Pria-pria Berbatik di Kasino

TUMPUKAN koin-koin plastik terpasang rapi di atas meja. Seorang pria muda menaruh empat tumpukan setelah usai mencoret-coret kertasnya. Sekian detik kemudian terdengar bunyi bel tanda putaran akan dimulai. Lampu di bawah meja menyala di beberapa nomor.
Koin senilai 100 dan 50 ringgit yang dipasang pria tadi dalam waktu singkat berlipat jumlahnya. Untuk sesaat dia berhenti tidak ikut menaruh koinnya, tatapi cuma mengamati jalannya permainan. Lalu berikutnya dia memulai lagi dengan koin-koin yang lebih banyak, namun dengan nilai nominal per satuannya lebih kecil. Kali ini dia memasang di beberapa nomor. Sial, tak satu pun tersangkut. Tumpukan koin-koin itu pun segera berpindah tangan.

Rasanya tak sampai setengah jam, habis sudah simpanan koin yang dimiliki pria itu. Entah berapa modalnya, yang terang dia sudah sempat menggenggam ratusan ringgit Malaysia sebelum akhirnya melayang kembali.

Memang salah satu yang menarik dilihat (atau dilakukan) di Genting Highlands adalah bertaruh di arena kasino. Di tempat ini orang tak perlu harus takut ditangkap petugas karena berjudi, meski ini dilakukan di negara Malaysia yang sama dengan Indonesia melarang perjudian.

Cuma dengan memperlihatkan paspor, orang dewasa bisa masuk ke arena taruhan dan ikut bermain jackpot, rollet, bacarat, dan lainnya. Syarat lainnya, pengunjung pria wajib mengenakan pakaian formal yang dilengkapi dengan ikatan dasi di leher atau kalau mau lebih santai sedikit, memakai kemeja batik.

Kelihatannya pakaian yang terakhir ini lebih banyak dipilih oleh pengunjung kasino. Batik warna-warni begitu mendominasi tempat itu, bahkan sampai di luar kasino. Di lobi hotel di sekitarnya selalu saja bisa ditemukan pria-pria berpakaian batik.

Jangan bayangkan batik tulis dari bahan sutra, seperti yang biasa dipakai ketika orang menghadiri acara resmi di Jakarta, misalnya. Sepintas saja jelas berbeda sekali. Boleh dibilang batik yang dipakai kebanyakan pengunjung kasino tak ada apa-apanya. Motif dan bahannya benar-benar ala kadarnya. Di depan areal kasino, kemeja-kemeja batik itu ditawarkan seharga 30 ringgit (sekitar Rp 60.000) saja.

Izin khusus

Sampai sekarang kasino di Genting merupakan kasino pertama dan satu-satunya yang diizinkan beroperasi di Malaysia. Adalah mantan Perdana Mentri Tunku Abdul Rahman yang pertama kali memberi angin terhadap rencana pembuatan kasino di Genting, tahun 1969. Waktu itu satu-satunya pertimbangan adalah agar resor itu bisa semakin menarik sebanyak mungkin wisatawan.

Sejak sinyal izin kasino diberikan, pimpinan Grup Genting, Lim Goh Tong waktu itu serta merta memutuskan untuk memperluas pembangunan proyek hotelnya, dari yang semula berencana cuma membangun 38 kamar saja menjadi 200 kamar. Kasino diyakini memang bakal mampu menjadi pemikat orang untuk datang.

Mulai beroperasi tahun 1971, pada awalnya kasino ini bekerja sama dengan kasino di Seoul untuk bidang manajemen. Perjanjian awal berlaku tiga tahun, namun hanya tujuh bulan pertama perjanjian itu diakhiri, pihak Genting kemudian mengambil alih semua pengoperasian.

Seperti ruang gawat darurat, kasino ini tak pernah mengenal kata tutup. Sepanjang hari tempat ini dibuka, sepanjang hari itu juga ada (banyak) pengunjung yang datang. Kalau setahun ada 365 hari, sebanyak jumlah hari itu pula kasino dibuka.

“Kontribusi kasino memang besar sekali,” kata Ng Kok Wai, Manajer Hubungan Media Grup Genting. Namun dia mengaku tidak mengetahui berapa persisnya jumlah kontribusi itu terhadap pemasukan pendapatan secara keseluruhan. “Konsep kami sebenarnya adalah resor untuk semua, kasino cuma salah satu dari sekian fasilitas yang kami sediakan,” lanjutnya.

Ng Kok Wai juga mengaku sulit untuk menyebut angka rata-rata pengunjung kasino. Yang jelas kapasitas muat bisa mencapai 50.000 orang.

Berapa banyak uang yang bisa dikeluarkan dan sebaliknya bisa didapat pengunjung memang menjadi rahasia yang bersangkutan. Modal dan taruhannya macam-macam. Mereka yang cuma bermodal satu ringgit pun kalau mau bisa mencoba jackpot yang berderet sampai ratusan jumlahnya. (ret) Kompas cetak, Jakarta

Leave a Reply