Batik dan Inovasi Carmanita
MEMBUAT batik di atas Lycra? Kenapa tidak? Carmanita sudah melakukannya, meskipun koleksinya itu baru akan digelar untuk umum pertengahan Oktober ini.
Batik adalah teknik membuat ragam hias dengan menahan warna menggunakan malam. Di Indonesia, batik juga secara awam diartikan sebagai ragam hias khas yang berakar dari motif yang berkembang di Jawa. Asalnya adalah garis dan titik yang kemudian membentuk beragam motif yang jumlah sudah tak terhitung lagi.
Batik terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Motifnya seperti terlihat dari perjalanan batik, dengan mudah mengadopsi perubahan sosial yang terjadi di lingkungan para pembatik se-perti diperlihatkan batik pesisir. Warna pun begitu, kecuali untuk batik pedalaman yang mempertahankan warna sogan. Inovasi terhadap batik terus berlanjut. Malaysia berambisi membuat batik tulis secara massal dengan bantuan mesin canting yang digerakkan komputer, untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja pembatik. Iwan Tirta menambahkan prada keemasan di atas batik dan memperkenalkan batik di atas kain sutera. Batik pun pernah dicoba dibuat di atas kain wol dengan sponsor dari organisasi wol Australia, meskipun sekarang tidak terdengar lagi gaungnya. Mungkin wol memang bukan jenis kain yang cocok untuk Indonesia, atau batik di atas wol menjadi terlalu mahal sehingga produsen maupun penggunanya sangat terbatas.
Sekarang, Carmanita bekerja sama dengan Dupont membuat batik di atas Lycra. Lycra adalah jenis serat yang ditemukan dan diproduksi Dupont di Deleware, AS, pada tahun 1958. Ketika pertama kali ditemukan, Lycra digunakan terbatas untuk pakaian dalam. Pada tahun 1970-an, Lycra dicoba digunakan untuk pakaian olahraga terutama renang. Sifatnya yang bisa meregang dan kembali ke bentuk semula dengan hampir sempurna, membuat Lycra diterima luas. Pada dekade 1990-an Lycra kemudian mulai masuk ke dalam pakaian luar, dicampur dengan berbagai serat lain baik serat alam maupun serat buatan manusia seperti poliester.
***
TERNYATA, menurut Carmanita, tantangan membuat batik di atas bahan yang mengandung Lycra, berbeda lagi. Lycra sebagai serat sintetis yang memberi sigat regang, dicampur dengan berbagai bahan lain seperti sutera, katun, poliester, dan sebagainya, dengan komposisi Lycra sekitar lima persen. Sifat regang itu membawa konsekuensi dalam penyerapan warna. Tidak kurang dari dua tahun Carmanita melakukan percobaan sebelum akhirnya ia menemukan formulasi warna, jenis motif, dan canting yang cocok untuk setiap bahan dan motif.
Carmanita menggunakan berbagai jenis bahan untuk proyek ini, antara lain campuran poliester dengan Lycra, dan katun dengan Lycra. Ia mencontohkan untuk kain “jaring ikan” yang berlubang-lubang dalam berbagai ukuran, warna melebar ke kiri kanan dengan mudah sehingga pencoletan hanya diberikan sedikit saja. Untuk jenis bahan ini, ia menggunakan canting yang berukuran besar karena sulit mendapatkan ketajaman tepi garis seperti bila batik dikerjakan di atas kain katun halus.
“Saya tidak tahu kenapa saya mereka kontak karena saya tidak mengenal orang-orang dari Dupont,” kata Carmanita tentang keterlibatannya dalam proyek ini. Yang jelas, proyek ini menjadi salah satu poyek internasional Dupont. “Indonesia dipilih karena kekayaan warisan budayanya,” tutur Carmanita.
Tidak mudah menjalani tantangan ini karena nama Indonesia ada di dalamnya. Tentang batik sendiri, perancang yang terus mendalami batik ini sangat yakin akan terus bertahan. Sebagai motif, sudah sangat sering batik dimanfaatkan oleh perancang dunia. Sebagai teknik membentuk motif, batik cap terutama, memasuki pasar internasional. “Setahu saya Laura Ashley membuat sebagian kain untuk home furnishing (barang-barang untuk mendandani rumah) di Pekalongan dengan memakai batik cap,” tutur Carmanita. Tentu saja motif batiknya disesuaikan dengan selera internasional, jadi agak berbeda dari motif batik tradisional.
Mengintip koleksi Carmanita, batik akhirnya menjadi sebuah teknik membuat motif ketika berbicara batik sebagai mode. Bila batik “hanya” menjadi sarana membuat motif, bagaimana ia akan bersaing dengan motif cetak yang relatif lebih murah dan massal? Jawabnya barangkali batik tetap akan ada peminatnya, tetapi secara relatif akan menjadi eksklusif.
Sumber : (nmp) Kompas Cetak, Jakarta
August 16th, 2007 at 8:38 pm
kasih contoh dong koleksi-koleksinya, buat tugas nih!