Batik Jawa Timur Batiknya Tulis, tetapi tidak Ada Pasar

“Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela saja memakai batik di setiap kesempatan. Kita yang punya batik, justru hanya memakai pada saat-saat tertentu.” Mungkin ini kalimat paling pedas untuk menggambarkan posisi batik Indonesia. Saat ini, batik berasosiasi dengan acara seremonial. Batik kini tidak lagi menjadi pakaian sehari-hari. Bagi Shahputra, Ketua Asosiasi Produsen dan Eksportir Handicraft Indonesia (Asephi) Jawa Timur, kondisi batik saat ini sebenarnya sangat menyedihkan. Shahputra merasa beruntung dengan adanya kiprah Go Tik Swan, Iwan Tirta, Danar Hadi, Obin, Carmanita, dan perancang lain. Mereka telah memberi nilai tambah bagi batik Indonesia, sehingga batik terus bertahan dan menjadi produk global. “Apalagi Presiden Abdurrahman Wahid lebih sering menggunakan batik daripada safari sehingga ikut mempromosikan pemakaian batik,” ujarnya.

Batik yang dipuja-puja sebagai salah satu identitas keindonesiaan, tidak otomatis mengangkat harkat hidup perajinnya, di antaranya perajin batik Jawa Timur. Perkembangan batik di Jatim agak lambat dibandingkan dengan batik Jawa Tengah. Mungkin karena batik di Jawa Tengah dan Yogyakarta memiliki patron dari kalangan keraton sehingga selalu ada inovasi.

Tidak dikenalnya Jawa Timur sebagai daerah produsen batik disebabkan oleh motif dan coraknya yang tampak hanya disukai masyarakat lokal. Menurut Miftach, perajin batik Dahlia dari Kampung Jetis, Sidoarjo, batik buatannya hanya disukai orang-orang Madura dan masyarakat pesisir. Sedangkan masyarakat pedalaman, seperti Madiun, Kediri, dan Malang, tidak menyukainya. “Terus terang saya agak sulit mengembangkan usaha batik saya, karena saya hanya bisa jual batik saya di Pasar Pabean Surabaya. Kalau saya jual di kota-kota lain, tidak pernah laku,” aku Miftach.

***

PADA zaman penjajahan Belanda, batik dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yakni batik vorstenlanden dan batik pesisir. Yang disebut batik vorstenlanden menurut buku Ungkapan Sehelai Batik karya Rahmaniar Soerianata Djoemena adalah batik dari daerah Solo dan Yogyakarta. Yang dinamakan batik pesisir adalah semua batik yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo dan Yogyakarta. Pembagian asal batik dalam dua kelompok ini terutama berdasarkan sifat ragam hias dan warnanya.

Batik Jatim mempunyai perbedaan mencolok jika dibandingkan dengan batik Jawa Tengah. Batik Jawa Tengah pedalaman dari Solo dan Yogyakarta, menggunakan warna-warna sogan, indigo, hitam dan putih. Jawa Tengah mempunyai motif dasar yang relatif terikat pada pakem tertentu. Motif-motif ini mempunyai sifat simbolis dan berlatarkan kebudayaan Hindu-Jawa.

Sedangkan batik Jawa Timur mempunyai motif yang lebih bebas, tanpa terikat pakem-pakem motif. Paina Hartono, perajin batik tulis dari Kecamatan Tulangan Sidoarjo, bahkan dengan jelas-jelas menyatakan dirinya bersedia menerima pesanan motif apa saja. “Mau bunganya merunduk atau tegak. Atau diberi tulisan nama, atau apa saja kami terima. Saya tidak terikat pakem bahwa motif batik harus begini-begitu. Yang saya pegang, satu desain saya hanya dipakai maksimal untuk dua kain,” kata Paina.

Ragam hias batik Jawa Timur bersifat naturalis dan dipengaruhi berbagai kebudayaan asing terlihat sangat kuat. Warna-warna yang dipakai batik Jawa Timur tampak lebih cerah.

Batik Jawa Timur sebenarnya tersebar merata di seluruh wilayah Jatim. Hanya saja ada lima wilayah di mana perajin batik lebih banyak ditemukan, yakni di Madura, Tuban, Sidoarjo, Tulungagung, dan Banyuwangi. Sifatnya yang menyebar se-antero Jatim inilah yang membuat para perajin itu jalan sendiri-sendiri. Ditambah tidak ada wadah yang menyatukan mereka, sehingga perkembangannya sangat lambat.

Perkembangan yang lambat ini jika dibandingkan dengan batik Jawa Tengah, ternyata juga berdampak pada cara produksi. Hanya sedikit -kalau tidak boleh dikatakan tidak ada- perajin batik yang membuat batik cap. Batik Jawa Timur tetap terpelihara sebagai batik yang pembuatannya menggunakan malam. Pemakaian cap dari tembaga hanya dilakukan untuk motif pinggir kain atau motif tertentu. Proses manual itu ternyata memakan waktu cukup lama. Untuk membuat satu kain batik ukuran 250 x 85 sentimeter memerlukan waktu satu minggu sampai 10 hari. Itu pun masih tergantung pada motif yang dipakai. Jika motif yang dipakai rumit dan warna yang digunakan sangat sulit pemunculannya, seorang perajin bisa menghabiskan waktu tiga bulan untuk menyelesaikannya.

“Mungkin kalau memakai warna-warna sintetis kita bisa sedikit menghemat waktu, tetapi karena kita memakai warna-warna alam maka kita harus mengulang pewarnaan berkali-kali agar warna yang dikehendaki bisa muncul. Ini yang membuat proses pembuatannya sangat lama,” kata Uswatun Hasanah, perajin batik gedog dari Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban.

Lamanya proses pembuatan batik ini menyebabkan batik yang diproduksi hanya sedikit tetapi belum tentu mempunyai nilai jual tinggi. Seperti di Sumenep, sepotong sarung batik tulis dengan warna sintetis ada yang dijual dengan harga Rp 30.000. Sedangkan kain panjang dijual hanya Rp 40.000. Tetapi kalau dengan warna alam, kainnya dari sutera Super-54 dan dibatik luar-dalam, maka harganya bisa Rp 700.000.

Namun, walau harga batik sangat menjanjikan, tetapi sebenarnya ada kekhawatiran dari para perajin di Jawa Timur. Komunitas mereka yang tersebar di seluruh Jatim, menyulitkan mereka menciptakan pasar. Para perajin batik sangat menyadari, pembeli lebih senang datang ke satu tempat yang jelas yang terdiri dari bermacam-macam pembatik, daripada keluar masuk desa untuk mencari batik yang sesuai selera.

Yang bisa mereka lakukan hanyalah rajin mendatangi kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag), baik tingkat kabupaten maupun propinsi. Mereka berharap, jika ada pameran atau pemda membutuhkan cinderamata, Kandep mengambil batik contoh. Setelah itu, mereka hanya bisa menunggu hasil promosi dari mulut ke mulut. Jika keadaan ini terus berlanjut, profesi sebagai pembatik akan semakin tidak diminati karena pemilik batik hanya bisa memberikan pekerjaan berdasarkan pesanan yang masuk. Kalau tidak ada pesanan, ya tidak ada pekerjaan , dan tidak ada upah. Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), yang dibentuk secara nasional untuk membantu para perajin batik dalam pengadaan bahan baku dan pemasaran, ternyata juga tidak bisa membantu perkembangan batik Jatim.

“GKBI sudah mati lama di Sidoarjo. Para pengurusnya pun sudah tidak tahu di mana tinggalnya. Memang GKBI bisa membantu kami mendapatkan bahan baku, tetapi waktu itu tidak terjalin komunikasi yang baik antara pengurus dengan perajin. Akhirnya para perajin jalan sendiri-sendiri, dan GKBI mati,” kata Miftach.

Untunglah para perajin batik itu tidak berpangku tangan. Menurut Miftach, 15 perajin batik di Kampung Jetis akhirnya memutuskan membentuk Kelompok Usaha Batik (KUB) yang didirikan sekitar tiga bulan lalu dan belum berbadan hukum.

“Kami ingin selalu memajukan usaha kami. Jika kami sendiri-sendiri, tentunya kami sulit mendapatkan kesempatan maju dari pemerintah, seperti pinjaman modal kerja, pengadaan bahan baku, atau diikutkan dalam pameran,” kata Miftach, yang menjabat sebagai bendahara dalam KUB tersebut.

Mursidi, Ketua KUB mengatakan, jika para perajin disatukan dalam satu wadah, kemungkinan datangnya tawaran untuk dipromosikan ke luar Sidoarjo akan lebih besar lagi. “Orang akan tahu ke mana mencari jika butuh batik. Dari perkumpulan tersebut, si pejabat bisa mendapatkan berbagai macam motif batik yang disukainya,” kata Mursidi.

Pembentukan KUB tersebut juga dilakukan untuk saling membantu antarperajin. “Dari 15 perajin Jetis, hanya lima perajin yang bisa dikatakan besar, sisanya bisa dibilang perajin kecil. Karena itu, kita ingin saling membantu agar semua bisa maju dan berkembang bersama, tidak ada lagi perajin yang dibilang kecil. Jika semua sudah maju, tentunya akan terjadi persaingan sehat, dan semua terpacu kreativitasnya,” ujar Mursidi.

Yang diinginkan para perajin batik hanyalah tempat berkumpul dan berkembang bersama. Mereka tidak ingin membangun perusahaan batik besar di mana akhirnya keberadaan para perajin itu luluh ke dalam perusahaan tersebut.

Menurut Paina, kehadiran perusahaan besar justru akan mengganggu jaringan pasar tradisional yang selama ini mereka tekuni. “Perusahaan besar akan hadir dengan kekuatan modal, kesiapan institusional, keandalan manajemen, dan memiliki akses pasar yang luas. Namun, kehadirannya ternyata menghancurkan jaringan pasar tradisional yang selama ini diisi para perajin batik kelas teri dari lapisan bawah,” katanya.

Para perajin kecil yang tidak mampu bersaing meraih pasar, akan menggantungkan diri kepada perusahaan besar yang baru berdiri itu. Mereka yang masih bisa bertahan, akhirnya hanya menjadi pemasok produk batik kepada perusahaan batik besar yang biasanya menampung dengan harga relatif rendah.

Melihat tingginya keinginan para perajin tersebut, memang sudah sewajarnya pemerintah mulai memikirkan menyediakan tempat komunitas perdagangan untuk perajin batik. Tempat seperti Pasar Klewer di Solo lebih mempunyai arti bagi mereka daripada Gedung GKBI yang megah di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Mungkin pembatik yang pernah masuk ke gedung tersebut masih bisa dihitung jumlahnya.

Sumber : (M Clara Wresti/Agnes Swetta Pandia) Kompas Cetak, Jakarta

5 Responses to “Batik Jawa Timur Batiknya Tulis, tetapi tidak Ada Pasar”

  1. Ayu Says:

    Agar terlihat lebih menarik, sebaiknya gambar kain batiknya diperbanyak. Gambar itu disertai oleh nama dan asal daerah batik itu sendiri.

  2. Susan Pang Says:

    Saat saya DiGerman bulan lalu,saya bertemu deng professor textile yang sangat tertarik dengan batik untuk diajarkan ke para mahasiswanya.Apakah saya bisa minta informasi lebih banyak dan juga alamt pengrajin batik tulis baik dijawa timur maupun daerah 2 lainnya sehingga saya bisa berbagi informasi dengan teman yang sangat tertarik dengan budaya kita tersebut?

    Atas bantuannya saya ucapkan terimakasih.
    Regards,

    Susan

  3. rahmad Says:

    teriiring doa dan salam kepada perajin batik di jawa timur saya sedang mempunyai suatu usaha tentang penjualan batik dengan bahan dari kulit pisang khusus untuk pembuatan batik. sehingga saya mempunyai kendala pada stok batik jadi bagi saudara yang mempunyai informasi mengenai bahan baku batik tersebut anda dapat menghubungi di line handphone 085272078618. atas kerja sama saya ucapkan terima Kasih.
    Wasalam

  4. Vero Says:

    Saya pikir memang persoalan batik ini perlu pemikiran yang lebih jitu untuk bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Jujur saja, saya orang Jawa Timur memang selama ini tidak mengenal batik Jetis, selain batik Madura dan gedog Tuban.
    Jangankan menjangkau masyarakat luar Jawa Timur, generasi muda Jawa Timur enggan menggunakan batik. Belum lagi membanjirnya batik dari daerah diluar Jawa Timur menyebabkan batik Jawa Timur tidak dikenal oleh masyarakat.

  5. DR SUSY DJUWITA Says:

    Kami dari KAMPOENG INDONESIA yang akan buka outlet pertama kami di Mall of Indonesia di Kelapa Gading Square JAKARTA dapat menampung PRODUK2 BATIK dari pengrajin yang mengalami kesulitan dalam pendistribusian.
    Mohon hubungi kami via email.
    Kami akan menjawab pertanyaan anda.

Leave a Reply