Batik dan Jumputan, Selalu Ada Kesempatan untuk Kembali

Karya Ghea PanggabeanJUMPUTAN bukan barang baru untuk artisan kain di Indonesia. Teknik yang dipergunakan di banyak tempat di dunia ini termasuk salah satu teknik membuat ragam hias tertua yang berkembang lebih dulu sebelum berkembangnya teknik batik yang relatif lebih rumit yang menggunakan malam untuk menahan warna. Dalam perjalanannya, teknik itu berkembang menjadi antara lain tritik (stitching tie-dye).

Perancang Ghea S Panggabean pernah mengangkat jumputan yang segera menjadi trend di dalam negeri pada tahun 1980-an. Beberapa kali ia menggunakan teknik yang sama, atau pengembangan teknik itu dalam rancangannya. Tahun lalu misalnya, ia menggunakan teknik celup gradasi yang merupakan pengembangan dari jumputan. “Saya sangat menyukai tritik dan jumputan,” kata Ghea Panggabean yang dengan fasih menuturkan berbagai bentuk modifikasi jumputan dan tritik di berbagai tempat. “India banyak sekali menggunakan jumputan dan di sana jumputan selalu ada,” katanya.

Karya Stephanus HamyMusim semi dan panas tahun ini, perancang Donna Karan memanfaatkan jumputan yang inspirasinya berasal dari Asia. Menurut Elsa Klensch dalam cnn.com, perancang yang bermukim di New York itu mengombinasikan teknik lama dan baru untuk menghasilkan gaun-gaun dalam aneka warna. “Warna-warna indigo dan pewarnaan dengan tangan yang saya lihat di sana … mereka membuat saya terbang,” kata Karan. Ia menggunakan warna mulai dari warna kulit hingga merah yang kuat dan mengatakan ia mendapatkan kebebasan baru dalam menggunakan warna. Dan, sebagai perancang dunia di pusat mode dunia, Karan memiliki keuntungan dengan mudah mendapatkan bahan-bahan berteknologi tinggi. Eksekusinya memberikan tampilan yang modern dengan rok asimetri setinggi bawah lutut, atasan tanpa lengan yang memberi kesan warna mengkilat, jaket berleher te-gak tanpa kelepak kerah, atau atasan asimetris dengan ragam hias bola-bola jumputan. Inspirasinya ternyata adalah era 1960-an dan 1970-an, saat mana terjadi kegembiraan yang meluap-luap di Barat dengan munculnya kegairahan kaum muda menentang kemapanan orde yang lebih tua. “Saya harus mengatakan, kita melihatnya datang lagi,” katanya.

***

Karya Ghea PanggabeanBUAT Ghea, jumputan adalah kata hati. Ia akan mengambilnya kapan saja ia ingin menggunakannya tanpa harus memikirkan trend. Seperti juga ketika ia diminta merancang untuk rumah batik Danar Hadi. Ghea ingin batik tetap tampil klasik. Warnanya ia pilih merah batik Lasem, birunya dari biru indigo, sementara coklat sogan dibuat menjadi lebih muda.

“Batik itu sudah cantik, jadi rasanya lebih baik ia tampil seperti batik seharusnya muncul. Saya memilih warna yang seperti warna klasik batik. Merah, biru, coklat muda,” tutur Ghea menjelang pergelaran Jumat lalu.

Motif yang dipilihnya pun motif klasik, truntum dan bang biru. Motif truntum yang biasanya dibuat dalam warna coklat sogan di atas warna dasar gelap dan disusun dalam barisan yang rapat, dimodifikasi untuk mengisi latar merah marun. Motif bang biru yang berbentuk burung dan stilisasi daun menjadi hiasan pada ujung lengan sepanjang tiga perempat, bagian tengah tunik atau jaket, bagian tengah rok panjang modifikasi rok lilit, atau tepian celana panjang. Tidak ada yang baru dalam padu padan yang ditawarkan Ghea karena Ghea memang sengaja memberikan bentuk-bentuk dasar. Rasa modern terasa pada padanan celana kapri merah polos berbahan sutera dengan padanan atasan berbentuk kaftan pendek, atau atasan merah polos bergaya kaftan dengan celana panjang batik bermotif modifikasi bang biru. Namun, ciri etnik Ghea tetap terasa melalui gaya lilit kain panjang atau jaket berkancing satu.

Karya Itang Yunasz“Saya merasa tertantang mengerjakan batik justru karena saya tidak mengkhususkan diri pada batik. Batik memang menarik dan saya senang pada kain-kain tua. Saya menggambar motifnya dan mengerjakan percobaan warnanya, eksekusi selanjutnya mereka (Danar Hadi) yang mengerjakan,” kata Ghea.

***

KOLEKSI yang dikelompokkan dalam label Ken Dedes ini juga dikerjakan oleh Itang Yunasz dan Stephanus Hamy. Itang menggunakan pendekatan yang lebih muda yang ditampilkannya antara lain dengan menggunakan rumbai pada bagian tengah gaun berbahan sutera sifon dan atasan dengan bahan sama. Kesan sensual yang memang menjadi salah satu ciri Itang yang sangat memuja keindahan perempuan, segera terasa melihat sutera sifon yang jatuh pas badan di atas lutut. Sensasi feminin semakin terasa melalui manik-manik yang tak mencolok di sana-sini atau bordir sulur-suluran yang halus.

Karya Itang YunaszItang juga memanfaatkan warna batik yang antara krem-merah muda untuk dipadukannya dengan warna yang sedang in, ungu. Tentu ungu yang serasi dengan warna coklat muda dan kebiruan yang menjadi warna utama.

Sementara Stephanus Hamy yang sudah berusaha konsisten membuat ciri lipit sebagai tanda tangannya, kali ini seperti menyerah pada keadaan. Baju-baju panjang batik yang penuh dengan sulaman benang emas dan payet keemasan tidak memiliki ciri Hamy. Bila pembawa acara tidak menyebut nama Hamy sebagai perancangnya, orang bisa salah duga sebagai baju malam berbahan batik yang sering dibuat siapa saja. Alangkah menariknya bila Hamy juga mau bereksperimen dengan batik lipit.

Sumber : (nmp) Kompas Cetak

Leave a Reply