Museum Batik Kuno: Tempat Apresiasi dan Mengembangkan Kreasi
BANYAK kalangan memuji niat baik Santosa Dullah dan istrinya, Ny Danarsih Santosa, yang telah membangun sebuah museum batik dengan memanfaatkan bangunan klasik campuran Jawa dan Eropa bekas Ndalem Wuryaningratan, di Jalan Slamet Riyadi Solo. Museum Batik Kuno Danar Hadi itu diresmikan Wapres Megawati Soekarnoputri,
20 Oktober lalu.
Museum itu bisa terwujud, selain didasari oleh kecintaan pendirinya, Santosa Dullah (56), pada batik, tentu karena dari sebuah museum orang bisa belajar. Menyangkut kepentingan praktis, bagi seorang pengusaha batik seperti Danar Hadi, ia bisa memanfaatkannya untuk dijadikan sebagai referensi dalam membuat kreasi-kreasi baru.
Museum batik ini merupakan obsesi Santosa Dullah sejak dia mengawali usaha batiknya sekitar 34 tahun silam. Dengan ketelatenan yang luar biasa ia mengumpulkan berbagai kain batik kuno dari tangan pertama maupun kolektor, baik dari dalam maupun luar negeri. Kain batik yang menjadi koleksi museum ini tentu tergolong langka, berkualitas, dan tidak diproduksi secara umum lagi.
Dari sekitar 10.000 potong koleksi batik yang berhasil dikumpulkan dalam kurun 30 tahun lebih, 1.500 potong di antaranya diperoleh dari koleksi pribadi seorang kurator Museum Troupen, Belanda. Batik-batik itu berangka tahun pembuatan antara 1840-1910. Tak diperoleh angka pembelian untuk koleksi asal Belanda tadi.
Hanya diperoleh keterangan bahwa untuk sepotong kain batik kuno rata-rata berharga sekitar Rp 2 juta. Bahkan untuk koleksi Batik Wonogiren milik pengusaha Batik Trisni di Solo mencapai Rp 5 juta. Itu sekadar petunjuk tentang nilai yang relatif dari sebuah karya seni.
***
ANGKA-angka rupiah itu akan makin tak berarti bila dihadapkan pada sejumlah koleksi batik yang digolongkan pada Batik Keraton. Sejumlah kain batik kuno dengan motif khusus menempati satu ruang di bagian dalam yang cukup luas. Di ruangan yang didesain dengan atmosfer aristokrat ini, terpajang puluhan potong kain batik yang amat langka.
Batik-batik itu pada zamannya hanya dibuat khusus untuk para raja atau bangsawan tinggi setingkat adipati dan pangeran. Pada masa itu, batik-batik dengan motif-motif khusus tersebut merupakan batik sengkeran yang dilarang keras dikenakan oleh orang awam. Larangan yang dikeluarkan raja itu menimbulkan efek psikologis bahwa batik dengan motif seperti Parang Barong, Udan Liris, Semen Ageng, Semen Gurda mengandung sifat magis dan sakral.
Koleksi-koleksi itu sebagian diperoleh langsung dari empat istana di Solo dan Yogyakarta; yakni Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran serta Pura Pakualaman. Kurator Museum Batik Kuno Danar Hadi, Ir Ny TT Soerjanto (65), menunjukkan, pihaknya berhasil mengoleksi kain batik milik Sri Susuhunan Paku Buwono X (1893-1939). “Kain dengan motif Ceplok Dempel ini konon ageman dalem (busana raja), tetapi entah kebenarannya,” tuturnya. Ia mengakui, karena berbagai faktor, data tentang koleksi memang lemah.
Ada beberapa kain koleksi PB X dipajang di satu sudut dengan foto diri Raja Surakarta itu beserta permaisuri GKR Emas. Di sudut lain, sejumlah kain koleksi Pura Mangkunegaran yang sebagian merupakan karya tulis (alm) Nyi Ageng Mardusari, salah seorang selir KGPAA Mangkoenagoro VII yang dikenal sebagai pesinden dan pembatik ulung.
Karya batik Nyai Mardusari seperti Bogas Pakis memang amat elok, begitu pula karya KRAy Mangunkusumo, Gragah Waluh. Atau koleksi lain seperti Parang Sarpa. Warna soga-nya yang kekuningan dipadu dengan motif yang berlatar kebiruan menghasilkan nansa yang mengesankan. Nuansa soga pun setiap istana memiliki ciri masing-masing. Batik Kasunanan cenderung coklat kemerahan, Batik Kasultanan coklat dan kontras dengan latar putihnya, sedang Batik Pakualaman cenderung krem.
Adapun sejumlah kain koleksi dari Keraton Kasultanan Yogyakarta serta Pakualaman menempati sudut yang lain. Di antaranya kain kemben liris koleksi permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, serta batik Lereng Huk dari Pura Pakualaman.
Ada pula koleksi kain dodot yang khusus dikenakan untuk busana tari Bedhaya Ketawang. Kain dodot biasanya berukuran panjang 4,5 meter dengan lebar 2,25 meter. Motifnya disebut alas-alasan yang menggambarkan isi hutan, dengan bentuk stilisasi (hewan dan tumbuhan) yang sederhana. Warnanya hijau polos, sedang lukisannya menggunakan bahan perada emas.
***
BAGI kalangan pecinta batik, atau mereka yang mampu mengapresiasi keindahan di balik batik, koleksi-koleksi di museum tersebut niscaya tak ternilai harganya. Apalagi bila dipahami bahwa dari sebuah artefak, kita bukan hanya menikmati aspek estetika melainkan juga nilai arkeologisnya, dan seterusnya.
KRTH Hardjonagoro, pakar batik asal Solo, memuji langkah yang dilakukan Danar Hadi. “Di tengah kondisi krisis ekonomi seperti ini, begitu pun Mas Santosa, berani membangun sebuah museum yang jelas merupakan proyek merugi. Ini juga mengandung perjuangan, lho,” katanya. Dan Amri Yahya, pelukis batik kontemporer asal Yogya, bersyukur karena idenya mendirikan museum batik 30 tahun lalu, akhirnya bisa diwujudkan oleh Danar Hadi.
Sementara, seniman batik Iwan Tirta menggarisbawahi harapan Wapres Megawati saat memberikan sambutan persemian, yaitu agar keberadaan museum batik tersebut hendaknya memotivasi kalangan pengusaha batik ataupun seniman batik untuk melakukan usaha-usaha pelestarian terhadap batik lama yang di antaranya terdapat dalam koleksi museum.
Namun, Iwan juga sempat mempertanyakan, apakah Museum Batik Kuno Danar Hadi akan berfungsi sebagai “museum” ataukah “galeri”. “Kalau berfungsi sebagai museum, maka sistem pemajangan serta penyimpanannya harus memenuhi kriteria-kriteria sebuah museum yang profesional. Ini akan sulit dilakukan, karena secara teknis sulit dilakukan. Misalnya kain koleksi harus terlindung dalam almari kaca, tak boleh disentuh, kelembabannya harus terjaga, dan sebagainya, mengingat tekstil memang amat rawan,” papar Iwan.
Kurator museum, Ny TT Soerjanto mengatakan bahwa museum tersebut memang lebih berfungsi sebagai galeri. “Kalau harus memenuhi persyaratan sebagai museum, maka koleksi-koleksi museum ini tidak akan bisa dinikmati dan diapresiasi secara baik oleh masyarakat. Misalnya harus berada di balik almari kaca,” katanya.
Diakui, pemajangan koleksi kain batik kuno di museum tersebut memang agak dilematis. Tetapi, pihak pemilik memang secara ikhlas memamerkannya kepada masyarakat luas. Agar masyarakat bisa mengapresiasi, dan bila mampu mengkopi atau menirunya, sehingga batik akan terus lestari.
Seperti disampaikan oleh Iwan Tirta, “Biarlah masyarakat dan seniman batik mengkopi koleksi-koleksi batik yang ada. Pemiliknya harus ikhlas.” Karena itu ia cenderung tidak setuju tentang desakan agar seniman (batik) mengusahakan hak paten bagi karyanya. Yang bisa dilakukan hanyalah mengusahakan hak paten secara internasional bagi motif-motif batik asli Indonesia, melalui traktat internasional.
Sumber : (asa) Kompas Cetak, Solo
January 19th, 2008 at 6:28 pm
yah mungkin batik bisa di ambil ama negara lain
tp saya sbg bangsa indonesia tetap bangga ankan keragaman di indonesia
walau mas smu,saya bercita2 ingin menjadi duta besar di negara maju dan ingin mengembangkan budaya indonesi menjadi budaya modern tanpa harus mengubah budaya itu sendiri
thanks.