Batik Menggelar Dunia Pikir
Batik bisa disebut produk asli Indonesia, bila ditilik bahwa produk kain yang mengalami proses celup rintang ini dikenal sejak abad V di Tanah Pasundan dan Tanah Toraja.
Pada zaman Tarumanegara di abad V, didapatkan artefak kain simbut yang menggunakan bahan dari bubur ketan sebagai bahan perintang. Bahan perintang lain adalah lilin lebah, seperti pada kain Toraja,” demikian Ny Ir TT Soerjanto (65), mantan Kepala Balai Pengembangan Batik di Yogyakarta, yang kini kurator pada Museum Batik Kuno Danar Hadi di Solo.
Di Indonesia, proses celup rintang diketahui berkembang antara lain di Jawa, Bali, Jambi, Aceh dan Tanah Toraja. Disebut proses celup rintang, karena proses pelukisan di atas kain menggunakan lilin malam sebagai perintang pada saat kain dicelupkan pada cairan berwarna.
Maka wajar bila pergumulan dalam rentang waktu yang cukup panjang, 15 abad, telah menjadikan batik sebagai satu wahana ungkapan dunia pikir atau kosmologi yang pernah hidup di suatu masyarakat. Lebih dari sekadar wahana ungkapan estetik belaka. Melalui batik, masyarakat mengungkapkan dunia pikir yang hidup pada zamannya; yaitu meliputi keper-cayaan, mitos, konsepsi penciptaan kehidupan, jagat raya, harmoni hidup, etika, adat istiadat, dan seterusnya.
Dibanding artefak lain, seperti, candi, seni patung, relief dan gerabah, batik sesungguhnya merupakan wahana seni rupa paling populer bagi masyarakat. Ini bisa dimaklumi karena proses pembuatannya yang relatif mudah, dan sebagai kain busana, batik punya sifat “mode”. Ini memunculkan tantangan bagi para pembuat batik untuk berkreasi. Dokumentasi atas dunia pikir masyarakat itu, di antaranya yang hidup di Jawa, bisa diamati melalui koleksi batik yang terpajang di Museum Batik Kuno Danar Hadi di Solo yang diresmikan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, 20 Oktober 2000 lalu. Museum ini menyimpan sekitar 10.000 potong batik dari kurun paling tua buatan tahun 1840.
***
SALAH satu fakta yang menarik dari koleksi-koleksi museum tersebut, bahwa batik ternyata bukan monopoli masyarakat Jawa. Batik ternyata juga dipakai, digemari dan diproduksi oleh orang non-Jawa. Ini terbukti, ketika itu-kurun 1840-1940-cukup banyak orang Cina dan Belanda yang terjun dalam industri batik di Jawa.
Peranan orang Cina dan Belanda dalam produksi batik ketika itu pada gilirannya melahirkan genre (gaya) Batik Cina dan Batik Belanda.
Dari sekitar 1.500 potong koleksi museum yang diperoleh dari Belanda, di antaranya terdiri dari Batik Cina serta Batik Belanda. Ada pula Batik Hokokai yang merupakan gaya batik pada masa pendudukan Jepang.
Secara visual genre Batik Cina dan Belanda ini tampak khas. Perbedaan yang tergambar di atas taferil, bisa ditilik dari motif serta stilisasi bentuk-bentuk flora dan fauna, ornamen, isen; juga menyangkut pilihan warna, komposisi, dan unsur yang lain.
Batik Cina yang pernah berkembang di daerah pesisir utara Jawa-Cirebon, Pekalongan, Demak, Lasem-banyak memperlihatkan unsur-unsur yang hidup dalam mitologi di Cina. Taferilnya dominan dengan binatang kilin, naga, singa, dewa-dewa, burung phoenix, bunga-bungaan, tanaman sulur, api, mega. Semua dengan stilisasi yang khas, cenderung mendekati bentuk riilnya, begitu juga ornamen-ornamen khas Cina. Akan tetapi, ada juga yang mengambil motif pada Batik Jawa, seperti mengambil bagian tumpal. Singkatnya, terjadi interaksi yang saling memperkaya antargenre. Corak ini tampak pada batik pesisiran; Batik Tiga Negeri, Batik Dua Negeri, Batik Lasem Bangbiru, Batik Demak.
Pewarnaan Batik Cina, juga Belanda, umumnya cerah. Pilihan warna pada Batik Cina umumnya dominan warna primer seperti merah, kuning, hijau, biru; latarnya berwarna terang. Sedangkan pewarnaan Batik Jawa cenderung berat, dominan warna coklat dengan latar biru gelap. Proses pewarnaan pada batik Jawa menggunakan bahan-bahan alami seperti indigo (merah), mengkudu (biru), kayu jambal (biru), kayu tegeran (kuning).
Pencapaian teknik yang canggih, di antaranya dicapai oleh Batik Pekalongan. Salah satunya koleksi Oey Soe Tjoen yang menunjukkan permainan gradasi warna yang amat kompleks. Perpaduan warnanya lembut dan penuh nuansa. Ny Ir TT Soerjanto mengingatkan bahwa semua itu, dengan menggunakan teknik canting dan lilin malam sebagai medium rintang, merupakan teknik yang memiliki tingkat kerumitan luar biasa.
***
BATIK yang dibuat orang Belanda umumnya tidak memiliki motif atau pola yang dikenal pada Batik Jawa. Pelukisan atas unsur-unsur alam pada Batik Belanda cenderung “realistis”. Binatang, pohon dan bunga-bungaan dilukiskan mendekati bentuk aslinya. Komposisinya cukup sederhana. Kain batik yang diproduksi untuk konsumsi masyarakat Belanda di sini, menampilkan adegan dalam dongeng-dongeng di Eropa.
Kisah ciptaan HC Andersen seperti Hansel and Gretzel, banyak mengilhami taferil kain-kain sarung yang dikenakan oleh noni-noni Belanda pada masa itu. Digambarkan hubungan antara manusia, anjing, burung dengan latar belakang pepohonan. Pada bagian tumpal biasanya dipadu dengan ornamen berupa sulur serta bunga-bunga yang “realistis”.
Namun, ada sebagian batik yang dibuat oleh orang Belanda, terutama yang tinggal di pusat-pusat kerajaan Jawa, sepenuhnya memproduksi Batik Jawa dengan motif serta pewarnaan Batik Jawa. Seperti pada Gottlieb, Van Gentz, dan Jonas di Solo. Itu sebenarnya menjelaskan tentang dinamika kultural yang diwarnai oleh kepentingan ekonomi.
Kalau Batik Belanda menggambarkan fauna, yang bentuk maupun warnanya lebih mendekati realistis, Batik Jawa (Batik Sudagaran) juga mengadopsi flora dan fauna itu dalam gaya yang lebih subtil. Naga, burung merak, angsa, dipadu dengan pelbagai tanaman serta bunga-bungaan yang rumit; dengan pewarnaan yang cenderung coklat kegelapan.
Batik Sudagaran adalah genre batik yang pada masanya dibuat dan dikenakan oleh kaum pengusaha batik atau pedagang (saudagar) sebagai identitas komunitas mereka. Corak dan gayanya cukup khas, berbeda dengan Batik Keraton yang diperuntukkan bagi kaum bangsawan dan priayi. Polanya tidak konvensional, berani, sedikit norak, namun tetap berkualitas sedang teknik pengerjaannya pun amat halus dan rumit.
Pada umumnya, Batik Jawa lebih subtil dari segi bentuk. Setiap benda mengalami deformasi serta stilisasi sedemikian rupa sehingga nyaris tak dikenali bentuk aslinya. Nilai keindahan yang muncul tetap dalam bungkusan filosofi yang rumit namun menarik untuk disimak.
Filosofi ini masih berhubungan dengan dunia mitos orang Jawa. Ini pada gilirannya melahirkan berbagai adat serta ketentuan yang rumit dalam penggunaan kain batik yang motifnya amat beragam itu. Nilai-nilai seperti ini tak ditemukan pada Batik Cina atau Batik Belanda yang lebih menekankan aspek estetik sebagai benda pakai belaka.
Jagat batik ternyata telah memberikan suatu warisan yang berharga kepada kita. Keberagaman genre pada batik di masa lampau menegaskan tentang luluhnya sekat-sekat etnik dan kultur yang kadang menumbuhkan prasangka-prasangka. Padahal, semua itu hakikatnya adalah kreativitas untuk menjawab tantangan masyarakat dan zamannya.
Sumber : (Ardus M Sawega) Kompas Cetak, Jakarta