Carmanita dan Lahirnya Batik Baru
PERGELARAN busana rancangan Carmanita di Hotel Mulia hari Rabu (11/10) malam lalu memang bukan pergelaran independen. Carmanita berkerja sama dengan produsen serat regang Lycra dari DuPont membuat batik di atas bahan yang mengandung serat regang. Tak mengherankan bila unsur bahan yang serba regang amat dominan dalam rancangan Carmanita kali ini.
Untuk Lycra, ini merupakan yang pertama kalinya bekerja sama dengan perancang yang menggunakan teknik batik. Sebelumnya, Lycra pernah bekerja sama dengan Urban Crew di Indonesia, atau dengan perancang dunia macam Giorgio Armani dan Donna Karan. Untuk Carmanita, ini juga kerja pertamanya membuat ragam hias batik di atas bahan yang memiliki daya regang tinggi ini. Tidak heran bila tajuk pergelaran ini adalah The Birth of Batik Stretch.
Meskipun mereka “baru” saling kenal, kerja sama ini kelihatannya akan berlanjut. Carmanita yang mendapat kontrak merancang seragam sebuah maskapai penerbangan dalam negeri, kemungkinan akan menggunakan teknik batik di atas Lycra untuk keperluan itu dengan kemungkinan mendapatkan bridging loan dari Lycra Asia Timur. “Pasti tidak batik tulis, mungkin akan menggunakan cap atau cara lain,” kata Carmanita.
Pergelaran rancangan busananya sendiri sangat kental menggambarkan ciri khas Carmanita, panggilan akrab perancang yang sekolah formalnya adalah administrasi bisnis. Perempuan yang akrab dengan alam ini menggunakan motif jerapah-tentu saja ala Carmanita yang menggunakan warna merah-oranye indigo sol, bintang laut, motif macan tutul, gajah-gajah mungil, zebra dalam warna ungu dan merah jambu, atau motif bunga melati dan buah stroberi.
Memadukan teknik batik yang sudah berusia ratusan tahun dengan benang regang buatan manusia yang ditemukan tahun 1958 di Delaware, AS, entah benang tersebut dicampur dengan katun denim, berbentuk kain yang berlubang-lubang seperti jaring dalam berbagai ukuran, atau berupa renda yang regang, jelas memerlukan teknik berbeda dibandingkan membatik di atas sutera atau katun. Carmanita perlu waktu dua tahun untuk melakukan percobaan sebelum akhirnya menemukan teknik mencanting yang pas, jenis malam yang tepat, serta pewarnaan yang memberikan hasil seperti yang diinginkan.
***
CARMANITA masih tetap dengan ciri khasnya yaitu padu padan yang kuat yang terdiri dari dua, tiga atau empat potong pakaian untuk berbagai tampilan yang berbeda. Kutang yang dipadukan dengan celana sepanjang tengah lutut, menjadi sensual karena dipadukan dengan atasan tembus pandang yang berkancing satu. Gaun berpundak tali dipadankan dengan celana panjang denim, sementara yang lain berupa rok panjang yang dipadankan dengan blus berkerah kerut (ruffle) dengan satu kancing.
Bila ingin tampil beda, ada tambahan payet-payet dan sedikit sulam di ujung-ujung rok atau di tepian kerah gaun dengan bahan renda. Minimal tetapi tetap gemerlap. Bahan-bahan regang ini membuat baju jatuh melekat di tubuh dan tidak menghalangi gerak. Padu padan yang dibuat Carmanita memberi kesan sensual, tanpa perlu terpeleset menjadi rancangan yang mengumbar tubuh. Pemakaian bahan transparan untuk gaya serba tumpuk menjadi kuncinya.
Kesan sportif kali ini sangat kuat. Legging hingga ke ujung kaki, celana panjang hingga ke tengah betis, atau hotpant, banyak muncul. Carmanita sendiri adalah seorang penggemar legging yang sering dipadukannya dengan kain panjang batik. “Lihat, dengan memakai legging, kita menjadi lebih bebas bergerak,” kata Carmanita yang melilitkan kain dengan gaya informal.
Warna-warna tanah, warna ungu, biru, hijau, merah muda, oranye, dan kuning yang manis bukan cuma warna untuk perempuan. Warna-warna yang semula dianggap hanya cocok untuk busana perempuan itu sekarang juga untuk laki-laki. Sayangnya Carmanita kali ini tidak mencoba menawarkan lebih jauh lagi, merancang “rok” (yang sebenarnya adalah sarung) untuk kaum adam. Seperti (kain) batik yang merupakan sebuah bentuk seni membuat ragam hias dan juga cara memakai kain yang memiliki akar yang dalam di Indonesia, sarung pun bukan hal baru di sini. Bila kaum hawa didorong untuk menjadi androgini dengan mengenakan pakaian bergaya laki-laki seperti celana panjang dan setelan jaket power suit, tidakkah hal yang sebaliknya juga bisa dilakukan karena setiap orang pada dasarnya memiliki sifat-sifat maskulin dan feminin? Bila setiap orang mengadopsi sifat-sifat baik dari lawan jenisnya, mungkin Bumi akan menjadi tempat yang lebih menyenangkan. Dan, busana memberi kesempatan untuk mengekspresikan diri.
***
CARMANITA yang mendapatkan pemahamannya tentang batik terutama dari neneknya almarhumah Ny Bintang Sudibyo (Ibu Sud) ini akhirnya menemukan bentuk ekspresi kreativitasnya melalui batik. Di tangan Carmanita batik tidak berhenti sebagai motif tradisional yang selama ini kita kenal, melainkan sudah menjadi bentuk ekspresi modern. Ia juga mengambil batik sebagai sebuah teknik menahan warna memakai lilin untuk menghasilkan ragam hias.
Maka ketika Carmanita membuat motif bintang laut, motif stroberi (bukan buah asli daerah tropis), motif macan tutul, jerapah dan zebra (yang bukan binatang asli Indonesia), motif gajah, motif ondel-ondel, atau teratai, semuanya menggunakan alam pikir batik Indonesia. Tarikan garis dan titik-titik yang mengisi sebagai latar belakang (isen-isen) adalah garis dan titik dari khazanah batik Jawa. Meskipun begitu, motif-motif itu tidak tergelincir menjadi bentuk tradional yang klise.
“Kami memiliki kesamaan visi. DuPont sangat peduli terhadap lingkungan, begitu juga Carmanita yang antara lain menggunakan pewarna alam untuk batik-batiknya. Begitu juga dengan visi good corporate citizen, kami cocok. Tentu saja karena dia sudah punya nama,” kata Djonny Suwanto dari DuPont Far East Inc, Lycra Marketing Manager.
Sumber : (ninuk mp) Kompas Cetak, Jakarta