Perubahan Zaman Batik Iwan Tirta
Sunday, October 29th, 2000
Siapa pernah berpikir bunga raya berwarna hitam suatu saat akan menjadi sebuah ragam hias batik? Iwan Tirta membuatnya dalam ukuran besar pula, dan tentu dengan latar belakang yang rumit. Garis-garis halus dan isen-isen keemasan dengan dasar berwarna merah bata membuat bunga raya itu tampil anggun sebagai gaun malam. Ada rasa bahwa batik ternyata masih bisa mengikuti perubahan zaman, tergantung bagaimana rasa dalam artisan batik menerjemahkan kembali motif tradisional tersebut.Itu hanyalah satu dari puluhan batik baru buatan Iwan Tirta yang resminya akan digelar di Keraton Yogyakarta pada tanggal 31 Oktober mendatang. Pergelaran untuk mengumpulkan dana bagi Yayasan Kanker Indonesia Cabang Yogyakarta itu bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke-48 (tumbuk enem windu) GKR Hemas. Sebagian dari koleksi yang dinamai Iwan sebagai Batik Millenium itu, Senin sore pekan lalu disuguhkan kepada teman-teman dan relasi Iwan Tirta di toko batik Iwan di Jalan Panarukan, Jakarta Pusat.
Sebagai masterpiece Iwan menunjukkan dodot-dodot Wisma Batik Iwan Tirta yang akan dikenakan sembilan penari Bedhaya Amurwabhumi pada acara tersebut. “Ketika saya menunjukkan dodot tersebut kepada kerabat Keraton, mereka bisa menerima kehadiran saya,” kata Iwan.
Setelah sejak beberapa tahun lalu mendapat restu dari Istana Mangkunegara untuk mendokumentasikan batik-batik milik keluarga tersebut ke dalam data digital dan membuatkan pola motif batik-batik tersebut di atas kertas, sekarang Iwan ingin melakukan hal yang sama untuk batik Keraton Yogya. Meskipun telah mendapat izin dari GKR Hemas, tak luput Iwan mendapat pertanyaan dari kerabat Keraton tentang pemahamannya akan batik. Data tersebut nantinya akan disimpan di tempat Iwan dan di Keraton Yogya. Informasi seperti ini berguna untuk mengerti batik sehingga pengembangannya lebih maju.
“Saya berharap museum batik Danar Hadi di Solo tidak berhenti sebagai museum. Dengan sumber daya yang ada, museum bisa mendokumentasi, mempelajari, dan mengembangkan, supaya berguna untuk generasi muda,” kata Iwan tentang museum yang diresmikan Wapres Megawati dua pekan lalu.
Iwan juga mengajak Edward Hutabarat, Samuel Wattimena, Andre Rais, selain Chossy Latu, untuk menggarap batik-batik itu ke dalam busana kebaya, gaun untuk laki-laki, dan untuk perempuan.
“Supaya mereka punya kepekaan terhadap batik. Tugas saya menunjukkan batik kepada yang muda-muda, setelah itu terserah mereka untuk berpikir sendiri,” kata Iwan.
***
Ada keindahan khusus ketika mata ini menikmati batik-batik Iwan. Iwan yang sangat paham akan teknik pembuatan batik serta berbagai gaya maestro batik Indonesia, sejak bertahun-tahun lalu mampu melahirkan gaya batiknya sendiri. Dengan rendah hati ia mengatakan, ia belajar dari karya para maestro seperti KRT Hardjonagoro, Ny Praptini, almarhumah Bintang Soedibjo, atau Ny Setyowati, dan yang lainnya.
Ia tidak takut menggunakan motif berukuran besar, terutama bila itu untuk rok panjang pada ballgown. Ia juga paham bagaimana mengubah bentuk motif batik Yogyakarta seperti lereng, yang berukuran besar dan gagah sehingga lebih luwes sebagai gaun perempuan dengan sedikit memiringkan motif tersebut.
“Kain batik kan awalnya dipakai sebagai kain dari pinggang ke bawah. Sekarang harus dipikirkan bagaimana ketika ia dipakai sebagai gaun dari dada ke bawah. Motif yang besar akan menenggelamkan pemakainya,” kata Iwan usai pergelaran yang diawali jamuan minum teh Senin lalu.
Iwan mengambil motif batik Jawa Hokokai yang berasal dari masa pendudukan Jepang dengan mengadaptasi kupu-kupu dan bunga mawar dan krisannya, seperti gaun berlatar belakang biru yang dikenakan peragawati senior Ria Juwita. Ia juga mengambil motif batik Palembang dan digubahnya dalam warna merah jambu, batik Solo dan Yogyakarta tentu saja, termasuk motif kawung yang berasal dari Hamengku Buwono VII yang diberinya perada perak.
“Warna batiknya abu-abu, mosok mau diprada emas, ora keno,” kata Iwan yang mencari bahan prada itu hingga ke Amerika. Di tangan Iwan, motif-motif tersebut muncul dalam warna-warna masa kini dan batik pun tidak terasa seperti sebuah benda tradisional yang mati ditelan zaman.
Tak heran ketika pergelaran berakhir, Ny Robert S Gelbard, istri Dubes AS untuk Indonesia, dengan bersemangat memuji karya Iwan. “Indah sekali, luar biasa. Saya sejak lama menyukai batik. Ketika kami di Filipina 30 tahun lalu, saya sudah memiliki batik dari Indonesia. Di kediaman kami di Jakarta, ada wall hanging karya Iwan,” tuturnya.
Sekali lagi, Indonesia beruntung memiliki Iwan Tirta, maestro batik yang tidak berhenti belajar dan berkarya di usianya yang memasuki senja.
“Apa yang akan kita bawa kalau pulang menghadap-Nya, saya membaktikan pengetahuan saya untuk masyarakat,” kata Iwan.
RASA - Batik selalu mengikuti perkembangan zaman, tergantung rasa dalam artisannya. Iwan Tirta menerjemahkan motif tradisional batik ke dalam bahasa masyarakat urban yang kosmopolit.
Sumber : (Ninuk Mardiana Pambudy) Kompas Cetak, Jakarta
Batik bisa disebut produk asli Indonesia, bila ditilik bahwa produk kain yang mengalami proses celup rintang ini dikenal sejak abad V di Tanah Pasundan dan Tanah Toraja.
Penampilan motif batik memang semakin beragam. Kali ini, corak unik itu hadir pada media yang tak lazim, yakni di atas lycra atau kain serat. Terobosan itulah yang ditawarkan kreasi baru desainer Carmanita. Dia berhasil melukiskan batiknya di atas lycra yang sebelumnya belum pernah dilakukan orang. Peragaan busana dan peluncuran batik di atas kain serat itu digelar di Jakarta, Rabu (11/10) malam. Ajang gelar kreasi busana itu dihadiri Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan desainer Iwan Tirta serta pengamat mode lainnya.