Tasik Punya Batik, Garut Punya Nama
Friday, February 18th, 2000“KEMARIN ada lagi yang meninggal. Berkurang satu lagi pembatik saya. Besok entah apa lagi. Mungkin ada lagi yang berhenti karena tidak kuat lagi. Yahh…, mereka sudah tua-tua. Yang paling muda saja umurnya lima puluh tahun,” keluh Udey Budiman, salah seorang pengusaha batik tulis di Kecamatan Cipedes, Tasikmalaya (Jabar). Ia menceritakan kesedihannya sekaligus kegalauan hatinya karena salah satu pembatik yang bekerja padanya, meninggal.
Tak hanya di Tasik, keluhan sama juga dilontarkan pembatik-pembatik tradisional lainnya di Garut. Sudah lebih lima tahun terakhir mereka merasa resah karena jumlah pembatik tradisional terus berkurang setiap tahun. Ada yang meninggal, ada yang memang karena sudah tua sekali dan tidak sanggup membatik lagi. Sementara generasi muda yang diharapkan sebagai penggantinya tidak kunjung datang atau bertahan.
Kadang ada memang yang berminat dan menggantikan pembatik tua yang sudah berhenti, tetapi itu biasanya tidak bertahan lama. Kebanyakan, mereka bertahan hanya hitungan bulan atau paling lama satu tahun. Setelah itu berhenti.
***
TIDAK berminatnya generasi muda menjadi pembatik tidak lain karena tersedia lapangan pekerjaan lain yang memberi gaji lumayan, sementara pekerjaan membatik terasa rumit dan semakin sedikit generasi muda yang paham seni batik. “Di Garut ini sangat mudah dapat pekerjaan yang gajinya lumayan seperti jadi buruh pabrik atau pegawai dan yang lainnya. Apalagi bila mereka memang tidak punya jiwa seni dan tidak sabar. Akhirnya mereka melihat pekerjaan membatik itu adalah pekerjaan yang membosankan dan membuat jenuh,” jelas Uba Sri Husaodah Muharam, pengusaha batik tulis garutan yang giat mempertahankan batik Garut.
Menurut Udey Budiman, pekerjaan lain memberi gaji lebih menggiurkan dan jam kerja lebih singkat. Hal ini membuat anak-anak muda makin enggan melirik batik. Apalagi kerja membatik sangat membutuhkan ketekunan dan kesabaran.
“Kerja di pabrik atau jadi pramuniaga misalnya, gajinya bisa dua ratus ribu hingga empat ratus ribu rupiah. Sementara membatik, pendapatannya kurang lebih sama tetapi jam kerjanya kadang lebih panjang. Apalagi bila mereka memang tidak punya jiwa seni. Membatik ini kadang lebih dilihat sebagai beban daripada lahan cari duit,” tandasnya.
Berbagai cara telah dicoba untuk membangkitkan minat anak muda untuk menjadi pembatik. Pemda dan perajin sama-sama rajin mengadakan pelatihan dan pembinaan, bahkan memasukkan batik ke dalam mata pelajaran keterampilan di sekolah-sekolah. Sayangnya berbagai usaha ini belum berhasil memanggil generasi muda itu.
“Saya pernah melakukan pelatihan membatik untuk anak-anak SMP dan SMA serta pengangguran. Saat mengikuti pelatihan, mereka kelihatan penuh minat dan antusias. Setelah itu saya pekerjakan di tempat saya dengan gaji yang tak kalah menarik. Tetapi, yang bertahan sampai sekarang hanya dua orang,” jelas Uba.
***
SANGAT bisa dipahami bila kondisi itu makin membuat galau pembatik-pembatik tradisional. Apalagi seiring dengan itu, jumlah usaha batik juga terus berkurang.
Di Tasikmalaya, pada masa kejayaan batik antara tahun ‘60-an hingga ‘70-an, tak kurang ada 400 usaha batik yang menyerap ribuan tenaga kerja. Tak heran pada masa itu Tasik terkenal dengan julukan kota batik. Tahun 2000, yang tinggal hanya 84 usaha dengan 300-an tenaga kerja. Dari jumlah tenaga kerja itu, pembatik-pembatik yang membuat batik tulis tinggal puluhan, itu pun usianya rata-rata di atas 50 tahun. Selebihnya adalah tukang celup atau tukang warna.
Tidak berbeda dengan Garut. Di kota ini kendati sejak dulu jumlah usaha batik memang tidak sebanyak Tasik, tetapi terjadi juga pengurangan besar-besaran. Tahun ini tinggal tiga usaha batik yang bertahan dari jumlah puluhan sebelumnya.
Semua itu tentu saja berdampak pada makin berkurangnya produksi batik tradisional atau yang lebih dikenal dengan batik tulis. Apalagi saat ini sudah banyak usaha batik yang lebih memfokuskan produksinya pada batik printing dan cap.
Pilihan pengusaha pada produksi batik printing dan cap tak lepas dari masalah tenaga kerja, pasar dan daya beli masyarakat. Untuk membuat 1.000 potong batik printing hanya butuh waktu satu hari dengan tenaga kerja 20 orang. Sedangkan dengan batik tulis, untuk satu potong saja, rata-rata membutuhkan waktu satu bulan.
Proses membatik memang lama, mulai dari menggambar, memberi malam pada gambar memakai canting, diwarnai menggunakan kuas, ditembok (warna yang sudah dioles, ditutup lilin untuk mencegah terkena warna lain), dicelup (memberi warna dasar), hingga pelepasan malam memakai air mendidih (rorod).
Setelah itu masih ada persoalan pemasaran. Harga batik tulis yang berkisar Rp 200.000 hingga Rp 2 juta bahkan lebih membuat pembatik harus menunggu pembeli dengan sabar.
Bagi yang punya relasi atau bekerja sama dengan perancang atau pengusaha batik yang lebih besar di Jakarta atau Yogyakarta misalnya, masalah pemasaran ini tidak begitu sulit. Ini yang terjadi di Garut di mana rata-rata pembatik sudah mempunyai pasar yang luas. Kerja sama dengan perancang membuat pembatik akhirnya berani melanggar aturan dasar. Misalnya Udey Budiman mencoba menawarkan warna dan corak milenium dan sesuai trend mode, itu artinya warna abu-abu, putih dan keperak-perakan di atas warna biru dengan motif bulatan dan garis. Mungkin karena ini, nasib batik Garut lebih baik dibanding batik tasikan dalam pemasaran.
Namun, di Tasik banyak pembatik yang menjual sendiri atau hanya menunggu pembeli datang. Paling banter pasaran akan bagus saat musim pernikahan. Pada saat itu mereka biasanya mengerjakan pesanan batik, baik untuk digunakan pengantin maupun keluarga pengantin, para penjemput tamu sampai panitia.
Harapan juga biasanya lebih besar bila ada kunjungan pejabat dari pusat atau perayaan hari-hari besar. Biasanya pada saat seperti itu banyak ibu-ibu pejabat yang memesan kain batik.
Sering kali pembatik Tasik juga tertolong oleh pembatik di Garut. Ini terjadi bila Garut mendapat pesanan banyak sementara tenaga kerja yang ada tidak sanggup menyelesaikan.
“Kami sering diberi pesanan untuk membantu mengerjakan pesanan-pesanan mereka. Kadang desain dan gambarnya sudah ditentukan tetapi kadang mereka minta apa yang kami punya,” jelas Udey. Batik garutan memiliki ciri warna biru, krem dan soga agak merah dengan motif sapu jagat, merak ngibing dan lereng peteuy. Sedangkan batik tasikan bercirikan warna dasar merah, kuning, ungu, biru, hijau dan soga.
Dari segi pemasaran tambah Udey, hal ini sebenarnya sangat menolong, tetapi di pihak lain pembatik dan batik Tasikmalaya dirugikan karena dengan cara itu nama batik tasikan kalah terkenal ketimbang batik garutan. Hampir tidak ada konsumen yang tahu bahwa di antara batik garutan yang mereka beli, terdapat batik-batik buatan Tasikmalaya. Sekitar 20 persen produksi batik Tasik dipasarkan di Garut dengan nama batik garutan. Ini jadinya seperti kerbau punya susu, sapi punya nama. Batik tasikan makin tenggelam oleh pamor batik garutan.
Sumber : (reny sri ayu taslim) Kompas Cetak, Jakarta