Archive for March, 2001

Dari Baju Encim hingga “Sutera Kecewa”

Friday, March 16th, 2001

BUKAN orang Pekalongan namanya, kalau mentok kehabisan inovasi varian kerajinan batik dan tekstil. Perubahan suasana kehidupan politik di Tanah Air belakangan ini, langsung disambar pembatik tradisional di Pekalongan. Kalau di bidang kebudayaan para warga negara keturunan Cina sudah bisa bebas mengekspresikan budaya mereka, maka di bidang bisnis para perajin pun mulai menggarap pembuatan baju encim (panggilan untuk wanita Cina yang telah bersuami). Dan, tanpa dinyana, masyarakat pun menyambutnya antusias.

Menurut Rusmiati, baju encim itu mulai berkibar bermula dari pesanan bapak angkat yang minta dibuatkan seperangkat kain bermotif. Perajin antusias memenuhi pesanan itu. Tidak tahunya, kain motif itu dipakai beberapa artis di Jakarta untuk tampil di layar kaca.

“Jadilah kami ini mencoba membuat baju encim dengan mutu sedang dan harga murah. Ketika dipajang di pasar grosir, eh, tak tahunya laris juga,” katanya seraya menambahkan, perajin tak menipu konsumen, pasalnya kualitas bahan tetap terjaga meskipun harga murah jauh di bawah harga baju encim yang dipakai artis.

Baju encim pesanan artis itu berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp 6 juta, rata-rata terbuat dari sutera dan kain batik tulis. Tingginya permintaan masyarakat yang menyenangi baju encim ini ditangkap perajin batik dengan menyediakan baju yang berkualitas, namun murah.

Kaum ibu dan perempuan bebas memilih baju encim lengkap di Pekalongan, murah serta banyak pilihan. Baju sama, kecuali kualitas agak berbeda. Bahannya bukan dari kain sutera melainkan kain batik sogan, paling murah Rp 110.000 hingga Rp 250.000 per set.

Satu set baju encim terdiri dari kerudung, kain sarung, dan baju encim yang umumnya berwarna putih berhias motif bordir. Kebanyakan baju encim yang tersedia masih berupa bahan. Kain belum dijahit, kecuali kerudungnya siap dipakai. Apabila pembeli menginginkan baju siap pakai, bisa memilih dengan menambah harga antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per set.

KREASI lain yang tak kalah laris, yakni tenun ikat akar cendana yang dikembangkan sejak sebulan terakhir ini. Alat tenun bukan mesin (ATBM) yang sempat menganggur beberapa tahun lalu, kini mulai beroperasi lagi, terutama di sentra kerajinan tenun Medono, Pekalongan tengah.

Akar cendana yang berbau wangi dan tahan lama itu kebanyakan bahannya dibeli di Bandung. Perajin mengubah menjadi pelengkap karpet berbagai macam dan ukuran. Mulai karpet kecil untuk alas shalat, karpet meja hingga karpet lantai besar. Bahan lain dari akar dibuat hiasan korden, hiasan dinding kamar tidur atau lemari pakaian.

“Bau wangi akar cendana kalau dirawat, alami dan tahan lama. Kalau baunya berkurang bisa diperciki air sedikit, wanginya muncul lagi,” ujar Endang, penjaga stan yang menjual aneka kain tenun.

Mulai diliriknya akar cendana penambah bahan pelengkap kerajinan tenun ikat, merupakan awal kebangkitan kembali tenun ikat. Perajin tampak sangat antusias menekuni pertenunan dan hal ini memunculkan hasil yang juga laris di pasaran.

Kain tenun ikat itu telah dibentuk berbagai varian, seperti tas wanita, tas belanja, topi maupun berbagai ragam aksesori peralatan keperluan rumah tangga atau perkantoran.

Kerajinan akar cendana untuk penghias ruangan, lemari maupun kamar tidur dijual bervariasi pula. Mulai harga Rp 9.000 hingga ukuran besar mencapai Rp 20.000; tas wisata dan belanja kecil seharga Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per buah.

Sejumlah perajin di Medono mengemukakan, lima tahun terakhir sesungguhnya ATBM sudah diistirahatkan. Perannya dikalahkan oleh produksi massal kain batik printing maupun cap. Tenggelamnya kain tenun seiring dengan berubahnya selera masyarakat yang lebih menggemari motif yang bersifat massal dan murah.

“Begitu ada inovasi untuk mengubah pola penggunaan kain tenun telah menghidupkan kembali alat tenun tradisional. Ini semakin meneguhkan bahwa alat tenun yang dulu disebut kuno itu masih memiliki gereget untuk menghidupi perajin,” kata Darimin, perajin setempat.

***

PERAJIN batik tradisional di Pekalongan tidak melulu mengerjakan batik tradisional. Di antara ribuan perajin, terselip beberapa perajin yang menekuni batik sutera dengan segala kemampuan dan keahlian merancang batik sutera yang konon sangat digemari di belantara Nusantara dan luar negeri.

Masih membekas kebiasaan keluarga mantan Presiden Soeharto yang selalu mengenakan pakaian batik setiap kali merayakan hari besar atau hari ulang tahun anggota keluarganya. Dari sejumlah pakaian batik itu kebanyakan bahan sutera, di antaranya pesanan dari perajin di Pekalongan.

Kini, perajin tradisional yang lain juga mulai menggarap kembali baju batik “sutera kecewa”. Disebut sutera kecewa karena bahannya bukan sutera asli melainkan kain batik biasa yang lebih halus dan mengkilat. Harganya pun lebih murah, berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 25.000 per potong.

Larisnya baju batik sutera, tidak lain karena jelinya perajin menangkap hasrat masyarakat, utamanya petani di pedesaan yang berkeinginan mengenakan baju batik dengan motif maupun bahan sehalus sutera.

Kalau baju sutera asli harganya mencapai jutaan rupiah, tentunya perajin harus menyiasati bahan untuk memenuhi selera mereka. Dengan harga murah, terciptalah baju batik “sutera kecewa” (tiruan).

Antusiasme perajin menggarap segmen batik “sutera kecewa” ini, tidak lain seiring dengan masa panen padi yang mulai berlangsung sejak Maret, dan akan berlangsung hingga tiga bulan ke depan. Petani yang panennya berhasil biasanya mempunyai dana lebih untuk menambah koleksi baju batik.

Baju encim, karpet cendana dan “sutera kecewa” merupakan produk perajin batik tradisional, yang mampu menggerakkan bisnis kerajinan batik yang sempat terpuruk dua tahun terakhir. Perajin tradisional tidak muluk-muluk mengejar target. Modal kecil yang tersedia sudah mampu memacu gairah usaha apabila perputaran berlangsung cepat.

“Kita membuat baju dari kain dua meter, bisa langsung dijual dan hasilnya untuk membeli kain empat meter. Dari kain itu bisa dibuat dua baju yang langsung dijual guna membeli bahan yang cukup untuk membikin empat baju lagi. Modal cepat kembali untuk usaha berikutnya,” tutur perajin.

Sumber : (who) Kompas Cetak, Jakarta

Pasar Grosir, Mencerahkan Batik Tradisional

Friday, March 16th, 2001

MENCOBA usaha baru bagi Nadirin (60) - pegawai negeri sipil (PNS) yang pensiun sejak tahun 1995- membuatnya semakin hidup. Kalau sebelumnya menganggur, kini seolah-olah beralih sebagai pengusaha tiban. Dia mempunyai satu kios yang disewa Rp 2,5 juta untuk masa dua tahun di Pasar Grosir Sentono, Pekalongan Timur.Setelah memiliki kios, Nadirin memberanikan diri kulakan (beli barang) berbagai ragam batik maupun konveksi dari perajin batik tradisional. Pembayaran dilakukan tunai, dan barang-barang dipajang di kiosnya.

Usaha yang dirintis Nadirin enam bulan lalu memberi keuntungan minimal Rp 400.000 sehari. Namun, ia mengaku, bukan keuntungan yang membuatnya bahagia. Tapi, usahanya itu telah memberi pekerjaan bagi anak dan keponakannya yang sebelumnya menganggur. Kini keduanya bisa bekerja mandiri.

“Dulu tidak semua orang gampang memasarkan batik tradisional. Banyak orang tidak memahami jaringan pemasaran di kotanya sendiri maupun di luar kota. Dengan tersedianya pasar grosir, pemasaran makin terbuka,” tuturnya.

***

BANYAK kalangan pengusaha menyebut kebangkitan usaha kerajinan batik tradisional di Pekalongan itu sebagai bentuk lain dari simbol keberhasilan dunia usaha yang percaya bahwa 99 persen datangnya dari kerja keras, dan satu persen itu mujizat alam.

“Kami tidak percaya pemasaran mulai cerah ketika ide membuka pasar grosir batik direalisir Juli 2000 lalu. Sukses mulai berkibar menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru 2001,” kata Darmin, perajin batik.

Itulah titik balik sebuah usaha. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1998, menyebabkan ribuan perajin batik tradisional di Pekalongan merana. Krisis itu juga menghantui kalangan pengusaha tekstil dan konveksi kelas menengah ke atas.

Praktis selama dua tahun industri kecil batik tradisional seolah tiarap. Awalnya, kalangan industri tidak ada yang bisa meramalkan, sampai kapan krisis itu berakhir. Naga-naganya krisis akan terus berkepanjangan.

Dengan tuntutan harga bahan baku meningkat 10 kali lipat, turunnya daya beli masyarakat di berbagai pelosok, serta anjloknya pemasaran berbagai macam barang kerajinan tentu saja mengurungkan banyak perajin berproduksi.

Ketua Persatuan Pengusaha Tekstil Pekalongan (PPTP) H Mahlul Akbar Asham memperkirakan, ketika berlangsung krisis tak kurang 70 persen pengusaha tekstil dan perajin batik tradisional menghentikan produksinya. Mereka merumahkan ratusan pekerja dan mengurangi jam kerja hingga 50 persen menjadi lima jam sehari.

“Kalangan PPTP Pekalongan bahkan bekerja sama dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia pernah merintis berbagai cara untuk membantu perajin batik tradisional mendapatkan solusi. Di antaranya model bapak angkat, kerja sama dengan instansi lain, serta usaha lain yang saling menguntungkan,” katanya.

H Mahlul Akbar mengakui, berbagai cara telah ditempuh namun hasilnya nihil. Proposal untuk menjalin kemitraan dengan pabrik tekstil, perusahaan besar maupun badan usaha negara tidak ada realisasinya. Semua perajin tampaknya sudah putus asa, dan pengurus koperasi akhirnya capek sendiri.

Itu bisa dilihat di sentra batik tradisional seperti di Sentono, Kertijayan, Simbangkulon, Buaran, Jenggot, Sapugarut, Tirto, dan sekitarnya. Banyak perajin nyaris putus asa menghadapi situasi pemasaran yang lesu.

Begitu hebatnya krisis melanda membuat tak kurang 4.000 pekerja batik terpaksa dirumahkan. Sekitar 500 perajin kelas menengah berhenti usahanya, jumlah ini belum termasuk ribuan perajin tradisional di pelosok pedesaan juga lesu.

Tak kurang pula sekitar 10 industri tekstil menghentikan produksinya. Sedangkan industri sejenis lain mengurangi jam kerja dari biasanya 10 jam menjadi lima jam sehari. Krisis mencapai titik puncaknya pada tahun 1996-1997.

Berdasarkan data di PPTP, usaha beberapa pabrik tekstil ambruk. Di antaranya pabrik tekstil milik Kopindo di Buaran, maupun Sentono. Bahkan, pabrik milik Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan (PPIP) terpaksa dijual ke pengusaha Solo senilai hampir Rp 1 milyar.

***

PEMILIK UD Rahmi Madina, Hasanudin, menuturkan, di tengah rasa frustasi menghadapi situasi tak menentu itulah, beberapa perajin akhirnya memutuskan memanfaatkan sejumlah ruangan di gedung bekas pabrik tekstil milik koperasi.

“Selama ini perajin di sini lebih mengandalkan pasar grosir di Pasar Tanah Abang dan Pasar Klewer di Surakarta. Dua pasar grosir itu tidak efektif dalam melebarkan pasaran industri batik tradisional,” ujar Hasanudin.

Karena awalnya kesulitan modal, Yayasan Nagari bekerja sama dengan Koperasi Pembatikan Sentono (KPS) akhirnya membentuk arisan perajin. Iuran Rp 20.000 per bulan menghasilkan dana Rp 12 juta. Dari dana sebesar itu, Rp 300.000 diberikan sebagai modal awal kepada perajin anggota.

Kerja sama ini juga menyepakati pemanfaatan gedung milik KPS sebagai pasar grosir. Timbulnya ide membangun pasar grosir tersebut merupakan hasil diskusi panjang Hasanudin, Soni Hikmahlul (LSM), dan Prijanto (PNS).

Ketika diresmikan Juli 2000, terdapat 186 kios yang dibangun berukuran 12 meter persegi, yang disewa perajin antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta selama dua tahun.

“Kios itu langsung habis dipesan perajin, malahan kini ada yang dipindah tangan dengan harga sewa sampai Rp 15 juta untuk kios di depan jalan raya,” ujar Hasanudin yang ditunjuk sebagai Direktur Pasar Grosir Batik Sentono.

Begitu antusiasnya pengusaha menyambut pasar grosir, akhirnya dibuka pasar grosir lain di Baros-di perbatasan Pekalongan dan Batang. Di lokasi ini terdapat 100 kios, juga langsung habis dimanfaatkan pengusaha batik. Lokasi itu kebetulan berada satu kompleks dengan rumah makan besar di tepi jalan raya Pekalongan-Batang.

Pemerintah Kota Pekalongan juga tak mau tinggal diam. Kawasan kerajinan tenun di Medono, juga disulap menjadi kawasan perdagangan kerajinan batik tradisional. Di tempat ini, pembeli selain membeli berbagai macam kerajinan batik maupun tenun, juga bisa menyaksikan langsung proses pertenunan.

Usaha Pasar Grosir Sentono kini mampu memperoleh dana mencapai Rp 130 juta. Dana ini akan digulirkan terus untuk membangun outlet grosir batik VIP di tengah lingkungan bekas pabrik. Termasuk akan dibangun Pusat Informasi Kerajinan Batik untuk mempermudah transaksi dan pemasaran batik berprospek ekspor.

Agus, perajin batik Warungasem, menyebutkan, pasaran batik mulai membanjir begitu pasar grosir dibuka. Kini semua orang yang lewat Pekalongan dari berbagai kota bisa mencari batik di tempat ini. Rombongan wisatawan yang lewat menggunakan bus wisata, bisa mampir belanja di pasar grosir.

“Kami buka mulai pukul 09.00 dan tutup menjelang magrib. Tapi, tak jarang harus tutup malam kalau ada rombongan turis belanja pada sore hari,” katanya.

Rombongan turis yang datang tak hanya lokal. Turis dari Malaysia, Singapura, maupun negara lain yang hendak ke Yogyakarta atau Bali melalui jalur pantai utara (pantura) kerap mampir di pasar grosir. Suasana pasar grosir biasanya ramai penuh pengunjung hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.

“Kami pada Lebaran tahun lalu sehari dapat meraih untung Rp 1 juta. Kalau hari-hari biasa sekitar Rp 500.000,” kata Agus.

Perajin lain yang membuka dua kios, Susmiati, menuturkan, menerima order berbagai jenis kerajinan batik dari pembeli. Mulanya dia membeli barang lalu mengaku pedagang grosir di Bandarlampung.

“Tanpa banyak basa-basi, kami sepakat menerima order senilai Rp 2 juta untuk penjajakan pemasaran di kota itu. Kami senang ada tawaran itu, tapi syaratnya harus dilunasi dulu, dan langsung disetujui. Kalau tak dilunasi, kami khawatir menimbulkan permasalahan di kemudian hari,” ujarnya.

H Mahlul Akbar menilai, pasar grosir tidak saja mempermudah pemasaran produk batik maupun tekstil bagi perajin setempat. Pasar grosir telah menjadi ajang pertemuan peminat barang dengan produsen. Peminat barang itu, bisa saja pedagang besar asal luar kota, perancang mode, pemilik toko pakaian grosir eksportir yang mau mendapatkan barang langsung dari produsen, atau kalangan usahawan dan badan usaha yang hendak memesan batik dalam jumlah besar.

Hasanudin menambahkan, selama bertahun-tahun pemasaran batik hanya didominiasi kelompok tertentu. Mereka bertindak selaku juragan yang menerima barang dari perajin kemudian disetor ke berbagai kota. Perajin hanya menerima pembayaran langsung atau dalam tempo satu-dua bulan tanpa pernah bertemu pengusaha yang dipasok.

“Lewat pasar grosir itu, pemasaran menjadi terbuka dan semua perajin, entah bermodal dengkul atau perajin kelas kakap, bisa mendapatkan akses perdagangan yang lebih besar apabila bertemu pengusaha dari luar kota,” ujar Hasanudin yang juga baru menerima order ekspor baju santai ke Amerika Serikat.

***

PASAR grosir yang menjadi titik balik kebangkitan kerajinan batik di Pekalongan, sebenarnya bukan ide baru. Namun, harus diakui bahwa pasar grosir batik itu bagi masyarakat Pekalongan baru pertama kali ada sepanjang sejarah Pekalongan sebagai sentra batik.

Betapa besar perputaran uang di pasar grosir, bisa dilihat dari data Kantor Pasar Grosir Batik Pekalongan yang mencapai kisaran Rp 50 juta hingga Rp 100 juta per hari. Secara ekstremnya, peranan pasar grosir telah menghancurkan tata niaga terselubung yang selama ini di luar jangkauan perajin bermodal kecil.

Harus diakui, berputarnya usaha perajin juga memberi imbas luar biasa terhadap sub sektor lain yang selama ini menjadi bagian yang terlibat, langsung maupun tak langsung dari proses pembatikan itu sendiri.

Wartono, penjahit asal Buaran, ketika mengantar satu kodi baju batik di pasar grosir menyatakan ikut menikmati meriahnya pasar grosir. Sejak usaha kerajinan pulih kembali, ia kebanjiran order menjahit berbagai jenis pakaian dan asesoris.

“Kalau order baju, kami dapat Rp 7.500 per potong, satu kodi tentu hasilnya lumayan, padahal order bisa lebih satu kodi. Kalau jahitan kita bagus, banyak perajin yang otomatis mempercayakan jahitannya,” ujarnya.

Perajin batik di Pekalongan cukup mengenal istilah babarke atau memberi order pembatikan dan penjahitan kepada orang lain. Banyak pengusaha yang cukup membeli bahan kain saja. Kemudian diserahkan kepada pembatik langganan untuk digarap. Setelah jadi, kain batik diteruskan ke penjahit. Babarke terjadi karena pengusaha kewalahan memenuhi order besar atau belum mempunyai pekerja.

Kain dua setengah meter bisa jadi satu baju batik. Ini menunjukkan ada tiga orang yang terlibat dalam proses pembatikan sebagai babarke, yakni pengusaha pemilik kain, tukang batik, serta tukang jahit yang kebanyakan penjahit konveksi. Di Pekalongan terdapat ratusan pembatik dan penjahit konveksi yang siap membantu pengusaha.

Berputarnya bisnis batik, juga menggugah gairah ratusan anak muda yang sebelumnya menganggur menjadi pekerja batik. Mereka biasanya terampil membatik karena pernah magang di pembatikan atau pabrik batik printing. Di Buaran maupun sentra kerajinan batik kelurahan lain di Pekalongan, sudah menjadi tradisi bahwa pekerja batik mendapat upah mingguan hari Kamis malam.

“Saya minimal memperoleh upah Rp 100.000 per minggu. Upah kita per hari bisa Rp 10.000, dari membatik maupun proses pencelupan warna. Upah itu sebagian untuk menikmati hiburan,” kata Suryanto, anak muda yang cukup lama bekerja di rumah Agus.

Terobosan pemasaran lewat pasar grosir yang dimulai Koperasi Pembatikan Sentono, diharapkan dapat menggugah kebangkitan koperasi sejenis di Wonopringgo, Pekajangan, Buaran, dan Pekalongan. Sehingga tidak mustahil Pekalongan menjadi kawasan pasar grosir batik terbesar nantinya.

Sumber : (Winarto Herusansono) Kompas Cetak, Jakarta

Pasar Grosir Pekalongan Perbaiki Tata Niaga Batik

Monday, March 12th, 2001

Omzet transaksi batik dan konveksi di tiga pasar grosir di Pekalongan (Jateng) mencapai Rp 100 juta lebih per hari. Transaksi bernilai jutaan rupiah itu terjadi pada hari-hari biasa dengan asumsi omzet sebanyak 200 outlet (kios) minimal sebesar Rp 500.000 per unit. Padahal, ada kios yang mampu meraih keuntungan sampai Rp 1 juta per hari.

Demikian Direktur Pasar Grosir Tekstil dan Batik Pekalongan, Hasanuddin didampingi wakilnya, Nadirin, Jumat (9/3) lalu, di Pekalongan. Hal itu dikemukakan mereka sehubungan dengan adanya ketiga pasar grosir itu, yang telah membubarkan dominasi perdagangan batik dan tekstil perajin dari pedagang di luar Pekalongan yang selama ini hanya dikuasai kelompok bermodal saja.

Pasar grosir yang menjadi pusat bisnis perdagangan ba-tik dan tekstil di Pekalongan itu meliputi grosir Sentono, Baros dan Pusat Kerajinan Medono.

Dalam jangka enam bulan, jumlah perajin yang berpartisipasi terus bertambah dari semula hanya diikuti 100 perajin dan pengusaha lokal kini sudah melonjak lebih dari 156 pengusaha golongan menengah ke bawah.

Keajaiban batik

Hasanuddin menjelaskan, kebangkitan kerajinan batik dan tekstil yang kini mulai dirasakan masyarakat Pekalongan menjadi keajaiban sen-diri. Pasalnya, selama dua tahun hampir semua industri kecil printing, tekstil, dan kerajinan batik mengalami kelesuan. Banyak perajin yang gulung tikar dan ratusan pekerja batik dirumahkan.

Kebangkrutan yang dialami perajin itu, kata Hasanuddin, juga disebabkan gagalnya upaya pemerintah setempat meyakinkan kalangan industri tekstil untuk menjadi bapak angkat bagi ribuan perajin. Saat itu, harga semua bahan baku melonjak sedangkan ekonomi rakyat terpuruk.

Dia menyatakan, pangsa pasar perajin lokal sesungguhnya 60 persen ditujukan membantu petani di pedesaan memenuhi kebutuhan sandang yang murah. Perajin terpaksa gigit jari akibat komoditas pertanian dalam dua tahun belakangan ini juga hancur. Banyak petani bahkan terjerat kredit macet KUT.

“Menghadapi situasi ekonomi yang tidak pasti itu, perajin batik dan tekstil ikut terpuruk. Upaya untuk menjual barang ke kota lain juga tak banyak menolong, karena pembayarannya sering kali macet karena barangnya tidak segera laku di pasaran,” kata Hasanuddin.

Hasanuddin menyebutkan, ketika pasar grosir dibuka pada Juli 2000 lalu banyak perajin yang ragu-ragu ikut ambil bagian dalam bisnis eceran ini. Terlebih, selama ini kalangan perajin batik dan tekstil di Pekalongan banyak yang mengirim barangnya di Pasar Tanah Abang, Jakarta dan Pasar Klewer, Surakarta.

Dalam perjalanannya, bisnis grosir ini justru menggembirakan setelah omzet rata-rata pengusaha yang membuka kios di kawasan ini semakin hari bertambah naik. Rata-rata awalnya masih berkisar Rp 100.000 per hari. “Kemudian perlahan melonjak menjadi Rp 400.000 hingga Rp 1,5 juta per hari. Bahkan harga sewa kios yang semula masih Rp 2,5 juta per dua tahun sudah ada pedagang yang berani menyewanya Rp 10 juta/dua tahun sewa,” ujarnya.

Sumber : (who) Kompas Cetak, Pekalongan

Kain Kuno Mulai Diburu Kolektor

Saturday, March 10th, 2001

Kain batik di pasar barang antik Jalan SurabayaKeanekaragaman motif dan serat dari kain batik atau tenun khas Indonesia telah menjadi barang seni yang ditawarkan kepada para pencinta seni lokal maupun mancanegara. Untuk memenuhi permintaan para kolektor yang memburu kain-kain tersebut, para pedagang melacak hingga ke berbagai daerah. Demikian pantauan SCTV, baru-baru ini, di Jakarta.

Misalnya saja di pasar barang antik Jalan Surabaya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Selama ini, kawasan tersebut menjadi satu di antara sejumlah tujuan wisata bagi turis mancanegara di Ibu Kota. Bahkan pasar itu juga menjadi tempat perburuan para kolektor patung, barang-barang kerajinan, hingga pernak-pernik aksesoris.

Seiring dengan semakin populernya batik di dunia internasional, kain batik atau tenun kuno pun menjadi sasaran perburuan kolektor barang antik. Umumnya, kain-kain yang berusia puluhan tahun tadi, dimanfaatkan para pencinta seni Indonesia sebagai pelengkap interior atau sebagai inspirasi bagi perkembangan dunia modeling.

Para pedagang barang antik cepat tanggap. Buktinya, mereka pun langsung menawarkan berbagai kain kuno, terutama dengan motif khas batik pesisir Pekalongan atau Cirebon. Misalnya saja Lokcan, Burung Hong, Pagi Sore, hingga kain Tais khas Timor Timur yang semakin sulit diperoleh. Umumnya para pedagang menawarkan harga sesuai dengan usia kain, motif, atau asal kain. Harganya saat ini berkisar antara Rp 100 hingga Rp 5 juta.

Sumber : (ORS/Esther Mulyanie dan Binsar Rahadian) Liputan6.com, Jakarta

Batik Tradisional Pekalongan Mulai Bangkit Kembali

Wednesday, March 7th, 2001

Setelah dua tahun dilanda kelesuan, usaha perajin dan pengusaha batik di Pekalongan (Jateng) mulai bangkit. Tak kurang 400 unit usaha perajin batik, dari 790 unit pengusaha batik yang sebelumnya sempat menghentikan usahanya, kini sudah mulai berproduksi kembali. Rata-rata perajin batik mampu memproduksi 5 hingga 10 kodi batik per hari.Demikian pengakuan sejumlah perajin batik di Pekalongan yang dihubungi, Selasa (6/3). Mereka juga menjelaskan, bahwa upaya mengekspor berbagai jenis pakaian dan produk batik asal Pekalongan ke Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam juga sudah tiga bulan berlangsung.

“Ekspor pakaian maupun produk kerajinan batik sayangnya belum dilakukan langsung produsen batik di Pekalongan. Barang keperluan ekspor masih dikirim ke Jakarta, dan pengiriman barang ekspor ditangani pengusaha di Jakarta,” ujar Somadi, perajin batik di Kajen, Pekalongan.

Kebangkitan usaha kerajinan batik di Pekalongan itu juga dibenarkan Ketua Persatuan Pengusaha Tekstil di Pekalongan, Mahlul Akbar. Menurut Mahlul Akbar, kebangkitan usaha batiklah yang membuat pengusaha maupun perajin dari sentra kerajinan batik terbesar di Jateng ini banyak yang mampu berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2001.

“Indikator bangkitnya usaha batik bisa diketahui dari jumlah jemaah calon haji di Pekalongan yang mencapai 900 orang, padahal tahun lalu masih berkisar 300 orang saja,” kata Mahlul Akbar yang juga Ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Pekalongan.

Beberapa kecamatan sentra batik yang secara bertahap mulai berproduksi kembali meliputi Buaran, Tirto, Wirodesa, Kedungwuni dan sebagian wilayah Pekalongan Timur. Kebangkitan usaha kerajinan batik tidak hanya dinikmati perajin saja, melainkan juga pengusaha printing ikut ambil bagian. Mereka memasok kebutuhan kain mori yang makin hari diperlukan para perajin batik.

Menurut Somadi, ketika masih krisis ratusan perajin maupun pengusaha printing mengurangi karyawan dan jam produksinya. Untuk jam produksi yang biasanya rata-rata 10 jam sempat dikurangi menjadi lima jam. Jumlah karyawan yang terpaksa dirumahkan cukup besar mencapai lebih dari 700 orang. Setiap perajin mengistirahatkan antara 5 hingga 8 karyawannya.

“Kini hampir semua karyawan yang sempat menganggur di rumah sudah dipanggil lagi untuk bekerja. Saya sendiri terpaksa menambah karyawan menjadi 10 orang dari semula hanya 7 orang,” ujar Somadi yang banyak memproduksi pakaian jadi untuk dikirim ke Surakarta dan Bali.

Harga stabil

Perajin lain, Mohammad Sobri di Poncol (Pekalongan) mengatakan, setiap hari mampu memproduksi dua kodi berbagai jenis barang kerajinan batik. Kebangkitan usaha batik itu tidak lain didukung stabilnya harga-harga bahan baku seperti kain mori dan benang. Kain mori sudah setahun terakhir ini harganya stabil sehingga memungkinkan perajin memperhitungkan kembali selisih biaya produksi dengan keuntungan dari penjualan.

Kain mori per meter harganya berkisar Rp 3.400 hingga Rp 6.500, tergantung kualitasnya. Untuk pembelian dalam partai besar, pedagang maupun produsen kain yang juga kebanyakan pengusaha printing setempat berani memberi harga lebih rendah dibanding harga eceren.

Lebih lanjut, Mahlul Akbar menyatakan, meskipun usaha kerajinan telah bangkit setahun lalu namun membaiknya dunia usaha kerajinan batik masih belum mampu meyakinkan kalangan perbankan setempat. Banyak perajin yang membutuhkan modal usaha guna mendukung kelancaran usaha, seringkali ditolak kalau mengajukan kredit ke bank.

“Dalam banyak pertemuan, rata-rata perajin di sini rata-rata membutuhkan modal antara Rp 25 juta hingga Rp 50 juta,” kata H Mahlul Akbar. Untuk mengembangkan usaha kerajinan dan batik printing di Pekalongan paling tidak dibutuhkan dana Rp 350 milyar.

Sumber : (who) Kompas Cetak, Semarang

Asal Usul: Jas Vs Batik

Sunday, March 4th, 2001

BILA pada awal masa kepresidenannya kita lebih sering melihat Gus Dur berbusana resmi dengan jas dan dasi, kini kita lebih sering melihatnya memakai kemeja batik. Bahkan dalam muhibahnya ke luar negeri akhir-akhir ini, Gus Dur tampak makin pe-de (percaya diri) dengan kemeja batiknya.

Gus Dur sekarang tidak hanya menyamai Nelson Mandela sebagai proponen rekonsiliasi, tetapi juga dalam hal fanatisme berbusana batik. Setelah kunjungannya ke Indonesia pada pertengahan 1990-an, Nelson Mandela seperti tiba-tiba kerasukan ruh batik dan mendadak sontak pindah ke busana batik. Mandela yang Presiden Afrika Selatan (ketika itu) malah menjadi promotor batik Indonesia yang efektif. Maklum, batik kita memang mirip dengan cita tradisional Afrika, selain kenyataan bahwa orang kulit hitam tampil serasi dalam busana batik. Khususnya ragam batik sutra untuk bahan kemeja yang vibran warna maupun coraknya.

Sudah sejak lama saya menggemari batik. Dengan segala keterbatasan, saya berusaha mengoleksi batik semampunya. Kegemaran ini justru kian meningkat sekarang, terutama karena semakin menyadari bahwa seni batik semakin terancam kepunahan. Sejak tiga tahun lalu, sulit mencari batik tulis halus di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Demikian juga di Pasar Klewer, Solo. Yang diperjualbelikan di kedua pasar itu adalah jenis-jenis kain panjang yang harganya di bawah Rp 100 ribu.

“Modalipun awrat, Gus,” kata seorang ibu penjual batik Beringharjo memberi alasan. Modalnya berat. Pembelinya juga terbatas. Jadi, kalau mau beli batik halus yang Rp 300 ribu ke atas, kita harus mencari di toko-toko sepanjang Malioboro. Toko-toko di Solo dan Yogya pun mulai mengalami kelangkaan persediaan batik sutra karena soal permodalan itu pula.

Di Pekalongan kini sudah sangat sulit memperoleh batik tulis halus di toko-toko batik. Satu-satunya pembatik tradisional motif Pancelen (Van Zuilen) kini sudah tergusur ke pinggir Kota Pekalongan. Pengusaha batik keturunan Tionghoa ini bahkan jarang punya persediaan. Kita harus meninggalkan uang-sekitar satu juta rupiah-sebagai modal untuk membuat batik. Sekitar tiga bulan kemudian kita akan ditelepon untuk memberitahu bahwa batik yang dipesan sudah jadi.

Belum lama ini di Sidoarjo saya ditawari dua lembar batik motif Sekar Jagad yang mungkin akan merupakan batik terakhir dengan motif populer itu. Berbeda dengan motif Sekar Jagad ala Madura, motif dari Sidoarjo ini sebetulnya agak norak. Motif ini merupakan gabungan dari berbagai motif batik dalam satu kain panjang.

“Orang terakhir yang membuat batik motif ini baru saja meninggal,” kata yang punya toko. Sementara itu, sudah sejak tiga tahun terakhir ini ia selalu gagal dalam usahanya melatih anak muda untuk mempelajari motif ini. Alangkah menyedihkan!

***

SEMENTARA seni batik barangkali sedang menuju masa suram, banyak orang Indonesia yang lebih suka mengenakan busana modern bermerek internasional yang harganya jutaan. Karena itu upaya menciptakan batik modern di atas bahan lycra yang stretch, dan fashion baru yang menggunakan bahan batik dalam busana formal maupun santai, perlu sekali memperoleh dorongan. Teman saya, Julia Suryakusuma, belum lama ini menulis (kurang-lebih): “Dulu ibu-ibu gemuk dipaksa tampil berkain panjang dan kebaya kuning. Sekarang perempuan-perempuan muda tampil modis dengan batik longgar.”

Sayang, banyak pejabat kita yang masih lebih suka mengenakan jas. Padahal, tidak semua punya “potongan” yang mendukung untuk itu. Banyak pula yang bahkan tampil mirip artis ketika berbusana jas. Gara-gara ada penampil di televisi yang memakai baju dengan banded collar (kerah Cina) di dalam jasnya, maka beberapa menteri tidak sungkan meniru gaya penampil televisi. Padahal, jelas penampilan seperti itu tidak bisa dianggap resmi. Para pejabat harus mengerti bahwa mereka bukan artis, dan karena itu sebaiknya tidak berdandan seperti artis, kecuali pada kesempatan tidak resmi. Kita juga sering melihat di televisi, para menteri hadir di rapat kabinet dengan busana yang tidak mewakili sifat kenegarawanan. Hal itu tidak akan mungkin kita lihat di White House atau Capitol Hill. Baru kalau diundang ke Camp David para pejabat tampil berbusana santai.

***

CARA pejabat dan eksekutif mengenakan blazer juga acap kali menunjukkan ketidakpahaman mereka tentang etika berbusana. Blazer atau sport jacket adalah pakaian tidak resmi atau setengah resmi yang tentunya hanya boleh dikenakan pada acara setengah resmi. Nyatanya, kita sering melihat menteri menghadiri acara resmi dengan blazer. Blazer biasanya adalah jas yang warna dan corak bahannya memang sengaja tidak sama dengan celana yang dikenakan, sehingga perlu dipadupadankan dengan warna dan corak celana yang selaras.

Blazer bisa berjenis single breast (kancing dua atau lebih), maupun double breast (jaket silang dada). Tetapi, karena ketidaktahuan, banyak orang mengenakan jas-yang sebetulnya merupakan bagian dari lounge suit-sebagai blazer. Ini adalah kesalahan yang sebetulnya paling norak, tetapi sayangnya juga paling sering terjadi di Indonesia. Bayangkan, jas double breast bercorak pinstripe abu-abu yang formal dipakai sebagai blazer dengan celana hitam.

Sudahlah, daripada susah belajar tentang etika mengenakan jas, mengapa tidak pakai kemeja batik saja? Cuaca Indonesia yang tropis juga kurang cocok untuk berbusana berlapis-lapis seperti jas. Para pejabat dan eksekutif Filipina suka dan bangga memakai baju barong tradisional yang elegan. Di Thailand, pejabat dan eksekutif mengenakan baju dari sutera batis yang indah. Di Hawaii, menggunakan baju aloha-sepanjang mengenakan celana dan sepatu rapi-dianggap sama resminya dengan memakai baju lengan panjang dan dasi.

Sumber : (Bondan Winarno) Kompas Cetak, Jakarta