Batik Ny Pulanda yang Belum Diminati Orang Papua
Tuesday, January 30th, 2001HAMPIR semua pegawai pada kantor pemerintah di Provinsi Papua diwajibkan mengenakan baju batik khas Papua pada hari tertentu, di samping baju seragam Korpri. Tetapi, batik itu dipesan dari Jawa. Padahal, sejak tahun 1991 kami sudah merintis usaha batik khas Papua di Jayapura. Bagaimana pemerintah daerah dapat mendukung ekonomi daerah kalau lebih senang menggunakan produk dari luar,” kata Ny Maria Ibo Pulanda.
Pulanda adalah satu-satunya orang Papua yang memiliki keterampilan membatik sekaligus pemilik sanggar batik khas Papua, Sanggar Putri Dobonsolo. Motif-motif khas Papua seperti burung cenderawasih, ukiran Asmat, kura-kura, kehidupan perempuan suku Dani, alat musik tifa, dan sebagainya diukir dengan sangat rapi dan teratur.
Pengetahuan membatik dan mengukir dia peroleh sejak tahun 1991 dari Yayasan Pengembangan Irian Barat (Irian Barat Development Foundation/IDF) bekerja sama dengan Klasis GKI (Gereja Kristen Indonesia) di Papua. Saat itu Papua telah menghasilkan batik berkualitas dengan motif asli Papua melalui kursus membatik yang diajarkan IDF.
Lahir di Sentani, Jayapura, 22 Mei 1944, dari pasangan Bernadus Pulanda dan Barbalina Tokoro. Dari delapan bersaudara, ia dikenal sangat tekun dan rajin belajar walau pendidikan formalnya hanya sampai lulus sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di Sentani.
Seperti kebanyakan warga Papua, sejak kecil Pulanda mengenakan pakaian dari rumput dan kulit kayu yang dianyam atau diproses jadi baju dan rok bawahan. Di Papua tidak ada tradisi tenun ikat seperti di daerah lain, kecuali suku Maibrat dan Ayamaru di Sorong. Mas kawin paling berharga di Sorong adalah kain tenun yang oleh warga setempat disebut kain Timor.
Oleh karena itu, bagi Pulanda belajar membatik (1991) adalah sesuatu yang baru. Tetapi, ia tidak cepat bosan. Rasa ingin tahunya begitu tinggi dan terus berusaha mengikuti petunjuk instruktur di lembaga kursus itu.
Saya begitu tertarik ketika instruktur memperkenalkan satu jenis batik yang diukir sangat cantik. Motif dasar batik itu adalah burung cenderawasih, ukiran Asmat, alat musik tradisional tifa, dan sebagainya. Saya sangat senang dengan motif-motif itu dan terus berusaha sampai benar-benar memahami, kenang Pulanda.
Sekitar 200 peserta kursus membatik gugur satu per satu, tetapi dia tetap sabar dan tekun belajar. Ia menilai motif-motif khas Papua, dan harus dipertahankan sebagai milik orang Papua. Salah satu di antaranya melalui seni membatik dan mengukir.
Tahun 1992 Pulanda ditawari bekerja di yayasan itu sebagai instruktur. Dari 60 siswi yang ditangani Pulanda, tidak satu pun yang berhasil mengembangkan keterampilan itu. Alasan utamanya adalah keterbatasan sarana membatik, di samping banyak batik dari Jawa sudah beredar di Papua.
SEMANGAT membatik terus tumbuh di dalam sanubari perempuan Papua ini. Walaupun banyak rekan satu angkatan, termasuk anak binaannya yang gagal, tetapi ia nekat membuka Sanggar Putri Dobonsolo (1995) setelah keluar dari Yayasan Pengembangan Irian Barat. Yayasan itu juga sudah tak mampu mendanai kegiatan pengembangan keterampilan masyarakat menyusul penghentian bantuan IGGI dari Belanda oleh pemerintah.
Di rumahnya di Sentani, ibu sembilan putra ini memulai usaha di sebuah kontrakan. Semua kebutuhan membatik, seperti kain mori putih, malam merah, dan macam-macam zat pewarna didatangkan dari Yogyakarta dan Solo.
Pengetahuan dan keterampilan terus bertambah setelah Pemerintah Daerah (Pemda) Papua mengirim Pulanda mengikuti berbagai kegiatan yang terkait dengan usaha batik di luar Papua. Misalnya, memimpin rombongan ibu-ibu PKK Papua meninjau usaha membatik di Yogyakarta dan Solo, mengikuti berbagai pameran yang diselenggarakan Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag), termasuk di Singapura dan Australia, seminar mengenai kerajinan batik dan motif-motif khas Papua di berbagai tempat di Jawa.
Ada tiga unit usaha yang dikembangkan, yaitu pengadaan bahan dan peralatan, desain atau menggambar motif, laboratorium warna, dan unit produksi dengan satuan-satuan kerja. Juga ada tiga unit membatik, yakni bagian canting, stamp (cap), dan print (cetak). Ada lagi unit pewarnaan dan pengunci warna, unit sortir, finishing work, dan unit pengepakan dan pemasaran. Semua fasilitas pendukung itu didatangkan dari Jawa, kecuali minyak tanah. Total pengeluaran setiap bulan Rp 18 juta di luar honor (gaji) untuk 20 karyawan di Sanggar Putri Dobonsolo.
“Saya bekerja sama dengan seorang dosen perempuan di Yogyakarta. Ia sangat baik dan memahami kesulitan saya, sehingga bahan-bahan yang saya butuhkan cukup dipesan. Biaya saya ganti kemudian. Ada unsur saling percaya di antara kami. Biasanya akhir bulan semua biaya itu saya lunasi,” tutur Pulanda.
Kelima belas karyawan yang saat ini membantu Pulanda di sanggarnya berasal dari lokasi transmigran (Jawa) dan Papua. Sampai hari ini sudah sekitar 150 siswa lulusan sekolah menengah umum (SMU) yang magang di sanggar itu. Tetapi, dari 135 anak binaan yang lulus dari sanggar itu, tak seorang pun yang mengembangkan usaha membatik, kecuali beberapa perempuan asal Jawa.
Bagi anak-anak Papua, setelah mendapat sertifikat dari yayasan itu, mereka langsung melamar di kantor pemerintah daerah. Sertifikat membatik dimasukkan sebagai lampiran lamaran itu. Mereka lebih suka menjadi pegawai negeri ketimbang berwiraswasta.
Para siswa itu tidak digaji karena mereka pun ingin belajar. Apalagi pekerjaan di sanggar itu berdasarkan pesanan. Jika tidak ada pesanan, mereka tidak bekerja. Mereka hanya mendapat uang makan dan transportasi Rp 250.000 per bulan.
Pada masa Gubernur Yacob Pattipi (1993-1998), semua instansi pemerintah diwajibkan memesan pakaian batik dari Sanggar Putri Dobonsolo. Tetapi, setelah Pattipi berhenti, perhatian terhadap sanggar itu pun berkurang. Tidak ada kebijakan khusus dari gubernur. Para pimpinan instansi memesan batik langsung dari Jawa, karena para kepala dinas waktu itu adalah orang dari luar Papua yang memiliki hubungan batin dengan suku dan anggota keluarga di Jawa.
Walaupun saat ini hampir semua kepala dinas orang asli Papua, tetapi belum ada rasa cinta terhadap hasil karya orang Papua sendiri. Mereka lebih suka memesan batik langsung dari Jawa, kecuali Dinas Perkebunan yang memesan 50 baju batik dari sanggar Pulanda.
BATIK dari sanggar ini tidak diminati orang Papua, namun justru sangat diminati bahkan menjadi perhatian khusus pengunjung pada pameran-pameran di provinsi lain. “Saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Tetapi menurut saya, rasa gengsi dengan produk lokal pun masih kuat di kalangan pejabat,” katanya.
Pulanda mengisahkan, tahun 1999 ketika sanggar itu masih dalam proses pembukaan, ia mengikuti pameran batik di Singapura, mewakili pengusaha industri dari kawasan Indonesia Timur. Stan pameran yang dipimpin Pulanda mendapat perhatian khusus dari Perancis, Inggris, dan Jerman.
Setelah kembali dari Singapura, para pengusaha ini setiap hari menelepon minta dikirim batik khas Papua. Mereka memesan motif cenderawasih, kasuari, Asmat, tifa, dan motif perempuan suku Dani. Jumlah pesanan sampai 100.000 koli, tetapi Pulanda tak mampu melayani karena tidak ada modal.
Ia meminta bantuan pemda, tetapi tidak dilayani dengan alasan tak ada dana. Agar tidak mengecewakan konsumen asing, Pulanda menyerahkan kesempatan itu kepada pembatik-pembatik di Yogyakarta.
Kesulitan yang dihadapi Pulanda adalah kekurangan dana. Ia berencana membuka ruang pamer (showroom) batik khas Papua dan ukiran Asmat, tetapi rencana itu belum terealisasi.
Di beberapa toko di Papua dipajang batik khas Papua yang dibuat di Jawa. Motif batik itu memang diambil dari tradisi Papua, tetapi tidak sesuai realitas di Papua. “Banyak kreasi yang dikembangkan sehingga sering kelihatan bukan asli motif Papua,” tuturnya.
PEMERINTAH daerah dalam setiap kesempatan selalu menekankan pengembangan sumber daya alam bagi kesejahteraan masyarakat. Tetapi, pemda sendiri tidak mau membantu usaha-usaha yang ditawarkan Pulanda.
Misalnya, Pulanda mengusulkan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Papua untuk mendatangkan bahan baku dasar membatik. Ini untuk latihan bagi pembatik pemula, sekaligus membangkitkan semangat membatik di kalangan generasi muda. Namun, permintaan itu tidak dilayani.
Menurut Pulanda, pemda mengeluh soal naluri generasi muda Papua menjadi pegawai negeri sangat tinggi dibandingkan dengan keinginan menjadi wiraswasta. Tetapi, pemda sendiri tidak mencari terobosan bagaimana memberi motivasi atau semangat kepada mereka untuk berusaha.
Usaha ekonomi kerakyatan yang selalu disebutkan pemda pada masa otonomi khusus masih terbatas pada retorika belaka. Tidak ada satu program yang benar-benar sesuai karakter, mental, dan kemampuan generasi muda atau orang Papua pada umumnya.
Pemda tidak perlu membiayai orang untuk mengikuti magang di bidang industri, pertanian, nelayan, dan bidang lain di luar Papua. Langkah pertama yang perlu diambil pemda adalah mendata semua orang Papua yang telah memiliki semangat dan modal untuk bekerja, termasuk para pengusaha dan pedagang orang asli Papua.
Mereka ini perlu diberi penyuluhan, dorongan, dan modal usaha. Misalnya tentang bagaimana proses dan syarat yang harus mereka penuhi untuk memperoleh kredit dari bank, dan bagaimana cara melunasinya.
Di Papua terdapat 13 bank, tetapi tidak pernah dimanfaatkan orang Papua untuk mengembangkan hasil usaha mereka.
Sebenarnya sudah ada ribuan orang Papua yang memiliki semangat dan mental berdagang, tetapi mereka kalah bersaing dengan penduduk dari luar yang memiliki modal besar. Pusat-pusat bisnis, pasar, dan industri dikuasai oleh warga pendatang, sedangkan putra asli hanya terbatas pada menjual pinang dan umbi-umbian di pinggir pasar.
Sumber : (Kornelis Kewa Ama) Kompas Cetak
Batik adalah kain tradisional khas Indonesia. Kain ini banyak diproduksi di berbagai daerah, seperti Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah. Biasanya, batik di kedua daerah tersebut didominasi warna kuning kecoklatan. Namun, khusus batik Yogyakarta, warna putih juga digunakan sebagai warna tambahan. Uniknya, pengerajin batik tradisional di Jateng mesih menggunakan kayu-kayuan sebagai bahan pewarna. Demikian yang terlihat dari pemantauan SCTV, baru-baru ini.