Archive for September, 2000

Batik Jawa Hokokai, Cerita Singkat Penjajahan Jepang di Indonesia

Sunday, September 17th, 2000

BATIK sangat cepat menyerap unsur-unsur baru yang berada di sekitar masyarakat, terutama batik-batik dari daerah pesisir. Batik Belanda menjadi istilah khusus untuk menggambarkan pengaruh orang-orang Belanda di Jawa. Ada batik dengan motif yang berasal dari cerita Si Runjung Merah (Little Riding Hood), ada motif rangkaian bunga yang diikat pita dan disebut sebagai motif buketan dari asal kata bouquet. Motif burung hong, singa, merak, adalah beberapa yang menunjukkan pengaruh Cina.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942-1945 sebagai bagian dari kampanye penaklukan Asia Timur Raya, pengaruh Jepang juga terasa pada batik-batik di pesisir utara Jawa Tengah. Pada masa itu, dilahirkan batik-batik tulis yang disebut sebagai batik Jawa Hokokai. Nama ini mengikuti nama organisasi propaganda Jepang yang mengindoktrinasi semua yang berusia di atas 14 tahun tentang konsep Asia Timur Raya. Mungkin karena periode pendudukannya yang singkat serta kekejaman Jepang yang luar biasa selama 3,5 tahun masa penjajahan itu, maka sedikit saja informasi yang tersedia tentang batik Jawa Hokokai. Juga belum ada tulisan yang khusus membahas batik dari periode ini.

Batik-batik dari era 1942-1945 yang sering disebut sebagai batik Jawa Hokokai ini dipamerkan di Gedung Arsip Nasional pada tanggal 13 September - 24 September 2000 dari pukul 09.00-16.30, termasuk Minggu. “Pada hari Kamis (21/9) malam ada presentasi batik Jawa Hokokai dari Iwan Tirta di Gedung Arsip, sebaiknya yang berminat memesan tempat lebih dulu karena tempatnya terbatas,” kata Tamalia Alisjahbana, Direktur Eksekutif Yayasan Gedung Arsip Nasional.

Tanda penyesuaian

Iwan Tirta dalam bukunya Batik, A Play of Light and Shades, menyebutkan para juragan batik memperkenalkan batik Jawa Hokokai sebagai tanda “penyesuaian” kepada penguasa baru supaya mereka mendapat tempat. Batik Hokokai mengingatkan pada sehelai kanvas, di mana setiap bidangnya diisi dengan rapat oleh ragam hias. Bunga sakura dimasukkan ke dalam batik Hokokai, tetapi secara keseluruhan tidak ada pengaruh khusus desain Jepang. Menurut Iwan, batik Hokokai tampak sebagai evolusi alamiah banyak batik lain di pantai utara Jawa yang dipengaruhi oleh Cina dan Eropa.

Hermen C Veldhuisen dalam Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java, secara singkat menyebut batik Hokokai dibuat di bengkel-bengkel milik orang Indo-Eropa, Indo-Arab, dan Peranakan, yang diharuskan bekerja untuk orang-orang Jepang karena kualitas pekerjaan bengkel mereka yang sangat halus. Sedangkan kain katunnya dipasok oleh orang-orang yang ditunjuk oleh tentara pendudukan Jepang.

Ciri-ciri kain panjang pada masa ini menurut Veldhuisen adalah penuhnya motif bunga pada kain tersebut. Meskipun gaya batik ini disebut sebagai diperkenalkan oleh dan untuk Jepang, tetapi sebetulnya gaya ini sudah muncul beberapa tahun sebelumnya. Bengkel kerja milik orang Peranakan di Kudus dan Solo pada tahun 1940 sudah menggunakan motif buketan yang berulang, dengan latar belakang yang sangat padat dan disebut sebagai buketan Semarangan. Kain-kain ini dibuat untuk Peranakan kaya di Semarang.

Kain batik pagi-sore, yaitu kain batik yang terbagi dua oleh dua motif yang bertemu di bagian tengah kain secara diagonal, juga bukan merupakan ciri khas batik Hokokai, karena kain pagi-sore ada kain pagi-sore yang dibuat pada tahun 1930 di Pekalongan. Dengan kain pagi-sore, efisiensi pemakaian menjadi salah satu tujuan karena selembar kain bisa dipakai untuk dua kesempatan dengan motif berbeda. Warna yang lebih gelap biasanya dipakai di bagian luar untuk pagi dan siang hari, sementara bagian yang berwarna pastel dipakai pada acara malam hari.

Meskipun begitu, Veldhuisen menyebutkan batik Hokokai adalah salah satu contoh gaya batik yang paling banyak berisi detail, menggabungkan ciri pagi-sore, motif terang bulan, dan tanahan Semarangan. Batik Hokokai menggunakan latar belakang yang penuh dan detail yang digabungkan dengan bunga-bungaan dalam warna-warni yang cerah. Motif terang-bulan awalnya adalah desain batik dengan motif segi tiga besar menaik secara vertikal di atas latar belakang yang sederhana.

Belum diriset

Meskipun buku-buku tentang batik umumnya hanya menyebut sekilas saja tentang batik Jawa Hokokai, tetapi Yayasan Gedung Arsip Nasional berhasil menyusun katalog pameran dengan menggunakan informasi dari nara sumber yang masih ada. Mereka adalah kolektor batik atau juragan pembuat batik, seperti Ny Eiko Adnan Kusuma, Ny Nian Djoemena yang menulis beberapa buku tentang kain Indonesia, dan Iwan Tirta yang artisan batik.

Kain-kain batik Jawa Hokokai yang dipamerkan di Gedung Arsip Nasional itu hampir semuanya merupakan batik pagi-sore dengan warna yang cemerlang. Kupu-kupu merupakan salah satu motif hias yang menonjol selain bunga. Meskipun kupu-kupu tidak memiliki arti khusus untuk masyarakat Jepang, tetapi orang Jepang sangat menyukai kupu-kupu. Namun, kupu-kupu dianggap bukan merupakan pengaruh Jepang, melainkan pengaruh dari juragan Cina yang membuat batik di bengkel mereka. Untuk orang Cina, terutama yang berada di Indonesia, kupu-kupu merupakan lambang cinta abadi seperti dalam cerita Sampek Engtay.

Motif dominan lainnya adalah bunga. Yang paling sering muncul adalah bunga sakura (cherry) dan krisan, meskipun juga ada motif bunga mawar, lili, atau yang sesekali muncul yaitu anggrek dan teratai.

Motif hias yang sesekali muncul adalah burung, dan selalu burung merak yang merupakan lambang keindahan dan keanggunan. Motif ini dianggap berasal dari Cina dan kemudian masuk ke Jepang.

Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi dengan misalnya motif bunga padi. Menurut Tamalia, itu menggambarkan suasana saat itu di mana kain sangat terbatas sehingga pembatik memiliki banyak waktu untuk mengerjakan selembar kain dengan ragam hias yang padat. Sebagian batik Hokokai ada yang menggunakan susumoyo yaitu motif yang dimulai dari salah satu pojok dan menyebar ke tepi-tepi kain tetapi tidak bersambung dengan motif serupa dari pojok yang berlawanan.

Meskipun namanya berbau Jepang dan muncul pada masa pendudukan Jepang, tetapi menurut Tamalia batik Hokokai tidak diproduksi untuk keperluan Jepang melainkan untuk orang-orang Indonesia sendiri. Batik-batik itu awalnya dipesan oleh orang dari lembaga Jawa Hokokai untuk orang-orang Indonesia yang dianggap berjasa dalam propaganda Jepang. Kemudian batik seperti ini menjadi mode dan banyak orang Indonesia kaya yang ikut membeli batik dengan ciri tersebut.

Yang masih menimbulkan pertanyaan, meskipun pendudukan Jepang atas Indonesia dikenang sebagai masa penjajahan yang sangat pahit, tetapi mengapa kepahitan itu tidak muncul dalam ragam hias sama sekali. Justru batik Jawa Hokokai memberi kesan umum sebuah kegembiraan dengan warna yang cerah, bunga, kupu-kupu, merak. Di sini, memang masih diperlukan riset lebih jauh mengenai batik ini.

Jawa baru

Setelah Perang Dunia II usai, Jepang takluk dan angkat kaki dari Indonesia, batik sebagai industri mengalami masa surut. Namun, motif-motif batik terus berkembang, mengikuti suasana. Ketika itu juga muncul istilah seperti batik nasional dan batik Jawa baru. Batik Jawa baru bisa disebut sebagai evolusi dari batik Hokokai. Pada tahun 1950-an batik yang dihasilkan masih menunjukkan pengaruh batik Hokokai yaitu dalam pemilihan motif, tetapi isen-isen-nya tidak serapat batik Hokokai.

Artisan batik yang kembali mengangkat kembali motif Hokokai adalah Iwan Tirta. Pada tahun 1980-an Iwan menginterpretasi ulang motif batik Jawa Hokokai dalam bentuk desain yang baru. Ia memperbesar motif bunga seperti krisan dan mawar serta menambahkan serbuk emas 22 karat sebagai cara untuk mempermewah penampilan batik tersebut. Untuk pergelarannya pada akhir tahun ini, Iwan juga membuat motif kupu-kupu dalam ukuran besar.

Batik memang bukan asli seni membuat ragam hias khas Indonesia, tetapi sejarah dan perkembangan batik menunjukkan bahwa batik Indonesia masih yang terbaik.


Bunga krisan adalah salah satu motif yang digunakan pada batik Jawa Hokokai.


Pagi-sore adalah sebuah cara menggabungkan dua desain batik dengan dua warna pada selembar kain.


Batik dari Iwan Tirta yang merupakan interpretasi terhadap batik Jawa Hokokai.


Kupu-kupu, bunga mawar, dan motif parang, banyak ditemukan pada batik Jawa Hokokai.
Sumber : (Ninuk Pambudy) Kompas Cetak, Jakarta

Batik Trotoar Siap Menghias Malioboro

Saturday, September 9th, 2000

Batik TrotoarKarya seni batik lazimnya selalu dibuat di atas sebuah kain. Namun, sekelompok seniman di Yogyakarta justeru mempertontonkan sebuah karya batik yang dibuat di atas paving blok untuk trotoar. Rencananya, karya batik yang unik itu bakal dipasang di Jalan Malioboro, Yogyakarta, sebagai salah satu langkah pembenahan di kawasan tersebut.

Menurut pelaksana teknis dari Belanda C.M. de Jong, Jumat (8/9) kemarin, saat ini timnya baru bisa mewujudkan delapan motif batik trotoar dari puluhan rancangan yang ada. Ke delapan motif ini, nantinya akan dijaring satu motif saja yang dianggap layak dan sesuai keinginan warga Yogyakarta.

Ide pembuatan batik trotoar ini memang merupakan hasil kolaborasi antara seniman batik Indonesia dan Belanda. Motif batik yang diadaptasi adalah motif-motif khas Yogyakarta yang tergolong sangat rumit. Karena itu sekitar 10 anggota tim batik trotoar ini pun harus bersusah payah untuk menyesuaikan dengan bentuk paving blok. Misalnya, dengan cara memotong dan mengukirnya sesuai target rancangan.

Sayangnya, meski rancangan tadi sudah tuntas, hingga saat ini mereka mengaku masih kesulitan mewujudkan ide membatik trotoar Malioboro ini baik secara teknis maupun birokrasi. Apalagi proses pembatikan di sepanjang jalan yang sarat dagangan hasil karya seni ini harus dilakukan dengan cara menutup kawasan tersebut. Buntutnya, hal itu akan mempengaruhi pendapatan para pedagang. Belum lagi, mereka juga harus meminta izin dari pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat. Soalnya, aksi seperti ini juga turut mempengaruhi masterplan pembenahan kawasan Malioboro.

Sumber : (BMI/Wiwik Susilo dan Mardianto) Liputan6.com, Yogyakarta

Keistimewaan Batik Gedog Tuban

Monday, September 4th, 2000

Seorang perempuan tua berkebaya kusut berjalan gontai di bawah sinar matahari terik. Jalannya agak membungkuk karena sebuah bakul bambu terikat di punggung. Sinar wajahnya muram. Bakul di punggung itu terlihat penuh batik, hasil buatannya selama berbulan-bulan. Batik hasil buatannya itu tidak laku di pasar. Padahal untuk menjualnya di pasar, perempuan itu harus berjalan sejauh tiga
kilometer.Potret sedih kehidupan pembatik di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban, Jawa Timur, itu menggugah semangat Uswatun Hasanah (30) menjadi juragan batik. Cita-cita mulia perempuan itu sudah diwujudkannya sejak tahun 1993 lalu dan kini batik tulis gedog Tuban mulai mendunia setelah rajin berpameran di Bali, Surabaya, dan Yogyakarta.

“Saya ingin mengubah paradigma masyarakat desa bahwa membatik juga bisa menjadi mesin penghasil uang. Jadi tidak semata-mata uang hanya bisa diperoleh dari bertani,” kata perempuan yang ditemui di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban. Ketika ditemui, perempuan lulusan SMA ini tengah memeriksa kondisi tembok sebuah ruangan yang hendak dijadikan tempat memamerkan sekaligus memasarkan batiknya.

Nasib sedih perempuan-perempuan pembatik membuatnya tidak peduli terhadap larangan orangtua maupun suaminya sendiri. Ia bahkan semakin asyik dengan usaha batik-nya. Ia memilih berpisah dari suaminya, ketimbang meninggalkan batik. Kecintaan akan batik dan keinginan menolong pembatik di desanya, diwujudkan dengan menjual rumah kecil miliknya seharga Rp 5 juta.

Memberdayakan pembatik dilakukan Uswatun dengan merangkul seluruh perajin batik di desanya termasuk generasi muda. Perajin itu dibinanya, sekaligus menurunkan ilmunya tentang mewarnai batik yang cenderung abstrak dan warna alam. Setiap pembatik borongan itu diberi honor antara
Rp 5.000-Rp 25.000 per lembar batik sesuai motif. Sedangkan ongkos tenun Rp 8.000-Rp 10.000. Biasanya penggarapan batik dilakukan di rumah masing-masing pembatik. Uswatun mengontrol pekerjaan pembatikan dengan sistem door to door setiap hari.

Uswatun mengakui jika dirinya sudah telanjur sayang dengan profesi membatik dan sampai kapan pun bisnis ini, takkan pernah ditinggalkan. “Membatik itu sebagian dari jiwa saya,” tutur Uswatun yang bisa memintal benang sejak kelas satu SD itu. Perempuan mandiri ini pun akhirnya tidak ragu-ragu untuk bercerai dengan suami setelah perkawinannya berjalan 2,5 tahun.

“Saya pilih cerai dengan suami karena dia melarang saya menggeluti pekerjaan membatik,” aku Uswatun kelahiran Tuban, Jatim, tahun 1970 itu lagi sembari menambahkan kesempatan belajar batik semakin terbuka lebar setelah dirinya berpisah dengan suami.

Diceritakan, sejak kelas satu SD ia sudah bisa memintal kapas jadi benang. Ilmu memintal benang diperolehnya dari neneknya yang juga pembatik. Meski ia pintar mengerjakan selembar batik dari bahan dasar gumpalan kapas, ia tidak bebas berkarya. Keluarganya menolak Uswatun menggeluti batik dalam kesehariannya dan menyarankan jadi petani saja. Alasannya, membatik sangat tidak menjanjikan.

***

PASAR batik yang semakin menjanjikan itu kini dibidik seluruh pembatik di Jatim. Seluruh pembatik tampak berjuang mencari ciri khas agar tidak ditinggalkan konsumen. Perajin batik menyadari, supaya bisa menarik minat pembeli, mereka harus pandai-pandai memilih motif dan warna. Batik tulis dengan warna natural kini membumi karena konsumen lokal dan asing memburu batik tulis bercorak modern dengan warna alam. Peluang ini tidak disia-siakan perajin batik di propinsi ini, tidak ketinggalan Uswatun Hasanah (30), penerus batik tulis gedog Tuban.

Guna memperdalam ilmu menyangkut pewarnaan batik, anak keempat dari lima bersaudara ini rajin mengikuti berbagai pelatihan terutama menyangkut teknik pewarnaan batik di Balai Batik Yogyakarta. Meski sudah bisa menurunkan ilmu mewarna batik kepada perajin lain, Uswatun merasa belum puas juga sehingga setiap kesempatan dimanfaatkan termasuk baca buku tentang pewarnaan batik. Dirinya pun kerap bepergian ke pelosok-pelosok untuk mencari ide pengembangan batiknya.

“Ketika saya ke pantai, saya lihat nelayan menangkap ikan dengan kain gedog yang tenunannya jarang-jarang. Pemandangan itu menggugah saya untuk membuat selendang dengan tenunan yang jarang-jarang. Hasilnya, selendang itu sangat disukai konsumen,” katanya. Salah satu ciri batik gedog dari Tuban adalah serat benangnya yang kasar.

KINI untuk melestarikan batik gedog Tuban yang cenderung berwarna nila dan gelap ini ia sering diundang pameran di berbagai kota seperti di Surabaya, Bali, Yogyakarta. Tak segan-segan ia mencari informasi menyangkut kesempatan pameran ke berbagai instansi dan lembaga. Meskipun biaya pameran sering tidak cucuk (sesuai) dengan pendapatan, bagi Uswatun yang penting batik tulis gedog bisa dikenal masyarakat luas.

Uswatun yang sempat menjadi distributor terasi ini, terus mengembangkan warna alam. Guna memperoleh warna batik yang sangat alami, percobaan demi percobaan dilakukannya. Inovasinya melahirkan warna alam sesuai dengan warna aslinya terus dimunculkan. “Semua daun, pohon serta tumbuhan sudah saya coba untuk mencari warna alam yang benar-benar alami. Ciri khas batik gedog warnanya nila, agak kegelap-gelapan dan warna ini saya pertahankan sebagai identitas batik gedog Tuban,” kata Uswatun.

Juragan batik dengan 200 perajin ini menyebutkan, di Tuban terdapat sekitar 1.500 pembatik yang tersebar di lima desa yakni Margorejo, Karangloh, Jurorejo, Kedungrejo dan Gaji. Khusus batik gedog pusatnya di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban.

Pembatik umumnya mendapat ilmu membatik dari ibu mereka. Kapas yang dibutuhkan 1.500 pembatik sekecamatan Kerek sekitar satu ton per bulan. Harga kapas saat ini berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Setiap 1,5 kilogram kapas jika ditenun menghasilkan selembar batik berukuran 2,5 meter dengan lebar 85 sentimeter.

Membatik bukan pekerjaan utama melainkan sebagai pekerjaan sambilan kaum perempuan di desa batik. Saat musim tanam dan panen, tidak ada seorang pun mengerjakan batik karena semua memilih turun ke sawah. Maka sebelum musim tanam atau musim panen, sebagai juragan batik yang harus memenuhi pesanan, Uswatun membuat stok sebanyak-banyaknya. “Membatik ini rezekinya tidak pasti ya rok-rok asemlah (penghasilan tidak tentu). Tak jarang stok menumpuk, pembeli tidak ada, ketika pasar ramai giliran stok yang tidak ada,” keluhnya.

Meski banyak kendala, Uswatun merasa sudah mantap untuk terus menggeluti dunia batik. Diyakininya batik tidak akan pernah punah. Justru terpenting batik tulis gedog akan semakin dikenal dan memasyarakat karena proses pembuatannya “unik” dibanding dengan batik tulis lain yang tinggal membatik di atas selembar kain produksi pabrik.

“Keistimewaan batik gedog, bukan hanya proses pembuatannya, tetapi juga motifnya seperti panjiori, kenongo uleren, ganggeng, panji krentil, panji serong dan panji konang. Tiga motif batik terakhir dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif panji krentil berwarna nila justru dinyakini bisa menyembuhkan penyakit,” ungkap Uswatun.

Namun, di tengah cerahnya pasar batik gedog, mulai muncul kekhawatiran tidak mampunya ia memenuhi pesanan. Kehadiran pengepul batik dari luar Tuban, dengan tawaran harga lebih tinggi membuat pembatik memilih untuk menjual batik kepada pengepul. Bahan baku batik serta motif dan warna seluruhnya milik Uswatun, tetapi ketika sudah jadi batik justru dijual ke pengepul.

Berangkat dari pengalaman ini, Uswatun kini terus memberdayakan perajin batik. Selain meningkatkan pengetahuan soal batik, ongkos kerja pun terus direvisi sehingga kebutuhan pembatik terpenuhi. “Jika perajin kuat terutama dalam modal, segala rayuan pengepul bisa ditepis,” kata Ketua Kelompok Pembatik Gedog Karangrejo ini.

Salah satu langkah menghadang kehadiran pengepul di desa itu, Uswatun terus memberdayakan pembatik di desanya dan memperkuat pemasaran. “Semua hasil karya perajin di desa ini saya beli dengan harga tinggi. Produk perajin Desa Karangrejo dilego ke pasar bebas tanpa perantara harganya antara Rp 12.500 hingga
Rp 450.000 per lembar sedangkan kaus Rp 28.000 - Rp 37.000. Saya tidak mengambil untung besar, paling utama perajin konsisten dan tidak meninggalkan profesi sebagai pembatik.”

Sumber : (eta/arn) Kompas Cetak, Jakarta

Batik Jawa Timur Batiknya Tulis, tetapi tidak Ada Pasar

Monday, September 4th, 2000

“Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela saja memakai batik di setiap kesempatan. Kita yang punya batik, justru hanya memakai pada saat-saat tertentu.” Mungkin ini kalimat paling pedas untuk menggambarkan posisi batik Indonesia. Saat ini, batik berasosiasi dengan acara seremonial. Batik kini tidak lagi menjadi pakaian sehari-hari. Bagi Shahputra, Ketua Asosiasi Produsen dan Eksportir Handicraft Indonesia (Asephi) Jawa Timur, kondisi batik saat ini sebenarnya sangat menyedihkan. Shahputra merasa beruntung dengan adanya kiprah Go Tik Swan, Iwan Tirta, Danar Hadi, Obin, Carmanita, dan perancang lain. Mereka telah memberi nilai tambah bagi batik Indonesia, sehingga batik terus bertahan dan menjadi produk global. “Apalagi Presiden Abdurrahman Wahid lebih sering menggunakan batik daripada safari sehingga ikut mempromosikan pemakaian batik,” ujarnya.

Batik yang dipuja-puja sebagai salah satu identitas keindonesiaan, tidak otomatis mengangkat harkat hidup perajinnya, di antaranya perajin batik Jawa Timur. Perkembangan batik di Jatim agak lambat dibandingkan dengan batik Jawa Tengah. Mungkin karena batik di Jawa Tengah dan Yogyakarta memiliki patron dari kalangan keraton sehingga selalu ada inovasi.

Tidak dikenalnya Jawa Timur sebagai daerah produsen batik disebabkan oleh motif dan coraknya yang tampak hanya disukai masyarakat lokal. Menurut Miftach, perajin batik Dahlia dari Kampung Jetis, Sidoarjo, batik buatannya hanya disukai orang-orang Madura dan masyarakat pesisir. Sedangkan masyarakat pedalaman, seperti Madiun, Kediri, dan Malang, tidak menyukainya. “Terus terang saya agak sulit mengembangkan usaha batik saya, karena saya hanya bisa jual batik saya di Pasar Pabean Surabaya. Kalau saya jual di kota-kota lain, tidak pernah laku,” aku Miftach.

***

PADA zaman penjajahan Belanda, batik dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yakni batik vorstenlanden dan batik pesisir. Yang disebut batik vorstenlanden menurut buku Ungkapan Sehelai Batik karya Rahmaniar Soerianata Djoemena adalah batik dari daerah Solo dan Yogyakarta. Yang dinamakan batik pesisir adalah semua batik yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo dan Yogyakarta. Pembagian asal batik dalam dua kelompok ini terutama berdasarkan sifat ragam hias dan warnanya.

Batik Jatim mempunyai perbedaan mencolok jika dibandingkan dengan batik Jawa Tengah. Batik Jawa Tengah pedalaman dari Solo dan Yogyakarta, menggunakan warna-warna sogan, indigo, hitam dan putih. Jawa Tengah mempunyai motif dasar yang relatif terikat pada pakem tertentu. Motif-motif ini mempunyai sifat simbolis dan berlatarkan kebudayaan Hindu-Jawa.

Sedangkan batik Jawa Timur mempunyai motif yang lebih bebas, tanpa terikat pakem-pakem motif. Paina Hartono, perajin batik tulis dari Kecamatan Tulangan Sidoarjo, bahkan dengan jelas-jelas menyatakan dirinya bersedia menerima pesanan motif apa saja. “Mau bunganya merunduk atau tegak. Atau diberi tulisan nama, atau apa saja kami terima. Saya tidak terikat pakem bahwa motif batik harus begini-begitu. Yang saya pegang, satu desain saya hanya dipakai maksimal untuk dua kain,” kata Paina.

Ragam hias batik Jawa Timur bersifat naturalis dan dipengaruhi berbagai kebudayaan asing terlihat sangat kuat. Warna-warna yang dipakai batik Jawa Timur tampak lebih cerah.

Batik Jawa Timur sebenarnya tersebar merata di seluruh wilayah Jatim. Hanya saja ada lima wilayah di mana perajin batik lebih banyak ditemukan, yakni di Madura, Tuban, Sidoarjo, Tulungagung, dan Banyuwangi. Sifatnya yang menyebar se-antero Jatim inilah yang membuat para perajin itu jalan sendiri-sendiri. Ditambah tidak ada wadah yang menyatukan mereka, sehingga perkembangannya sangat lambat.

Perkembangan yang lambat ini jika dibandingkan dengan batik Jawa Tengah, ternyata juga berdampak pada cara produksi. Hanya sedikit -kalau tidak boleh dikatakan tidak ada- perajin batik yang membuat batik cap. Batik Jawa Timur tetap terpelihara sebagai batik yang pembuatannya menggunakan malam. Pemakaian cap dari tembaga hanya dilakukan untuk motif pinggir kain atau motif tertentu. Proses manual itu ternyata memakan waktu cukup lama. Untuk membuat satu kain batik ukuran 250 x 85 sentimeter memerlukan waktu satu minggu sampai 10 hari. Itu pun masih tergantung pada motif yang dipakai. Jika motif yang dipakai rumit dan warna yang digunakan sangat sulit pemunculannya, seorang perajin bisa menghabiskan waktu tiga bulan untuk menyelesaikannya.

“Mungkin kalau memakai warna-warna sintetis kita bisa sedikit menghemat waktu, tetapi karena kita memakai warna-warna alam maka kita harus mengulang pewarnaan berkali-kali agar warna yang dikehendaki bisa muncul. Ini yang membuat proses pembuatannya sangat lama,” kata Uswatun Hasanah, perajin batik gedog dari Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban.

Lamanya proses pembuatan batik ini menyebabkan batik yang diproduksi hanya sedikit tetapi belum tentu mempunyai nilai jual tinggi. Seperti di Sumenep, sepotong sarung batik tulis dengan warna sintetis ada yang dijual dengan harga Rp 30.000. Sedangkan kain panjang dijual hanya Rp 40.000. Tetapi kalau dengan warna alam, kainnya dari sutera Super-54 dan dibatik luar-dalam, maka harganya bisa Rp 700.000.

Namun, walau harga batik sangat menjanjikan, tetapi sebenarnya ada kekhawatiran dari para perajin di Jawa Timur. Komunitas mereka yang tersebar di seluruh Jatim, menyulitkan mereka menciptakan pasar. Para perajin batik sangat menyadari, pembeli lebih senang datang ke satu tempat yang jelas yang terdiri dari bermacam-macam pembatik, daripada keluar masuk desa untuk mencari batik yang sesuai selera.

Yang bisa mereka lakukan hanyalah rajin mendatangi kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag), baik tingkat kabupaten maupun propinsi. Mereka berharap, jika ada pameran atau pemda membutuhkan cinderamata, Kandep mengambil batik contoh. Setelah itu, mereka hanya bisa menunggu hasil promosi dari mulut ke mulut. Jika keadaan ini terus berlanjut, profesi sebagai pembatik akan semakin tidak diminati karena pemilik batik hanya bisa memberikan pekerjaan berdasarkan pesanan yang masuk. Kalau tidak ada pesanan, ya tidak ada pekerjaan , dan tidak ada upah. Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), yang dibentuk secara nasional untuk membantu para perajin batik dalam pengadaan bahan baku dan pemasaran, ternyata juga tidak bisa membantu perkembangan batik Jatim.

“GKBI sudah mati lama di Sidoarjo. Para pengurusnya pun sudah tidak tahu di mana tinggalnya. Memang GKBI bisa membantu kami mendapatkan bahan baku, tetapi waktu itu tidak terjalin komunikasi yang baik antara pengurus dengan perajin. Akhirnya para perajin jalan sendiri-sendiri, dan GKBI mati,” kata Miftach.

Untunglah para perajin batik itu tidak berpangku tangan. Menurut Miftach, 15 perajin batik di Kampung Jetis akhirnya memutuskan membentuk Kelompok Usaha Batik (KUB) yang didirikan sekitar tiga bulan lalu dan belum berbadan hukum.

“Kami ingin selalu memajukan usaha kami. Jika kami sendiri-sendiri, tentunya kami sulit mendapatkan kesempatan maju dari pemerintah, seperti pinjaman modal kerja, pengadaan bahan baku, atau diikutkan dalam pameran,” kata Miftach, yang menjabat sebagai bendahara dalam KUB tersebut.

Mursidi, Ketua KUB mengatakan, jika para perajin disatukan dalam satu wadah, kemungkinan datangnya tawaran untuk dipromosikan ke luar Sidoarjo akan lebih besar lagi. “Orang akan tahu ke mana mencari jika butuh batik. Dari perkumpulan tersebut, si pejabat bisa mendapatkan berbagai macam motif batik yang disukainya,” kata Mursidi.

Pembentukan KUB tersebut juga dilakukan untuk saling membantu antarperajin. “Dari 15 perajin Jetis, hanya lima perajin yang bisa dikatakan besar, sisanya bisa dibilang perajin kecil. Karena itu, kita ingin saling membantu agar semua bisa maju dan berkembang bersama, tidak ada lagi perajin yang dibilang kecil. Jika semua sudah maju, tentunya akan terjadi persaingan sehat, dan semua terpacu kreativitasnya,” ujar Mursidi.

Yang diinginkan para perajin batik hanyalah tempat berkumpul dan berkembang bersama. Mereka tidak ingin membangun perusahaan batik besar di mana akhirnya keberadaan para perajin itu luluh ke dalam perusahaan tersebut.

Menurut Paina, kehadiran perusahaan besar justru akan mengganggu jaringan pasar tradisional yang selama ini mereka tekuni. “Perusahaan besar akan hadir dengan kekuatan modal, kesiapan institusional, keandalan manajemen, dan memiliki akses pasar yang luas. Namun, kehadirannya ternyata menghancurkan jaringan pasar tradisional yang selama ini diisi para perajin batik kelas teri dari lapisan bawah,” katanya.

Para perajin kecil yang tidak mampu bersaing meraih pasar, akan menggantungkan diri kepada perusahaan besar yang baru berdiri itu. Mereka yang masih bisa bertahan, akhirnya hanya menjadi pemasok produk batik kepada perusahaan batik besar yang biasanya menampung dengan harga relatif rendah.

Melihat tingginya keinginan para perajin tersebut, memang sudah sewajarnya pemerintah mulai memikirkan menyediakan tempat komunitas perdagangan untuk perajin batik. Tempat seperti Pasar Klewer di Solo lebih mempunyai arti bagi mereka daripada Gedung GKBI yang megah di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Mungkin pembatik yang pernah masuk ke gedung tersebut masih bisa dihitung jumlahnya.

Sumber : (M Clara Wresti/Agnes Swetta Pandia) Kompas Cetak, Jakarta

Desa-desa Batik di Jawa Timur

Monday, September 4th, 2000

Ketika batik tulis Jawa Timur mulai mendunia, juragan batik di Desa Jetis, Kecamatan Kota, Sidoarjo, justru kesulitan mencari pembatik. Padahal sejak tahun 1922, desa yang letaknya 25 km di selatan Surabaya itu mempunyai predikat sebagai ”kampung batik”. Dulu hampir di setiap rumah bisa ditemukan orang sedang membatik. Kampung batik itu sekarang tinggal kenangan. Yang tinggal hanya toko-toko penjual pakaian batik, busana muslim, dan kaos. Sedangkan perajin batik yang tersisa tinggal 15 orang. Akibat kurangnya tenaga pembatik di Desa Jetis, akhirnya penggarapan batik terpaksa dilimpahkan kepada pembatik di Tulungagung, Jawa Timur, dan Pekalongan, Jawa Tengah. Upaya itu ternyata memunculkan problem baru dan lebih rumit. Berhubung pembatiknya berada di luar Sidoarjo, juragan harus bolak-balik mengambil batik serta menyerahkan bahan baku. Sistem ini menimbulkan biaya tinggi, dan lebih berat lagi jika pembatik minta seluruh biaya hidup sekeluarga ditanggung juragan batik.

Persoalan semacam ini membuat pengusaha batik di Desa Jetis hilang satu per satu dan kini tinggal 15 industri rumahan batik di desa itu. Memang ada keinginan bangkit kembali, tetapi agaknya tenaga sudah terkuras habis, sehingga kerajinan batik di kampung batik tinggal menunggu lonceng kematian.

Nasib usaha batik rumahan ini pun makin sekarat dengan tumbuhnya desa batik baru di Kecamatan Tulangan Sidoarjo. Segala upaya ditempuh misalnya dengan berinovasi untuk menghadapi “serangan” pemain baru di dunia perbatikan. Apalagi, pendatang baru itu lebih berani dalam menampilkan corak dan warna. Sementara perajin batik Desa Jetis tidak mau melanggar pakem peninggalan leluhurnya. Faktor ini agaknya membuat batik Desa Jetis sebagai cikal bakal perbatikan di Jawa Timur sulit menembus pasar. Saingannya berat karena pendatang baru lebih berinovasi dan tekun dalam upaya pemasaran.

Pemain baru dalam bisnis batik ada yang berani melahirkan corak batik tanpa tema tertentu atau menujukkan ciri khas daerah pembuatannya. “Kalau corak batik tergantung pakem, ya repot soalnya konsumen batik tulis yang selalu diasumsikan kalangan berduit permintaannya beragam terutama corak atau motif dan warna,” kata Paina Hartono, pengusaha batik tulis warna alami Tulangan.

Tumbuhnya Desa Patihan, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo ini sebagai desa batik baru, merupakan upaya dari Paina Hartono. Di desa yang letaknya 36 km di selatan Surabaya itu, memang hanya ada satu perajin batik, yakni Paina Hartono. Tetapi, sejak tahun 1998 ia telah mengajak hampir seluruh ibu rumah tangga dan remaja bekerja sebagai pembatik. Memang sebenarnya di Desa Kenongo yang terletak di sebelah Desa Patihan, juga sudah ada sebuah industri batik, tetapi industri itu tidak banyak menampung tenaga kerja. Justru dengan kehadiran Paina Hartono semakin banyak warga desa yang mengenal dan mau bekerja di batik. Saat ini jumlah pembatik di Desa Patihan dan Desa Kenongo sebanyak 700 orang.

“Saya berusaha mengajak orang membatik karena saya prihatin, waktu itu banyak sekali orang yang menganggur akibat PHK. Saya ingin orang tahu bahwa kerja batik itu lebih enak daripada kerja di pabrik. Bisa kerja di rumah dan bayarannya pun lumayan. Untuk pembatikan satu lembar kain ukuran empat meter, saya bayar Rp 50.000,” kata Paina.

Paina ingin menghapus anggapan orang kerja membatik hanya bisa mendapat uang sedikit. “Memang tidak salah anggapan orang tersebut. Saya sendiri, waktu masih ikut orang, hanya digaji Rp 40.000 per bulan tanpa melihat berapa potong batik yang sudah saya selesaikan. Mungkin ini yang membuat orang akhirnya enggan pada batik,” tuturnya.

***

BATIK Jawa Timur yang paling khas adalah batik Tuban. Kenapa, karena proses pembatikan di Tuban vertikal dan merupakan satu kesatuan (integrated). Maksudnya, bahan kain yang digunakan untuk membatik dipintal langsung dari kapas. Jadi gulungan kapas dipintal menjadi benang, lalu ditenun, dan setelah jadi selembar kain lalu dibatik. Batik ini kemudian disebut batik gedog.

Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot dikatakan, sebenarnya batik Tuban mirip dengan batik Cirebon pada pertengahan abad ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan. Namun, ketika Kota Cirebon mengalami perubahan dramatis dan diikuti dengan perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap seperti semula.

Menurut Uswatun Hasanah, salah seorang pembatik gedog dari Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban, batik gedog sebenarnya hampir punah. Ini disebabkan orang sudah tidak suka lagi memintal benang. “Kalau membatik, orang masih senang. Tetapi memintal benang, sangat jarang orang mau. Paling hanya ibu-ibu tua yang mau karena sudah tidak kuat lagi ke ladang. Tetapi, untuk membatik matanya juga sudah tidak mampu. Mungkin karena ongkos memintal itu hanya Rp 6.000 Rp 8.000 per gulungan benang, sehingga orang enggan memintal benang,” kata Uswatun.

Untuk menghindari langkanya benang pintal, Uswatun yang menjadi “ibu asuh” bagi pembatik-pembatik di desanya, akhirnya memberdayakan seluruh keluarganya. Dari ibu sampai adik-adiknya, diminta memintal benang. “Habis bagaimana lagi, saya kan harus menyediakan benang untuk pembatik saya. Kalau persediaan benang habis, lalu bagaimana warga desa saya bisa membatik,” katanya.

Bagi warga Desa Kedungrejo sendiri, pekerjaan yang paling baik adalah bertani. Sedangkan batik dibuat hanya untuk mengisi waktu luang, saat tanaman sudah ditanam, dan mereka hanya tinggal menunggu waktu panen saja. “Jadi bagi warga desa, batik itu tidak penting,” ujarnya.

Namun sekarang batik gedog sudah mulai menggeliat. Itu karena pembatik Tuban mulai menyadari bahwa batiknya unik dan cocok dengan selera masyarakat kelas menengah atas, termasuk turis mancanegara.

***

KALAU perempuan Tuban membatik karena menunggu masa panen, perempuan di Tanjungbumi, Bangkalan, Madura, membatik karena menunggu kedatangan suaminya. Kepala rumah tangga di Tanjungbumi, Bangkalan sebagian besar bermatapencarian sebagai nelayan. Dan kalau sudah pergi menangkap ikan, mereka bisa pergi berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan.

Bagi perempuan Tanjungbumi, menunggu kedatangan suami merupakan saat-saat paling panjang dan menegangkan. Mereka selalu gelisah apakah suaminya bisa pulang kembali dengan selamat dan bisa membawa uang untuk biaya rumah tangga. Untuk mengurangi rasa gelisah tersebut, akhirnya mereka mulai belajar membatik. Namun, hingga kini belum ada yang dapat memastikan kapan para istri itu mulai membatik.

Kegiatan yang dilakukan untuk membunuh waktu itu sekarang menjadi industri rakyat yang cukup besar. Tanjungbumi menjadi kecamatan terbesar di Madura yang memproduksi batik. Popularitas kecamatan yang letaknya sekitar 43 km di timur Kota Bangkalan itu, mulai dikenal penggemar batik Tanah Air.

Sekarang di Tanjungbumi ada 530 unit usaha batik dengan 1.050 perajin. Jumlah tersebut belum termasuk para perajin yang mengerjakan secara perorangan yang sifatnya hanya sekadar kerajinan tangan saja. Unit-unit perbatikan itu tersebar di Desa Macajah, Desa Telaga Biru, Desa Paseseh dan Desa Bume Anyar.

Corak batik Tanjungbumi mempunyai kekhasan batik pesisir, yakni corak bebas dan warna-warna berani. Namun menurut Mursidi, perajin batik dari Desa Jetis, Sidoarjo, warna-warna batik Madura itu seperti warna batik Sidoarjo. “Batik Madura itu belum lama ada. Biasanya mereka membeli batik dari Sidoarjo, dan memang yang senang batik Sidoarjo hanya orang Madura dulunya. Ketika batik mulai tumbuh di Madura, maka corak dan warnanya pun mirip dengan Sidoarjo,” kata Mursidi.

Yang menjadi kekhasan batik Tanjungbumi adalah selalu ada warna merahnya, dan ada cecek (titik-titik). Harganya, dari
Rp 30.000 sampai Rp 450.000.

Namun, walau sudah menjadi industri rakyat dan dikenal oleh penggemar batik Tanah Air, tetapi Tanjungbumi masih menemui kesulitan dalam pemasaran, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Kalaupun ada batik Tanjungbumi ditemukan di luar negeri, itu bukan hasil pemasaran para perajin ke luar negeri, melainkan dibawa oleh para wisatawan asing.

“Sayang wisatawan asing itu datang ke sini hanya kalau ada karapan sapi. Mereka nonton karapan, lalu pulangnya mampir ke sini. Kalau khusus datang ke sini untuk memborong batik, wah jarang sekali,” kata Kurniatun, perajin batik Exclusive.

Sumber : (arn/eta) Kompas Cetak, Jakarta

Pria-pria Berbatik di Kasino

Sunday, September 3rd, 2000

TUMPUKAN koin-koin plastik terpasang rapi di atas meja. Seorang pria muda menaruh empat tumpukan setelah usai mencoret-coret kertasnya. Sekian detik kemudian terdengar bunyi bel tanda putaran akan dimulai. Lampu di bawah meja menyala di beberapa nomor.
Koin senilai 100 dan 50 ringgit yang dipasang pria tadi dalam waktu singkat berlipat jumlahnya. Untuk sesaat dia berhenti tidak ikut menaruh koinnya, tatapi cuma mengamati jalannya permainan. Lalu berikutnya dia memulai lagi dengan koin-koin yang lebih banyak, namun dengan nilai nominal per satuannya lebih kecil. Kali ini dia memasang di beberapa nomor. Sial, tak satu pun tersangkut. Tumpukan koin-koin itu pun segera berpindah tangan.

Rasanya tak sampai setengah jam, habis sudah simpanan koin yang dimiliki pria itu. Entah berapa modalnya, yang terang dia sudah sempat menggenggam ratusan ringgit Malaysia sebelum akhirnya melayang kembali.

Memang salah satu yang menarik dilihat (atau dilakukan) di Genting Highlands adalah bertaruh di arena kasino. Di tempat ini orang tak perlu harus takut ditangkap petugas karena berjudi, meski ini dilakukan di negara Malaysia yang sama dengan Indonesia melarang perjudian.

Cuma dengan memperlihatkan paspor, orang dewasa bisa masuk ke arena taruhan dan ikut bermain jackpot, rollet, bacarat, dan lainnya. Syarat lainnya, pengunjung pria wajib mengenakan pakaian formal yang dilengkapi dengan ikatan dasi di leher atau kalau mau lebih santai sedikit, memakai kemeja batik.

Kelihatannya pakaian yang terakhir ini lebih banyak dipilih oleh pengunjung kasino. Batik warna-warni begitu mendominasi tempat itu, bahkan sampai di luar kasino. Di lobi hotel di sekitarnya selalu saja bisa ditemukan pria-pria berpakaian batik.

Jangan bayangkan batik tulis dari bahan sutra, seperti yang biasa dipakai ketika orang menghadiri acara resmi di Jakarta, misalnya. Sepintas saja jelas berbeda sekali. Boleh dibilang batik yang dipakai kebanyakan pengunjung kasino tak ada apa-apanya. Motif dan bahannya benar-benar ala kadarnya. Di depan areal kasino, kemeja-kemeja batik itu ditawarkan seharga 30 ringgit (sekitar Rp 60.000) saja.

Izin khusus

Sampai sekarang kasino di Genting merupakan kasino pertama dan satu-satunya yang diizinkan beroperasi di Malaysia. Adalah mantan Perdana Mentri Tunku Abdul Rahman yang pertama kali memberi angin terhadap rencana pembuatan kasino di Genting, tahun 1969. Waktu itu satu-satunya pertimbangan adalah agar resor itu bisa semakin menarik sebanyak mungkin wisatawan.

Sejak sinyal izin kasino diberikan, pimpinan Grup Genting, Lim Goh Tong waktu itu serta merta memutuskan untuk memperluas pembangunan proyek hotelnya, dari yang semula berencana cuma membangun 38 kamar saja menjadi 200 kamar. Kasino diyakini memang bakal mampu menjadi pemikat orang untuk datang.

Mulai beroperasi tahun 1971, pada awalnya kasino ini bekerja sama dengan kasino di Seoul untuk bidang manajemen. Perjanjian awal berlaku tiga tahun, namun hanya tujuh bulan pertama perjanjian itu diakhiri, pihak Genting kemudian mengambil alih semua pengoperasian.

Seperti ruang gawat darurat, kasino ini tak pernah mengenal kata tutup. Sepanjang hari tempat ini dibuka, sepanjang hari itu juga ada (banyak) pengunjung yang datang. Kalau setahun ada 365 hari, sebanyak jumlah hari itu pula kasino dibuka.

“Kontribusi kasino memang besar sekali,” kata Ng Kok Wai, Manajer Hubungan Media Grup Genting. Namun dia mengaku tidak mengetahui berapa persisnya jumlah kontribusi itu terhadap pemasukan pendapatan secara keseluruhan. “Konsep kami sebenarnya adalah resor untuk semua, kasino cuma salah satu dari sekian fasilitas yang kami sediakan,” lanjutnya.

Ng Kok Wai juga mengaku sulit untuk menyebut angka rata-rata pengunjung kasino. Yang jelas kapasitas muat bisa mencapai 50.000 orang.

Berapa banyak uang yang bisa dikeluarkan dan sebaliknya bisa didapat pengunjung memang menjadi rahasia yang bersangkutan. Modal dan taruhannya macam-macam. Mereka yang cuma bermodal satu ringgit pun kalau mau bisa mencoba jackpot yang berderet sampai ratusan jumlahnya. (ret) Kompas cetak, Jakarta