Seorang perempuan tua berkebaya kusut berjalan gontai di bawah sinar matahari terik. Jalannya agak membungkuk karena sebuah bakul bambu terikat di punggung. Sinar wajahnya muram. Bakul di punggung itu terlihat penuh batik, hasil buatannya selama berbulan-bulan. Batik hasil buatannya itu tidak laku di pasar. Padahal untuk menjualnya di pasar, perempuan itu harus berjalan sejauh tiga
kilometer.Potret sedih kehidupan pembatik di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban, Jawa Timur, itu menggugah semangat Uswatun Hasanah (30) menjadi juragan batik. Cita-cita mulia perempuan itu sudah diwujudkannya sejak tahun 1993 lalu dan kini batik tulis gedog Tuban mulai mendunia setelah rajin berpameran di Bali, Surabaya, dan Yogyakarta.

“Saya ingin mengubah paradigma masyarakat desa bahwa membatik juga bisa menjadi mesin penghasil uang. Jadi tidak semata-mata uang hanya bisa diperoleh dari bertani,” kata perempuan yang ditemui di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban. Ketika ditemui, perempuan lulusan SMA ini tengah memeriksa kondisi tembok sebuah ruangan yang hendak dijadikan tempat memamerkan sekaligus memasarkan batiknya.

Nasib sedih perempuan-perempuan pembatik membuatnya tidak peduli terhadap larangan orangtua maupun suaminya sendiri. Ia bahkan semakin asyik dengan usaha batik-nya. Ia memilih berpisah dari suaminya, ketimbang meninggalkan batik. Kecintaan akan batik dan keinginan menolong pembatik di desanya, diwujudkan dengan menjual rumah kecil miliknya seharga Rp 5 juta.

Memberdayakan pembatik dilakukan Uswatun dengan merangkul seluruh perajin batik di desanya termasuk generasi muda. Perajin itu dibinanya, sekaligus menurunkan ilmunya tentang mewarnai batik yang cenderung abstrak dan warna alam. Setiap pembatik borongan itu diberi honor antara
Rp 5.000-Rp 25.000 per lembar batik sesuai motif. Sedangkan ongkos tenun Rp 8.000-Rp 10.000. Biasanya penggarapan batik dilakukan di rumah masing-masing pembatik. Uswatun mengontrol pekerjaan pembatikan dengan sistem door to door setiap hari.

Uswatun mengakui jika dirinya sudah telanjur sayang dengan profesi membatik dan sampai kapan pun bisnis ini, takkan pernah ditinggalkan. “Membatik itu sebagian dari jiwa saya,” tutur Uswatun yang bisa memintal benang sejak kelas satu SD itu. Perempuan mandiri ini pun akhirnya tidak ragu-ragu untuk bercerai dengan suami setelah perkawinannya berjalan 2,5 tahun.

“Saya pilih cerai dengan suami karena dia melarang saya menggeluti pekerjaan membatik,” aku Uswatun kelahiran Tuban, Jatim, tahun 1970 itu lagi sembari menambahkan kesempatan belajar batik semakin terbuka lebar setelah dirinya berpisah dengan suami.

Diceritakan, sejak kelas satu SD ia sudah bisa memintal kapas jadi benang. Ilmu memintal benang diperolehnya dari neneknya yang juga pembatik. Meski ia pintar mengerjakan selembar batik dari bahan dasar gumpalan kapas, ia tidak bebas berkarya. Keluarganya menolak Uswatun menggeluti batik dalam kesehariannya dan menyarankan jadi petani saja. Alasannya, membatik sangat tidak menjanjikan.

***

PASAR batik yang semakin menjanjikan itu kini dibidik seluruh pembatik di Jatim. Seluruh pembatik tampak berjuang mencari ciri khas agar tidak ditinggalkan konsumen. Perajin batik menyadari, supaya bisa menarik minat pembeli, mereka harus pandai-pandai memilih motif dan warna. Batik tulis dengan warna natural kini membumi karena konsumen lokal dan asing memburu batik tulis bercorak modern dengan warna alam. Peluang ini tidak disia-siakan perajin batik di propinsi ini, tidak ketinggalan Uswatun Hasanah (30), penerus batik tulis gedog Tuban.

Guna memperdalam ilmu menyangkut pewarnaan batik, anak keempat dari lima bersaudara ini rajin mengikuti berbagai pelatihan terutama menyangkut teknik pewarnaan batik di Balai Batik Yogyakarta. Meski sudah bisa menurunkan ilmu mewarna batik kepada perajin lain, Uswatun merasa belum puas juga sehingga setiap kesempatan dimanfaatkan termasuk baca buku tentang pewarnaan batik. Dirinya pun kerap bepergian ke pelosok-pelosok untuk mencari ide pengembangan batiknya.

“Ketika saya ke pantai, saya lihat nelayan menangkap ikan dengan kain gedog yang tenunannya jarang-jarang. Pemandangan itu menggugah saya untuk membuat selendang dengan tenunan yang jarang-jarang. Hasilnya, selendang itu sangat disukai konsumen,” katanya. Salah satu ciri batik gedog dari Tuban adalah serat benangnya yang kasar.

KINI untuk melestarikan batik gedog Tuban yang cenderung berwarna nila dan gelap ini ia sering diundang pameran di berbagai kota seperti di Surabaya, Bali, Yogyakarta. Tak segan-segan ia mencari informasi menyangkut kesempatan pameran ke berbagai instansi dan lembaga. Meskipun biaya pameran sering tidak cucuk (sesuai) dengan pendapatan, bagi Uswatun yang penting batik tulis gedog bisa dikenal masyarakat luas.

Uswatun yang sempat menjadi distributor terasi ini, terus mengembangkan warna alam. Guna memperoleh warna batik yang sangat alami, percobaan demi percobaan dilakukannya. Inovasinya melahirkan warna alam sesuai dengan warna aslinya terus dimunculkan. “Semua daun, pohon serta tumbuhan sudah saya coba untuk mencari warna alam yang benar-benar alami. Ciri khas batik gedog warnanya nila, agak kegelap-gelapan dan warna ini saya pertahankan sebagai identitas batik gedog Tuban,” kata Uswatun.

Juragan batik dengan 200 perajin ini menyebutkan, di Tuban terdapat sekitar 1.500 pembatik yang tersebar di lima desa yakni Margorejo, Karangloh, Jurorejo, Kedungrejo dan Gaji. Khusus batik gedog pusatnya di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban.

Pembatik umumnya mendapat ilmu membatik dari ibu mereka. Kapas yang dibutuhkan 1.500 pembatik sekecamatan Kerek sekitar satu ton per bulan. Harga kapas saat ini berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Setiap 1,5 kilogram kapas jika ditenun menghasilkan selembar batik berukuran 2,5 meter dengan lebar 85 sentimeter.

Membatik bukan pekerjaan utama melainkan sebagai pekerjaan sambilan kaum perempuan di desa batik. Saat musim tanam dan panen, tidak ada seorang pun mengerjakan batik karena semua memilih turun ke sawah. Maka sebelum musim tanam atau musim panen, sebagai juragan batik yang harus memenuhi pesanan, Uswatun membuat stok sebanyak-banyaknya. “Membatik ini rezekinya tidak pasti ya rok-rok asemlah (penghasilan tidak tentu). Tak jarang stok menumpuk, pembeli tidak ada, ketika pasar ramai giliran stok yang tidak ada,” keluhnya.

Meski banyak kendala, Uswatun merasa sudah mantap untuk terus menggeluti dunia batik. Diyakininya batik tidak akan pernah punah. Justru terpenting batik tulis gedog akan semakin dikenal dan memasyarakat karena proses pembuatannya “unik” dibanding dengan batik tulis lain yang tinggal membatik di atas selembar kain produksi pabrik.

“Keistimewaan batik gedog, bukan hanya proses pembuatannya, tetapi juga motifnya seperti panjiori, kenongo uleren, ganggeng, panji krentil, panji serong dan panji konang. Tiga motif batik terakhir dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif panji krentil berwarna nila justru dinyakini bisa menyembuhkan penyakit,” ungkap Uswatun.

Namun, di tengah cerahnya pasar batik gedog, mulai muncul kekhawatiran tidak mampunya ia memenuhi pesanan. Kehadiran pengepul batik dari luar Tuban, dengan tawaran harga lebih tinggi membuat pembatik memilih untuk menjual batik kepada pengepul. Bahan baku batik serta motif dan warna seluruhnya milik Uswatun, tetapi ketika sudah jadi batik justru dijual ke pengepul.

Berangkat dari pengalaman ini, Uswatun kini terus memberdayakan perajin batik. Selain meningkatkan pengetahuan soal batik, ongkos kerja pun terus direvisi sehingga kebutuhan pembatik terpenuhi. “Jika perajin kuat terutama dalam modal, segala rayuan pengepul bisa ditepis,” kata Ketua Kelompok Pembatik Gedog Karangrejo ini.

Salah satu langkah menghadang kehadiran pengepul di desa itu, Uswatun terus memberdayakan pembatik di desanya dan memperkuat pemasaran. “Semua hasil karya perajin di desa ini saya beli dengan harga tinggi. Produk perajin Desa Karangrejo dilego ke pasar bebas tanpa perantara harganya antara Rp 12.500 hingga
Rp 450.000 per lembar sedangkan kaus Rp 28.000 – Rp 37.000. Saya tidak mengambil untung besar, paling utama perajin konsisten dan tidak meninggalkan profesi sebagai pembatik.”

Sumber : (eta/arn) Kompas Cetak, Jakarta