuat batik. Sekitar tiga bulan kemudian kita akan ditelepon untuk memberitahu bahwa batik yang dipesan sudah jadi.

Belum lama ini di Sidoarjo saya ditawari dua lembar batik motif Sekar Jagad yang mungkin akan merupakan batik terakhir dengan motif populer itu. Berbeda dengan motif Sekar Jagad ala Madura, motif dari Sidoarjo ini sebetulnya agak norak. Motif ini merupakan gabungan dari berbagai motif batik dalam satu kain panjang.

“Orang terakhir yang membuat batik motif ini baru saja meninggal,” kata yang punya toko. Sementara itu, sudah sejak tiga tahun terakhir ini ia selalu gagal dalam usahanya melatih anak muda untuk mempelajari motif ini. Alangkah menyedihkan!

***

SEMENTARA seni batik barangkali sedang menuju masa suram, banyak orang Indonesia yang lebih suka mengenakan busana modern bermerek internasional yang harganya jutaan. Karena itu upaya menciptakan batik modern di atas bahan lycra yang stretch, dan fashion baru yang menggunakan bahan batik dalam busana formal maupun santai, perlu sekali memperoleh dorongan. Teman saya, Julia Suryakusuma, belum lama ini menulis (kurang-lebih): “Dulu ibu-ibu gemuk dipaksa tampil berkain panjang dan kebaya kuning. Sekarang perempuan-perempuan muda tampil modis dengan batik longgar.”

Sayang, banyak pejabat kita yang masih lebih suka mengenakan jas. Padahal, tidak semua punya “potongan” yang mendukung untuk itu. Banyak pula yang bahkan tampil mirip artis ketika berbusana jas. Gara-gara ada penampil di televisi yang memakai baju dengan banded collar (kerah Cina) di dalam jasnya, maka beberapa menteri tidak sungkan meniru gaya penampil televisi. Padahal, jelas penampilan seperti itu tidak bisa dianggap resmi. Para pejabat harus mengerti bahwa mereka bukan artis, dan karena itu sebaiknya tidak berdandan seperti artis, kecuali pada kesempatan tidak resmi. Kita juga sering melihat di televisi, para menteri hadir di rapat kabinet dengan busana yang tidak mewakili sifat kenegarawanan. Hal itu tidak akan mungkin kita lihat di White House atau Capitol Hill. Baru kalau diundang ke Camp David para pejabat tampil berbusana santai.

***

CARA pejabat dan eksekutif mengenakan blazer juga acap kali menunjukkan ketidakpahaman mereka tentang etika berbusana. Blazer atau sport jacket adalah pakaian tidak resmi atau setengah resmi yang tentunya hanya boleh dikenakan pada acara setengah resmi. Nyatanya, kita sering melihat menteri menghadiri acara resmi dengan blazer. Blazer biasanya adalah jas yang warna dan corak bahannya memang sengaja tidak sama dengan celana yang dikenakan, sehingga perlu dipadupadankan dengan warna dan corak celana yang selaras.

Blazer bisa berjenis single breast (kancing dua atau lebih), maupun double breast (jaket silang dada). Tetapi, karena ketidaktahuan, banyak orang mengenakan jas-yang sebetulnya merupakan bagian dari lounge suit-sebagai blazer. Ini adalah kesalahan yang sebetulnya paling norak, tetapi sayangnya juga paling sering terjadi di Indonesia. Bayangkan, jas double breast bercorak pinstripe abu-abu yang formal dipakai sebagai blazer dengan celana hitam.

Sudahlah, daripada susah belajar tentang etika mengenakan jas, mengapa tidak pakai kemeja batik saja? Cuaca Indonesia yang tropis juga kurang cocok untuk berbusana berlapis-lapis seperti jas. Para pejabat dan eksekutif Filipina suka dan bangga memakai baju barong tradisional yang elegan. Di Thailand, pejabat dan eksekutif mengenakan baju dari sutera batis yang indah. Di Hawaii, menggunakan baju aloha-sepanjang mengenakan celana dan sepatu rapi-dianggap sama resminya dengan memakai baju lengan panjang dan dasi.

Sumber : (Bondan Winarno) Kompas Cetak, Jakarta

One Response to “Asal Usul: Jas Vs Batik”

  1. andiz Says:

    aku ingin tau tntang asal usul kota pekalongan secara ilmiah bukan dari cerita rakyat,bisakahaku dibantu

Leave a Reply