Archive for April, 2000

Ardiyanto Pranata, Batik adalah Jalan Hidup

Thursday, April 20th, 2000

Ardiyanto PranataIa tak ingat lagi berapa banyak desain batik yang telah diwujudkannya entah dalam lukisan maupun dalam kain. Ia juga tak ingin mematenkan desain batik yang telah dibuatkannya, karena baginya ide kreatif untuk mendesain batik itu tak akan pernah ada habisnya. Oleh karena itulah ia tak risau meski tahu hasil desain batiknya atau lukisannya ditiru banyak orang.

“Ibaratnya sekarang ditiru orang, semenit kemudian saya bisa mendapatkan desain batik yang lain. Batik itu sangat kaya dan tak akan pernah ada habisnya. Motif yang sama kalau dikerjakan di Solo dan di Cirebon saja, hasilnya sudah berbeda. Ini baru dari perbedaan tempat pengerjaan, belum dari jenis kainnya, belum dari pewarnaannya, belum dari keahlian perajinnya, belum lagi dari motifnya itu sendiri,” kata Ardiyanto Pranata (56) yang lebih suka disebut sebagai seniman batik daripada desainer busana maupun desainer tekstil ini.

Alasannya, menjadi desainer busana ia merasa terbatasi karena harus memikirkan waktu-waktu tertentu untuk mengadakan show. Selain itu, ia juga lebih menyukai desain pakaian sederhana dan klasik. Untuk itu, Ardiyanto lebih merasa pas bermain sebagai desainer tekstil, sebab dengan model pakaian klasik ia bisa memainkan motifnya.

“Saya berangkat dari mendesain tekstil sehingga lebih mudah menyesuaikan untuk desain pakaian yang saya inginkan. Untuk mendesain tekstil, saya juga tak harus terpaku pada waktu, misalnya mengumpulkan desain baru untuk show tahunan. Menjadi desainer tekstil membuat saya bisa mencipta dan mengeluarkannya kapan saja,” ucap Ardiyanto yang memilih bahan dasar sutera dan katun ini.

Di kalangan perbatikan, Ardiyanto bukan nama baru, karena batik telah digelutinya sekitar 26 tahun. Galeri sekaligus rumah tinggalnya seluas 6.000 meter persegi di Jalan Magelang, Yogyakarta, selain menjual dan memproduksi batik tulis yang umumnya dibuat di atas kain sutera, juga menjadi tempat bagi para mahasiswa untuk melakukan riset.

“Saya tak pernah menyembunyikan apa pun yang sudah saya lakukan maupun yang saya miliki, baik proses pewarnaan maupun riset kain batik kuno koleksi saya. Saya makin senang, kalau semakin banyak orang yang memperhatikan batik,” kata ayah tiga anak dan kakek enam cucu ini.

Kini ia justru prihatin, karena hantaman krisis moneter mempengaruhi para pengusaha dan perajin batik di kawasan Yogyakarta. Ardiyanto tak menyebutkan berapa jumlahnya, tetapi menurut dia, krisis telah membuat tak sedikit perajin batik yang terpaksa menutup usahanya. “Padahal batik itu bisa dijadikan sebagai hasil kebudayaan. Corak batik selalu mengikuti apa yang tengah terjadi di masyarakat pembuat dan pemakainya. Perubahan pada batik biasanya seiring dengan perubahan nilai-nilai masyarakat,” kata Ardiyanto yang mulai tertarik menggeluti batik justru karena orang AS yang tinggal di rumahnya belajar batik sekitar akhir tahun 1960-an.

Lalu ia menyebut beberapa motif batik yang dipengaruhi Belanda dengan kembang buketnya, motif naga yang merupakan pengaruh Cina, sampai motif parang barong yang semula hanya boleh dipakai seorang raja pun kini dipakai pejabat tinggi negara. “Akan tetapi seiring perubahan nilai dalam masyarakat, motif yang dipakai raja tetaplah besar-besar, sementara pejabat negara meski memakai motif yang sama tetapi bentuknya lebih kecil,” ujar kolektor keramik, batu megalit, lukisan kaca dan pecinta tanaman ini.

***

MASIH membuat kain batik klasik dalam jumlah terbatas, Ardiyanto yang memiliki lebih dari 1.000 karyawan ini lebih banyak mengolah batik untuk digunakan sebagai kain pembuat busana. Ia mengubah batik klasik menjadi batik fungsional karena sasaran pasarnya adalah mereka yang berusia di atas 40 tahun dan telah mapan. Kain batik yang semula dipakai orang di pinggang ke bawah, lewat tangan Ardiyanto dijadikan pakaian eksklusif untuk berbagai kesempatan.

“Selain menggabung-gabungkan motif, membuat desain baru, sebenarnya saya juga mentransfer motif klasik menjadi kain masa kini,” ujar pria yang setiap tahun minimal tiga kali berpameran di luar negeri ini.

Bagi Ardiyanto motif kain panjang (jarik) terlalu besar bila dijadikan tekstil untuk busana. Oleh karena itu ia memperkecil ukuran motif pada kain panjang atau merenggangkan jarak motifnya. “Orang sekarang ini suka yang sederhana, sementara motif jarik itu terlalu padat kalau dipakai untuk busana, meski memang sebagai jarik tak masalah,” ujar Ardiyanto yang memulai kariernya sebagai pelukis batik awal 1970-an.

Seringkali pula Ardiyanto menggabungkan motif batik klasik dengan imajinasinya, misalnya ia menggabungkan motif pohon pada batik klasik dengan loro blonyo. “Lalu orang menginterpretasikan bahwa itu adalah pohon kehidupan, saya tak keberatan. Sepanjang orang menyukai dan menghargai apa yang saya lakukan, saya sudah senang,” tutur pria yang mengaku kini tak mempunyai ketekunan lagi untuk melukis batik seperti yang pernah dilakukannya pada masa lalu. “Kalau membuat desain motif, orang lain bisa membantu membatik dan memrosesnya. Ini berbeda dengan melukis batik, semuanya harus saya kerjakan sendiri, mulai dari membuat cecek, berkali-kali mencelup sampai memilih piguranya.”

Tak pernah henti belajar tentang tekstil dan batik secara otodidak, namun Ardiyanto sendiri kerap terkaget-kaget dengan hasil olahan batiknya. Misalnya sekitar tahun 1974, modifikasi motif burung besar berwarna birunya disukai orang setelah dijadikan baju kaftan. Atau pada tahun 1980-an ia mengaku keliru membeli bahan karena terlalu banyak unsur tetoronnya.

“Saya kesal jadi saya geletakkan saja. Ketika Non Kawilarang datang dan melihat kain itu, dia bilang kain itu bagus sekali. Ucapannya memberi ide, saya coba membatik di atas kain itu, ternyata jadinya malah warna-warna pastel yang bagus,” kata Ardiyanto yang mengaku sejak itulah ia menyadari bahwa kekeliruan seringkali menjadi awal dari penemuan barunya.

Demikian pula dengan pewarnaan, belakangan Ardiyanto mencoba menggunakan pula bahan pewarnaan dari alam seiring dengan semangat masyarakat kini. Hasilnya? “Warna-warna kain batik jadi tampak lebih lembut, dan bisa lebih menampakkan keindahan motif batik itu sendiri,” katanya sambil menunjukkan kain sutera motif pagi sore dilengkapi dengan dua selendang bermotif sama.

Selain tetap menekuni batik jawa, Ardiyanto juga menggunakan motif asli Sulawesi Selatan. Ia menemukan adanya kemiripan antara motif asli Toraja dengan batik Cirebon, atau motif dari Goa dengan motif batik lasem.

Ia seakan tak merasa lelah dengan penjelajahannya pada batik dan motif asli daerah lainnya. Ardiyanto juga tak ingin terburu-buru menambah jumlah produksi batik tulisnya yang rata-rata 100 buah sebulan dengan harga mulai sekitar Rp 600.000-Rp 6 juta. Untuknya, bisa menciptakan sesuatu yang baru lebih penting daripada mengejar kuantitas. Ia memilih menggunakan waktu yang ada untuk mendokumentasikan mulai dari desain, bahan, sampai proses pembuatan batik-batik karyanya. Alasannya, pendokumentasian itu penting untuk mengingatkan apa yang sudah dilakukannya, dan dengan cara itu orang lain bisa turut mempelajarinya.

Ardiyanto juga tetap menyempatkan diri melukis, meski bukan lagi lukisan batik. Ia memilih modern-abstrak. “Kalau saya berhenti melukis mungkin saya hanya mampu menjadikan batik sebagai kenangan lama. Akan tetapi dengan menggeluti seni modern ini, saya seakan bisa menarik tirai dari yang tradisional ke masa kini dan melihat harmonisasi keduanya.”

Kini ia juga sibuk mempersiapkan Festival Batik Internasional yang bakal digelar di Yogyakarta, September mendatang dengan juri para ahli tekstil mancanegara. “Batik adalah jalan hidup saya. Dengan batik saya menikmati hidup, punya banyak teman dan pergaulan yang luas. Saya ingin batik tetap berkibar ke seluruh dunia.”

Sumber : (hariadi sn/chris pudjiastuti) Kompas Cetak, Jakarta