Archive for October, 2000

Perubahan Zaman Batik Iwan Tirta

Sunday, October 29th, 2000

Siapa pernah berpikir bunga raya berwarna hitam suatu saat akan menjadi sebuah ragam hias batik? Iwan Tirta membuatnya dalam ukuran besar pula, dan tentu dengan latar belakang yang rumit. Garis-garis halus dan isen-isen keemasan dengan dasar berwarna merah bata membuat bunga raya itu tampil anggun sebagai gaun malam. Ada rasa bahwa batik ternyata masih bisa mengikuti perubahan zaman, tergantung bagaimana rasa dalam artisan batik menerjemahkan kembali motif tradisional tersebut.Itu hanyalah satu dari puluhan batik baru buatan Iwan Tirta yang resminya akan digelar di Keraton Yogyakarta pada tanggal 31 Oktober mendatang. Pergelaran untuk mengumpulkan dana bagi Yayasan Kanker Indonesia Cabang Yogyakarta itu bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke-48 (tumbuk enem windu) GKR Hemas. Sebagian dari koleksi yang dinamai Iwan sebagai Batik Millenium itu, Senin sore pekan lalu disuguhkan kepada teman-teman dan relasi Iwan Tirta di toko batik Iwan di Jalan Panarukan, Jakarta Pusat.

Sebagai masterpiece Iwan menunjukkan dodot-dodot Wisma Batik Iwan Tirta yang akan dikenakan sembilan penari Bedhaya Amurwabhumi pada acara tersebut. “Ketika saya menunjukkan dodot tersebut kepada kerabat Keraton, mereka bisa menerima kehadiran saya,” kata Iwan.

Setelah sejak beberapa tahun lalu mendapat restu dari Istana Mangkunegara untuk mendokumentasikan batik-batik milik keluarga tersebut ke dalam data digital dan membuatkan pola motif batik-batik tersebut di atas kertas, sekarang Iwan ingin melakukan hal yang sama untuk batik Keraton Yogya. Meskipun telah mendapat izin dari GKR Hemas, tak luput Iwan mendapat pertanyaan dari kerabat Keraton tentang pemahamannya akan batik. Data tersebut nantinya akan disimpan di tempat Iwan dan di Keraton Yogya. Informasi seperti ini berguna untuk mengerti batik sehingga pengembangannya lebih maju.

“Saya berharap museum batik Danar Hadi di Solo tidak berhenti sebagai museum. Dengan sumber daya yang ada, museum bisa mendokumentasi, mempelajari, dan mengembangkan, supaya berguna untuk generasi muda,” kata Iwan tentang museum yang diresmikan Wapres Megawati dua pekan lalu.

Iwan juga mengajak Edward Hutabarat, Samuel Wattimena, Andre Rais, selain Chossy Latu, untuk menggarap batik-batik itu ke dalam busana kebaya, gaun untuk laki-laki, dan untuk perempuan.

“Supaya mereka punya kepekaan terhadap batik. Tugas saya menunjukkan batik kepada yang muda-muda, setelah itu terserah mereka untuk berpikir sendiri,” kata Iwan.

***

Ada keindahan khusus ketika mata ini menikmati batik-batik Iwan. Iwan yang sangat paham akan teknik pembuatan batik serta berbagai gaya maestro batik Indonesia, sejak bertahun-tahun lalu mampu melahirkan gaya batiknya sendiri. Dengan rendah hati ia mengatakan, ia belajar dari karya para maestro seperti KRT Hardjonagoro, Ny Praptini, almarhumah Bintang Soedibjo, atau Ny Setyowati, dan yang lainnya.

Ia tidak takut menggunakan motif berukuran besar, terutama bila itu untuk rok panjang pada ballgown. Ia juga paham bagaimana mengubah bentuk motif batik Yogyakarta seperti lereng, yang berukuran besar dan gagah sehingga lebih luwes sebagai gaun perempuan dengan sedikit memiringkan motif tersebut.

“Kain batik kan awalnya dipakai sebagai kain dari pinggang ke bawah. Sekarang harus dipikirkan bagaimana ketika ia dipakai sebagai gaun dari dada ke bawah. Motif yang besar akan menenggelamkan pemakainya,” kata Iwan usai pergelaran yang diawali jamuan minum teh Senin lalu.

Iwan mengambil motif batik Jawa Hokokai yang berasal dari masa pendudukan Jepang dengan mengadaptasi kupu-kupu dan bunga mawar dan krisannya, seperti gaun berlatar belakang biru yang dikenakan peragawati senior Ria Juwita. Ia juga mengambil motif batik Palembang dan digubahnya dalam warna merah jambu, batik Solo dan Yogyakarta tentu saja, termasuk motif kawung yang berasal dari Hamengku Buwono VII yang diberinya perada perak.

“Warna batiknya abu-abu, mosok mau diprada emas, ora keno,” kata Iwan yang mencari bahan prada itu hingga ke Amerika. Di tangan Iwan, motif-motif tersebut muncul dalam warna-warna masa kini dan batik pun tidak terasa seperti sebuah benda tradisional yang mati ditelan zaman.

Tak heran ketika pergelaran berakhir, Ny Robert S Gelbard, istri Dubes AS untuk Indonesia, dengan bersemangat memuji karya Iwan. “Indah sekali, luar biasa. Saya sejak lama menyukai batik. Ketika kami di Filipina 30 tahun lalu, saya sudah memiliki batik dari Indonesia. Di kediaman kami di Jakarta, ada wall hanging karya Iwan,” tuturnya.

Sekali lagi, Indonesia beruntung memiliki Iwan Tirta, maestro batik yang tidak berhenti belajar dan berkarya di usianya yang memasuki senja.

“Apa yang akan kita bawa kalau pulang menghadap-Nya, saya membaktikan pengetahuan saya untuk masyarakat,” kata Iwan.

RASA - Batik selalu mengikuti perkembangan zaman, tergantung rasa dalam artisannya. Iwan Tirta menerjemahkan motif tradisional batik ke dalam bahasa masyarakat urban yang kosmopolit.

Sumber : (Ninuk Mardiana Pambudy) Kompas Cetak, Jakarta

Batik Menggelar Dunia Pikir

Saturday, October 28th, 2000

Batik SaudagaranBatik bisa disebut produk asli Indonesia, bila ditilik bahwa produk kain yang mengalami proses celup rintang ini dikenal sejak abad V di Tanah Pasundan dan Tanah Toraja.

Pada zaman Tarumanegara di abad V, didapatkan artefak kain simbut yang menggunakan bahan dari bubur ketan sebagai bahan perintang. Bahan perintang lain adalah lilin lebah, seperti pada kain Toraja,” demikian Ny Ir TT Soerjanto (65), mantan Kepala Balai Pengembangan Batik di Yogyakarta, yang kini kurator pada Museum Batik Kuno Danar Hadi di Solo.

Di Indonesia, proses celup rintang diketahui berkembang antara lain di Jawa, Bali, Jambi, Aceh dan Tanah Toraja. Disebut proses celup rintang, karena proses pelukisan di atas kain menggunakan lilin malam sebagai perintang pada saat kain dicelupkan pada cairan berwarna.

Maka wajar bila pergumulan dalam rentang waktu yang cukup panjang, 15 abad, telah menjadikan batik sebagai satu wahana ungkapan dunia pikir atau kosmologi yang pernah hidup di suatu masyarakat. Lebih dari sekadar wahana ungkapan estetik belaka. Melalui batik, masyarakat mengungkapkan dunia pikir yang hidup pada zamannya; yaitu meliputi keper-cayaan, mitos, konsepsi penciptaan kehidupan, jagat raya, harmoni hidup, etika, adat istiadat, dan seterusnya.

Dibanding artefak lain, seperti, candi, seni patung, relief dan gerabah, batik sesungguhnya merupakan wahana seni rupa paling populer bagi masyarakat. Ini bisa dimaklumi karena proses pembuatannya yang relatif mudah, dan sebagai kain busana, batik punya sifat “mode”. Ini memunculkan tantangan bagi para pembuat batik untuk berkreasi. Dokumentasi atas dunia pikir masyarakat itu, di antaranya yang hidup di Jawa, bisa diamati melalui koleksi batik yang terpajang di Museum Batik Kuno Danar Hadi di Solo yang diresmikan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, 20 Oktober 2000 lalu. Museum ini menyimpan sekitar 10.000 potong batik dari kurun paling tua buatan tahun 1840.

***

SALAH satu fakta yang menarik dari koleksi-koleksi museum tersebut, bahwa batik ternyata bukan monopoli masyarakat Jawa. Batik ternyata juga dipakai, digemari dan diproduksi oleh orang non-Jawa. Ini terbukti, ketika itu-kurun 1840-1940-cukup banyak orang Cina dan Belanda yang terjun dalam industri batik di Jawa.

Peranan orang Cina dan Belanda dalam produksi batik ketika itu pada gilirannya melahirkan genre (gaya) Batik Cina dan Batik Belanda.

Dari sekitar 1.500 potong koleksi museum yang diperoleh dari Belanda, di antaranya terdiri dari Batik Cina serta Batik Belanda. Ada pula Batik Hokokai yang merupakan gaya batik pada masa pendudukan Jepang.

Secara visual genre Batik Cina dan Belanda ini tampak khas. Perbedaan yang tergambar di atas taferil, bisa ditilik dari motif serta stilisasi bentuk-bentuk flora dan fauna, ornamen, isen; juga menyangkut pilihan warna, komposisi, dan unsur yang lain.

Batik Cina yang pernah berkembang di daerah pesisir utara Jawa-Cirebon, Pekalongan, Demak, Lasem-banyak memperlihatkan unsur-unsur yang hidup dalam mitologi di Cina. Taferilnya dominan dengan binatang kilin, naga, singa, dewa-dewa, burung phoenix, bunga-bungaan, tanaman sulur, api, mega. Semua dengan stilisasi yang khas, cenderung mendekati bentuk riilnya, begitu juga ornamen-ornamen khas Cina. Akan tetapi, ada juga yang mengambil motif pada Batik Jawa, seperti mengambil bagian tumpal. Singkatnya, terjadi interaksi yang saling memperkaya antargenre. Corak ini tampak pada batik pesisiran; Batik Tiga Negeri, Batik Dua Negeri, Batik Lasem Bangbiru, Batik Demak.

Pewarnaan Batik Cina, juga Belanda, umumnya cerah. Pilihan warna pada Batik Cina umumnya dominan warna primer seperti merah, kuning, hijau, biru; latarnya berwarna terang. Sedangkan pewarnaan Batik Jawa cenderung berat, dominan warna coklat dengan latar biru gelap. Proses pewarnaan pada batik Jawa menggunakan bahan-bahan alami seperti indigo (merah), mengkudu (biru), kayu jambal (biru), kayu tegeran (kuning).

Pencapaian teknik yang canggih, di antaranya dicapai oleh Batik Pekalongan. Salah satunya koleksi Oey Soe Tjoen yang menunjukkan permainan gradasi warna yang amat kompleks. Perpaduan warnanya lembut dan penuh nuansa. Ny Ir TT Soerjanto mengingatkan bahwa semua itu, dengan menggunakan teknik canting dan lilin malam sebagai medium rintang, merupakan teknik yang memiliki tingkat kerumitan luar biasa.

***

BATIK yang dibuat orang Belanda umumnya tidak memiliki motif atau pola yang dikenal pada Batik Jawa. Pelukisan atas unsur-unsur alam pada Batik Belanda cenderung “realistis”. Binatang, pohon dan bunga-bungaan dilukiskan mendekati bentuk aslinya. Komposisinya cukup sederhana. Kain batik yang diproduksi untuk konsumsi masyarakat Belanda di sini, menampilkan adegan dalam dongeng-dongeng di Eropa.

Kisah ciptaan HC Andersen seperti Hansel and Gretzel, banyak mengilhami taferil kain-kain sarung yang dikenakan oleh noni-noni Belanda pada masa itu. Digambarkan hubungan antara manusia, anjing, burung dengan latar belakang pepohonan. Pada bagian tumpal biasanya dipadu dengan ornamen berupa sulur serta bunga-bunga yang “realistis”.

Namun, ada sebagian batik yang dibuat oleh orang Belanda, terutama yang tinggal di pusat-pusat kerajaan Jawa, sepenuhnya memproduksi Batik Jawa dengan motif serta pewarnaan Batik Jawa. Seperti pada Gottlieb, Van Gentz, dan Jonas di Solo. Itu sebenarnya menjelaskan tentang dinamika kultural yang diwarnai oleh kepentingan ekonomi.

Kalau Batik Belanda menggambarkan fauna, yang bentuk maupun warnanya lebih mendekati realistis, Batik Jawa (Batik Sudagaran) juga mengadopsi flora dan fauna itu dalam gaya yang lebih subtil. Naga, burung merak, angsa, dipadu dengan pelbagai tanaman serta bunga-bungaan yang rumit; dengan pewarnaan yang cenderung coklat kegelapan.

Batik Sudagaran adalah genre batik yang pada masanya dibuat dan dikenakan oleh kaum pengusaha batik atau pedagang (saudagar) sebagai identitas komunitas mereka. Corak dan gayanya cukup khas, berbeda dengan Batik Keraton yang diperuntukkan bagi kaum bangsawan dan priayi. Polanya tidak konvensional, berani, sedikit norak, namun tetap berkualitas sedang teknik pengerjaannya pun amat halus dan rumit.

Pada umumnya, Batik Jawa lebih subtil dari segi bentuk. Setiap benda mengalami deformasi serta stilisasi sedemikian rupa sehingga nyaris tak dikenali bentuk aslinya. Nilai keindahan yang muncul tetap dalam bungkusan filosofi yang rumit namun menarik untuk disimak.

Filosofi ini masih berhubungan dengan dunia mitos orang Jawa. Ini pada gilirannya melahirkan berbagai adat serta ketentuan yang rumit dalam penggunaan kain batik yang motifnya amat beragam itu. Nilai-nilai seperti ini tak ditemukan pada Batik Cina atau Batik Belanda yang lebih menekankan aspek estetik sebagai benda pakai belaka.

Jagat batik ternyata telah memberikan suatu warisan yang berharga kepada kita. Keberagaman genre pada batik di masa lampau menegaskan tentang luluhnya sekat-sekat etnik dan kultur yang kadang menumbuhkan prasangka-prasangka. Padahal, semua itu hakikatnya adalah kreativitas untuk menjawab tantangan masyarakat dan zamannya.

Sumber : (Ardus M Sawega) Kompas Cetak, Jakarta

Museum Batik Kuno: Tempat Apresiasi dan Mengembangkan Kreasi

Saturday, October 28th, 2000

BANYAK kalangan memuji niat baik Santosa Dullah dan istrinya, Ny Danarsih Santosa, yang telah membangun sebuah museum batik dengan memanfaatkan bangunan klasik campuran Jawa dan Eropa bekas Ndalem Wuryaningratan, di Jalan Slamet Riyadi Solo. Museum Batik Kuno Danar Hadi itu diresmikan Wapres Megawati Soekarnoputri,
20 Oktober lalu.

Museum itu bisa terwujud, selain didasari oleh kecintaan pendirinya, Santosa Dullah (56), pada batik, tentu karena dari sebuah museum orang bisa belajar. Menyangkut kepentingan praktis, bagi seorang pengusaha batik seperti Danar Hadi, ia bisa memanfaatkannya untuk dijadikan sebagai referensi dalam membuat kreasi-kreasi baru.

Museum batik ini merupakan obsesi Santosa Dullah sejak dia mengawali usaha batiknya sekitar 34 tahun silam. Dengan ketelatenan yang luar biasa ia mengumpulkan berbagai kain batik kuno dari tangan pertama maupun kolektor, baik dari dalam maupun luar negeri. Kain batik yang menjadi koleksi museum ini tentu tergolong langka, berkualitas, dan tidak diproduksi secara umum lagi.

Dari sekitar 10.000 potong koleksi batik yang berhasil dikumpulkan dalam kurun 30 tahun lebih, 1.500 potong di antaranya diperoleh dari koleksi pribadi seorang kurator Museum Troupen, Belanda. Batik-batik itu berangka tahun pembuatan antara 1840-1910. Tak diperoleh angka pembelian untuk koleksi asal Belanda tadi.

Hanya diperoleh keterangan bahwa untuk sepotong kain batik kuno rata-rata berharga sekitar Rp 2 juta. Bahkan untuk koleksi Batik Wonogiren milik pengusaha Batik Trisni di Solo mencapai Rp 5 juta. Itu sekadar petunjuk tentang nilai yang relatif dari sebuah karya seni.

***

ANGKA-angka rupiah itu akan makin tak berarti bila dihadapkan pada sejumlah koleksi batik yang digolongkan pada Batik Keraton. Sejumlah kain batik kuno dengan motif khusus menempati satu ruang di bagian dalam yang cukup luas. Di ruangan yang didesain dengan atmosfer aristokrat ini, terpajang puluhan potong kain batik yang amat langka.

Batik-batik itu pada zamannya hanya dibuat khusus untuk para raja atau bangsawan tinggi setingkat adipati dan pangeran. Pada masa itu, batik-batik dengan motif-motif khusus tersebut merupakan batik sengkeran yang dilarang keras dikenakan oleh orang awam. Larangan yang dikeluarkan raja itu menimbulkan efek psikologis bahwa batik dengan motif seperti Parang Barong, Udan Liris, Semen Ageng, Semen Gurda mengandung sifat magis dan sakral.

Koleksi-koleksi itu sebagian diperoleh langsung dari empat istana di Solo dan Yogyakarta; yakni Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran serta Pura Pakualaman. Kurator Museum Batik Kuno Danar Hadi, Ir Ny TT Soerjanto (65), menunjukkan, pihaknya berhasil mengoleksi kain batik milik Sri Susuhunan Paku Buwono X (1893-1939). “Kain dengan motif Ceplok Dempel ini konon ageman dalem (busana raja), tetapi entah kebenarannya,” tuturnya. Ia mengakui, karena berbagai faktor, data tentang koleksi memang lemah.

Ada beberapa kain koleksi PB X dipajang di satu sudut dengan foto diri Raja Surakarta itu beserta permaisuri GKR Emas. Di sudut lain, sejumlah kain koleksi Pura Mangkunegaran yang sebagian merupakan karya tulis (alm) Nyi Ageng Mardusari, salah seorang selir KGPAA Mangkoenagoro VII yang dikenal sebagai pesinden dan pembatik ulung.

Karya batik Nyai Mardusari seperti Bogas Pakis memang amat elok, begitu pula karya KRAy Mangunkusumo, Gragah Waluh. Atau koleksi lain seperti Parang Sarpa. Warna soga-nya yang kekuningan dipadu dengan motif yang berlatar kebiruan menghasilkan nansa yang mengesankan. Nuansa soga pun setiap istana memiliki ciri masing-masing. Batik Kasunanan cenderung coklat kemerahan, Batik Kasultanan coklat dan kontras dengan latar putihnya, sedang Batik Pakualaman cenderung krem.

Adapun sejumlah kain koleksi dari Keraton Kasultanan Yogyakarta serta Pakualaman menempati sudut yang lain. Di antaranya kain kemben liris koleksi permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, serta batik Lereng Huk dari Pura Pakualaman.

Ada pula koleksi kain dodot yang khusus dikenakan untuk busana tari Bedhaya Ketawang. Kain dodot biasanya berukuran panjang 4,5 meter dengan lebar 2,25 meter. Motifnya disebut alas-alasan yang menggambarkan isi hutan, dengan bentuk stilisasi (hewan dan tumbuhan) yang sederhana. Warnanya hijau polos, sedang lukisannya menggunakan bahan perada emas.

***

BAGI kalangan pecinta batik, atau mereka yang mampu mengapresiasi keindahan di balik batik, koleksi-koleksi di museum tersebut niscaya tak ternilai harganya. Apalagi bila dipahami bahwa dari sebuah artefak, kita bukan hanya menikmati aspek estetika melainkan juga nilai arkeologisnya, dan seterusnya.

KRTH Hardjonagoro, pakar batik asal Solo, memuji langkah yang dilakukan Danar Hadi. “Di tengah kondisi krisis ekonomi seperti ini, begitu pun Mas Santosa, berani membangun sebuah museum yang jelas merupakan proyek merugi. Ini juga mengandung perjuangan, lho,” katanya. Dan Amri Yahya, pelukis batik kontemporer asal Yogya, bersyukur karena idenya mendirikan museum batik 30 tahun lalu, akhirnya bisa diwujudkan oleh Danar Hadi.

Sementara, seniman batik Iwan Tirta menggarisbawahi harapan Wapres Megawati saat memberikan sambutan persemian, yaitu agar keberadaan museum batik tersebut hendaknya memotivasi kalangan pengusaha batik ataupun seniman batik untuk melakukan usaha-usaha pelestarian terhadap batik lama yang di antaranya terdapat dalam koleksi museum.

Namun, Iwan juga sempat mempertanyakan, apakah Museum Batik Kuno Danar Hadi akan berfungsi sebagai “museum” ataukah “galeri”. “Kalau berfungsi sebagai museum, maka sistem pemajangan serta penyimpanannya harus memenuhi kriteria-kriteria sebuah museum yang profesional. Ini akan sulit dilakukan, karena secara teknis sulit dilakukan. Misalnya kain koleksi harus terlindung dalam almari kaca, tak boleh disentuh, kelembabannya harus terjaga, dan sebagainya, mengingat tekstil memang amat rawan,” papar Iwan.

Kurator museum, Ny TT Soerjanto mengatakan bahwa museum tersebut memang lebih berfungsi sebagai galeri. “Kalau harus memenuhi persyaratan sebagai museum, maka koleksi-koleksi museum ini tidak akan bisa dinikmati dan diapresiasi secara baik oleh masyarakat. Misalnya harus berada di balik almari kaca,” katanya.

Diakui, pemajangan koleksi kain batik kuno di museum tersebut memang agak dilematis. Tetapi, pihak pemilik memang secara ikhlas memamerkannya kepada masyarakat luas. Agar masyarakat bisa mengapresiasi, dan bila mampu mengkopi atau menirunya, sehingga batik akan terus lestari.

Seperti disampaikan oleh Iwan Tirta, “Biarlah masyarakat dan seniman batik mengkopi koleksi-koleksi batik yang ada. Pemiliknya harus ikhlas.” Karena itu ia cenderung tidak setuju tentang desakan agar seniman (batik) mengusahakan hak paten bagi karyanya. Yang bisa dilakukan hanyalah mengusahakan hak paten secara internasional bagi motif-motif batik asli Indonesia, melalui traktat internasional.

Sumber : (asa) Kompas Cetak, Solo

Wapres: Pemberdayaan Rakyat Sangat Dibutuhkan - * Museum Batik Kuno Danar Hadi Diresmikan

Saturday, October 21st, 2000

Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri menegaskan, pemberdayaan rakyat saat sekarang ini sangat dibutuhkan. Rakyat sebenarnya cukup berdaya membangun dirinya, dan dalam pemberdayaan itu sebenarnya rakyat sendirilah yang bisa menggerakkan, sementara pemerintah hanya berupaya memberdayakan.

“Tetapi, sekiranya masyarakat dan rakyat tidak ingin menggunakan daya gerak dan daya gunanya, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Rakyatlah yang merupakan tiang negara,” ujar Wapres dalam pidato tanpa teks saat membuka resmi Bengawan Solo Fair (BSF) 2000 di Pagelaran Keraton Surakarta, Jumat (20/10) petang.

BSF adalah ajang pameran dan promosi industri, dagang dan kepariwisataan yang merupakan kalender tahunan di Kota Solo sejak tahun 1998. Dalam pembukaan kemarin Wapres Megawati didampingi Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Zarkasih Nur, Gubernur Jateng Mardiyanto, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Sumarsono, dan Sri Susuhunan Paku Buwono XII.

Wapres Megawati menunjukkan, penyelenggaraan kegiatan seperti BSF merupakan bukti bahwa rakyat sebenarnya cukup berdaya membangun dirinya sendiri. Pameran seperti BSF 2000 bermanfaat untuk menunjukkan hasil-hasil kebudayaan setempat lewat produk yang dibuat masyarakat.

Menyinggung krisis ekonomi saat ini, Wapres menyatakan, “Semoga bisa terlewati dalam waktu singkat, karena seperti kita ketahui roda ekonomi sudah mulai bergerak kembali meskipun belum bisa dimaksimalkan.”

Pameran dan promosi industri dan kerajinan seperti BSF, lanjut Wapres, sekaligus mencerminkan stabilitas keamanan di Jateng berjalan baik. Kepada warga Solo Megawati berpesan, “Sebagai Ibu kamu, saya berharap agar stabilitas (keamanan) di daerah ini bisa dijaga. Keamanan dan pengamanan suatu daerah sebenarnya bisa berjalan dengan baik kalau warganya sendiri menghendaki hal itu.”

Perjuangkan hak paten

Pada saat meresmikan Museum Batik Kuno Danar Hadi, Solo, pada hari yang sama, Wapres Megawati menyatakan, pemerintah mendorong seniman berusaha mematenkan karya-karyanya. Soal hak paten bagi karya seni dianggap amat penting, agar di tengah era globalisasi dan pasar bebas nanti hasil karya budaya bangsa Indonesia tidak justru diklaim sebagai karya bangsa lain.

“Saya selalu mengingatkan dan berusaha menyosialisasikan hak paten ini. Hak paten saat ini sangat dibutuhkan. Apalagi pada saat kita memasuki pasar bebas dan globalisasi nanti. Jangan-jangan karya seni batik tulis kita seperti Udan Liris atau Kawung diakui sebagai milik bangsa lain. Padahal, itu merupakan warisan nenek moyang kita,” ujar Megawati.

Museum Batik Kuno Danar Hadi menempati bekas bangunan klasik Jawa yang dikenal sebagai Ndalem Wuryaningratan, di tepi Jalan Slamet Riyadi, Solo. Menurut pengusaha batik Danar Hadi yang juga pemilik museum, Santosa Dullah, museum yang mulai direnovasi tahun 1999 itu kini memiliki koleksi batik kuno dari berbagai corak dan gaya yang bernilai tinggi, seperti Batik Keraton, Batik Belanda, Batik Cina, Batik Hokokai, Batik Indonesia, dan Batik Saudagaran.

Jumlah koleksinya 10.000 potong, di antaranya diperoleh dari Museum Troupen, Belanda. Dalam kesempatan itu Wapres ikut menyumbangkan salah satu batik koleksi pribadinya yang bercorak Parang Kusumo Tumurun menjadi koleksi Museum Batik Kuno Danar Hadi.

Sumber : (asa) Kompas Cetak, Solo

Carmanita dan Lahirnya Batik Baru

Sunday, October 15th, 2000

PERGELARAN busana rancangan Carmanita di Hotel Mulia hari Rabu (11/10) malam lalu memang bukan pergelaran independen. Carmanita berkerja sama dengan produsen serat regang Lycra dari DuPont membuat batik di atas bahan yang mengandung serat regang. Tak mengherankan bila unsur bahan yang serba regang amat dominan dalam rancangan Carmanita kali ini.

Untuk Lycra, ini merupakan yang pertama kalinya bekerja sama dengan perancang yang menggunakan teknik batik. Sebelumnya, Lycra pernah bekerja sama dengan Urban Crew di Indonesia, atau dengan perancang dunia macam Giorgio Armani dan Donna Karan. Untuk Carmanita, ini juga kerja pertamanya membuat ragam hias batik di atas bahan yang memiliki daya regang tinggi ini. Tidak heran bila tajuk pergelaran ini adalah The Birth of Batik Stretch.

Meskipun mereka “baru” saling kenal, kerja sama ini kelihatannya akan berlanjut. Carmanita yang mendapat kontrak merancang seragam sebuah maskapai penerbangan dalam negeri, kemungkinan akan menggunakan teknik batik di atas Lycra untuk keperluan itu dengan kemungkinan mendapatkan bridging loan dari Lycra Asia Timur. “Pasti tidak batik tulis, mungkin akan menggunakan cap atau cara lain,” kata Carmanita.

Pergelaran rancangan busananya sendiri sangat kental menggambarkan ciri khas Carmanita, panggilan akrab perancang yang sekolah formalnya adalah administrasi bisnis. Perempuan yang akrab dengan alam ini menggunakan motif jerapah-tentu saja ala Carmanita yang menggunakan warna merah-oranye indigo sol, bintang laut, motif macan tutul, gajah-gajah mungil, zebra dalam warna ungu dan merah jambu, atau motif bunga melati dan buah stroberi.

Memadukan teknik batik yang sudah berusia ratusan tahun dengan benang regang buatan manusia yang ditemukan tahun 1958 di Delaware, AS, entah benang tersebut dicampur dengan katun denim, berbentuk kain yang berlubang-lubang seperti jaring dalam berbagai ukuran, atau berupa renda yang regang, jelas memerlukan teknik berbeda dibandingkan membatik di atas sutera atau katun. Carmanita perlu waktu dua tahun untuk melakukan percobaan sebelum akhirnya menemukan teknik mencanting yang pas, jenis malam yang tepat, serta pewarnaan yang memberikan hasil seperti yang diinginkan.

***

CARMANITA masih tetap dengan ciri khasnya yaitu padu padan yang kuat yang terdiri dari dua, tiga atau empat potong pakaian untuk berbagai tampilan yang berbeda. Kutang yang dipadukan dengan celana sepanjang tengah lutut, menjadi sensual karena dipadukan dengan atasan tembus pandang yang berkancing satu. Gaun berpundak tali dipadankan dengan celana panjang denim, sementara yang lain berupa rok panjang yang dipadankan dengan blus berkerah kerut (ruffle) dengan satu kancing.

Bila ingin tampil beda, ada tambahan payet-payet dan sedikit sulam di ujung-ujung rok atau di tepian kerah gaun dengan bahan renda. Minimal tetapi tetap gemerlap. Bahan-bahan regang ini membuat baju jatuh melekat di tubuh dan tidak menghalangi gerak. Padu padan yang dibuat Carmanita memberi kesan sensual, tanpa perlu terpeleset menjadi rancangan yang mengumbar tubuh. Pemakaian bahan transparan untuk gaya serba tumpuk menjadi kuncinya.

Kesan sportif kali ini sangat kuat. Legging hingga ke ujung kaki, celana panjang hingga ke tengah betis, atau hotpant, banyak muncul. Carmanita sendiri adalah seorang penggemar legging yang sering dipadukannya dengan kain panjang batik. “Lihat, dengan memakai legging, kita menjadi lebih bebas bergerak,” kata Carmanita yang melilitkan kain dengan gaya informal.

Warna-warna tanah, warna ungu, biru, hijau, merah muda, oranye, dan kuning yang manis bukan cuma warna untuk perempuan. Warna-warna yang semula dianggap hanya cocok untuk busana perempuan itu sekarang juga untuk laki-laki. Sayangnya Carmanita kali ini tidak mencoba menawarkan lebih jauh lagi, merancang “rok” (yang sebenarnya adalah sarung) untuk kaum adam. Seperti (kain) batik yang merupakan sebuah bentuk seni membuat ragam hias dan juga cara memakai kain yang memiliki akar yang dalam di Indonesia, sarung pun bukan hal baru di sini. Bila kaum hawa didorong untuk menjadi androgini dengan mengenakan pakaian bergaya laki-laki seperti celana panjang dan setelan jaket power suit, tidakkah hal yang sebaliknya juga bisa dilakukan karena setiap orang pada dasarnya memiliki sifat-sifat maskulin dan feminin? Bila setiap orang mengadopsi sifat-sifat baik dari lawan jenisnya, mungkin Bumi akan menjadi tempat yang lebih menyenangkan. Dan, busana memberi kesempatan untuk mengekspresikan diri.

***

CARMANITA yang mendapatkan pemahamannya tentang batik terutama dari neneknya almarhumah Ny Bintang Sudibyo (Ibu Sud) ini akhirnya menemukan bentuk ekspresi kreativitasnya melalui batik. Di tangan Carmanita batik tidak berhenti sebagai motif tradisional yang selama ini kita kenal, melainkan sudah menjadi bentuk ekspresi modern. Ia juga mengambil batik sebagai sebuah teknik menahan warna memakai lilin untuk menghasilkan ragam hias.

Maka ketika Carmanita membuat motif bintang laut, motif stroberi (bukan buah asli daerah tropis), motif macan tutul, jerapah dan zebra (yang bukan binatang asli Indonesia), motif gajah, motif ondel-ondel, atau teratai, semuanya menggunakan alam pikir batik Indonesia. Tarikan garis dan titik-titik yang mengisi sebagai latar belakang (isen-isen) adalah garis dan titik dari khazanah batik Jawa. Meskipun begitu, motif-motif itu tidak tergelincir menjadi bentuk tradional yang klise.

“Kami memiliki kesamaan visi. DuPont sangat peduli terhadap lingkungan, begitu juga Carmanita yang antara lain menggunakan pewarna alam untuk batik-batiknya. Begitu juga dengan visi good corporate citizen, kami cocok. Tentu saja karena dia sudah punya nama,” kata Djonny Suwanto dari DuPont Far East Inc, Lycra Marketing Manager.

Sumber : (ninuk mp) Kompas Cetak, Jakarta

Terobosan Baru Batik di Atas Lycra

Thursday, October 12th, 2000

Peragaan Busana Karya CarmanitaPenampilan motif batik memang semakin beragam. Kali ini, corak unik itu hadir pada media yang tak lazim, yakni di atas lycra atau kain serat. Terobosan itulah yang ditawarkan kreasi baru desainer Carmanita. Dia berhasil melukiskan batiknya di atas lycra yang sebelumnya belum pernah dilakukan orang. Peragaan busana dan peluncuran batik di atas kain serat itu digelar di Jakarta, Rabu (11/10) malam. Ajang gelar kreasi busana itu dihadiri Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan desainer Iwan Tirta serta pengamat mode lainnya.

Menurut Carmanita, batik di atas kain serat ini memang merupakan terobosan baru. Sebelumnya batik yang proses pelukisan motifnya harus menggunakan malam itu, hanya bisa menempel di atas kain katun, sutera atau busana etnik lainnya. Kini, batik dapat menghiasi kain serat yang memiliki keunggulan dan daya lentur lebih tinggi. Sehingga, hampir seluruh jenis busana mulai dari formal, sport, renang, dan busana santai juga dapat menggunakan batik kain serat.

Kain serat yang dipakai Carmanita ini mengunggulkan hasil produk lokal. Sayangnya, batik dengan kain serat ini harganya mencapai 20 persen lebih mahal ketimbang batik biasa. Entah mengapa, batik lycra sementara ini rupanya lebih diutamakan untuk konsumsi masyarakat kelas menengah atas saja.

Sumber : (BMI/Kawiyan dan Adi Iskarpandi) Liputan6.com, Jakarta

Batik dan Inovasi Carmanita

Sunday, October 1st, 2000

MEMBUAT batik di atas Lycra? Kenapa tidak? Carmanita sudah melakukannya, meskipun koleksinya itu baru akan digelar untuk umum pertengahan Oktober ini.

Batik adalah teknik membuat ragam hias dengan menahan warna menggunakan malam. Di Indonesia, batik juga secara awam diartikan sebagai ragam hias khas yang berakar dari motif yang berkembang di Jawa. Asalnya adalah garis dan titik yang kemudian membentuk beragam motif yang jumlah sudah tak terhitung lagi.

Batik terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Motifnya seperti terlihat dari perjalanan batik, dengan mudah mengadopsi perubahan sosial yang terjadi di lingkungan para pembatik se-perti diperlihatkan batik pesisir. Warna pun begitu, kecuali untuk batik pedalaman yang mempertahankan warna sogan. Inovasi terhadap batik terus berlanjut. Malaysia berambisi membuat batik tulis secara massal dengan bantuan mesin canting yang digerakkan komputer, untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja pembatik. Iwan Tirta menambahkan prada keemasan di atas batik dan memperkenalkan batik di atas kain sutera. Batik pun pernah dicoba dibuat di atas kain wol dengan sponsor dari organisasi wol Australia, meskipun sekarang tidak terdengar lagi gaungnya. Mungkin wol memang bukan jenis kain yang cocok untuk Indonesia, atau batik di atas wol menjadi terlalu mahal sehingga produsen maupun penggunanya sangat terbatas.

Sekarang, Carmanita bekerja sama dengan Dupont membuat batik di atas Lycra. Lycra adalah jenis serat yang ditemukan dan diproduksi Dupont di Deleware, AS, pada tahun 1958. Ketika pertama kali ditemukan, Lycra digunakan terbatas untuk pakaian dalam. Pada tahun 1970-an, Lycra dicoba digunakan untuk pakaian olahraga terutama renang. Sifatnya yang bisa meregang dan kembali ke bentuk semula dengan hampir sempurna, membuat Lycra diterima luas. Pada dekade 1990-an Lycra kemudian mulai masuk ke dalam pakaian luar, dicampur dengan berbagai serat lain baik serat alam maupun serat buatan manusia seperti poliester.

***

TERNYATA, menurut Carmanita, tantangan membuat batik di atas bahan yang mengandung Lycra, berbeda lagi. Lycra sebagai serat sintetis yang memberi sigat regang, dicampur dengan berbagai bahan lain seperti sutera, katun, poliester, dan sebagainya, dengan komposisi Lycra sekitar lima persen. Sifat regang itu membawa konsekuensi dalam penyerapan warna. Tidak kurang dari dua tahun Carmanita melakukan percobaan sebelum akhirnya ia menemukan formulasi warna, jenis motif, dan canting yang cocok untuk setiap bahan dan motif.

Carmanita menggunakan berbagai jenis bahan untuk proyek ini, antara lain campuran poliester dengan Lycra, dan katun dengan Lycra. Ia mencontohkan untuk kain “jaring ikan” yang berlubang-lubang dalam berbagai ukuran, warna melebar ke kiri kanan dengan mudah sehingga pencoletan hanya diberikan sedikit saja. Untuk jenis bahan ini, ia menggunakan canting yang berukuran besar karena sulit mendapatkan ketajaman tepi garis seperti bila batik dikerjakan di atas kain katun halus.

“Saya tidak tahu kenapa saya mereka kontak karena saya tidak mengenal orang-orang dari Dupont,” kata Carmanita tentang keterlibatannya dalam proyek ini. Yang jelas, proyek ini menjadi salah satu poyek internasional Dupont. “Indonesia dipilih karena kekayaan warisan budayanya,” tutur Carmanita.

Tidak mudah menjalani tantangan ini karena nama Indonesia ada di dalamnya. Tentang batik sendiri, perancang yang terus mendalami batik ini sangat yakin akan terus bertahan. Sebagai motif, sudah sangat sering batik dimanfaatkan oleh perancang dunia. Sebagai teknik membentuk motif, batik cap terutama, memasuki pasar internasional. “Setahu saya Laura Ashley membuat sebagian kain untuk home furnishing (barang-barang untuk mendandani rumah) di Pekalongan dengan memakai batik cap,” tutur Carmanita. Tentu saja motif batiknya disesuaikan dengan selera internasional, jadi agak berbeda dari motif batik tradisional.

Mengintip koleksi Carmanita, batik akhirnya menjadi sebuah teknik membuat motif ketika berbicara batik sebagai mode. Bila batik “hanya” menjadi sarana membuat motif, bagaimana ia akan bersaing dengan motif cetak yang relatif lebih murah dan massal? Jawabnya barangkali batik tetap akan ada peminatnya, tetapi secara relatif akan menjadi eksklusif.

Sumber : (nmp) Kompas Cetak, Jakarta