Nasir Achmad dan Interior Batik Tulis Pekalongan
Sunday, January 23rd, 2000
Bisa terus bertahan lebih 15 tahun saja merupakan satu hal yang sangat disyukurinya. Nasir Achmad tak mempunyai mimpi terlalu jauh untuk bisa mengembangkan bisnis interior batik pekalongannya menjadi suatu usaha yang besar. “Kalau tak merasa sayang, mungkin sudah dulu-dulu saya pindah ke usaha lain,” kata Nasir.
Kecintaannya pada batik pekalongan tergalang sejak Nasir masih kecil, melalui pengenalan yang diberikan almarhum ibunya. Ny Norma Makarim adalah salah seorang desainer batik di Pekalongan, sampai dia meninggal tahun 1991. Produk yang dihasilkan berupa kain atau sarung batik tulis.
Nasir yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara anak Norma, merasa sayang untuk memutuskan hubungan dengan batik. Pikirnya, “Siapa lagi yang mau melanjutkan, kalau bukan orang yang pernah dekat dengan kehidupan membatik.”
Ucapan ini setidaknya dibuktikan dengan ketetapannya berjalan bersama batik tulis pekalongan sampai sekarang. Sempat setelah lulus dari kuliah di Fakultas Hukum Trisakti tahun 1985, Nasir menjajal dunia kepengacaraan. Namun tak lebih dari dua tahun dia bertahan, setelah itu dia kembali ke Pekalongan untuk mengurus usaha batiknya.
Meski tidak mengingkari bahwa batik menjadi sumber hidupnya, Nasir mengaku usaha ini tak terlalu menjanjikan keuntungan yang cepat seperti
usaha-usaha lainnya. Dari sejak mula memulai sendiri usahanya sampai sekarang, relatif tak ada lonjakan perkembangan yang berarti. “Dulu malah saya punya show room di Kemang, lama-lama nggak tahan bayar uang sewanya, makanya kemudian kami pindahkan show room ke rumah,” ucap pria berusia 45 tahun ini.
Sewaktu ibunya masih hidup, Nasir sering melihat bagaimana proses menimbang pewarna atau bagaimana membuat desain dan motif batik. Juga bagaimana ibunya membuat catatan khusus mengenai campuran warna dari sekian banyak eksperimen yang pernah dilakukan.
“Waktu ibu masih hidup saya tahu ada catatan-catatan itu, tapi nggak nyangka ternyata setelah meninggal saya baru tahu catatannya begitu banyak, sampai setumpuk,” kata Nasir yang kini mempunyai satu anak.
Nama ibunya terus dia abadikan dalam bentuk merek dan nama usahanya, yakni Batik Tulis Halus Norma Makarim Pekalongan.
Mengkhususkan interior
Kalau dulu ibunya membuat kain atau sarung batik, Nasir memilih membuat batik untuk keperluan interior rumah. Cuma sesekali saja dia memproduksi batik tulis untuk kain atau sarung. Pertimbangannya rasional saja, produk interior pada masa sekarang ini lebih berpeluang mendapatkan peminat dibandingkan dengan kain dan sarung yang mulai kehilangan peminat.
“Beda memang dengan kain yang hanya dipakai untuk kesempatan-kesempatan tertentu saja, kebutuhan interior merupakan kebutuhan sehari-hari,” begitu alasannya.
Pembuatan batik buat keperluan interior sudah dilakukan ketika Ny Norma masih aktif membuat batik. “Prinsipnya ibu setuju saja, cuma dia mengingatkan saya untuk mempertahankan mutu dan warna,” ujarnya.
Media bahan yang digunakan Nasir untuk membuat bed cover, hiasan dinding (wall hanging), taplak meja, sarung bantal, serta tirai, semuanya dari kain belacu. Selain penggunaan teknik batik tulis untuk hampir semua produknya, Nasir mengungkapkan satu ciri yang sampai sekarang tetap dipertahankannya, yakni mengisi kedua sisi dengan gambar yang sama. Untuk taplak misalnya, bagian dalam dan bagian luar, sama-sama dibatik, sehingga jika dibolak-balik warna maupun motifnya sama.
Bila diukur dari waktu penggarapan, tentu saja dia rugi, karena dengan pembatikan dua sisi, membutuhkan waktu dua kali lebih lama dibanding kalau hanya membuat satu sisi.
Namun Nasir mempunyai alasan tersendiri. Menurut Nasir, selain lebih indah, pembatikan dua sisi ini menjadikan bahan lebih awet. Sementara pilihan bahan belacu juga karena alasan yang sama: agar lebih tahan lama.
Di rumah
Tak menjual produknya di mal atau department store, mereka yang berminat melihat batik-batiknya harus datang ke rumahnya di Jalan Bangka, Jakarta Selatan. Nasir sebenarnya mau saja menitipkan barang-barangnya di pusat perbelanjaan. Namun sistem pembayaran tertunda yang umumnya diterapkan di tempat-tempat semacam itu membebani usahanya.
“Usaha begini ini mengandalkan perputaran cepat. Kalau saya dapat uang, langsung saya kirim ke Pekalongan untuk membayar upah pembatik. Kalau harus menunggu sampai sebulan, nggak mungkin,” katanya.
Tentang pembeli yang datang, Nasir mengatakan, “Kebanyakan orang asing, sebagian sudah langganan, sebagian pembeli pertama.” Dari satu dua orang yang datang ke rumahnya itulah usaha Nasir berjalan dan bertahan, juga perajin di Pekalongan bisa menghidupi keluarganya.
Mengapa justru orang asing yang meminati bahan interior batik, hemat Nasir, karena mereka bisa mengapresiasi lebih dibanding kebanyakan orang Indonesia. Dengan penjelasan tentang sebuah proses batik yang rumit, lagi memakan waktu sampai bulanan, orang asing bisa memahami kenapa sebuah bed cover umpamanya berharga Rp 1,5 juta atau hiasan tembok berukuran 3 meter x 1,5 meter berharga Rp 500.000, begitu juga untuk sarung bantal berukuran 1,5 meter x 1,5 meter. Harga terendah untuk interior batik yang ditawarkan adalah Rp 75.000, yakni untuk sarung bantal berukuran standar.
Warna dan motif ikut mempengaruhi tinggi rendahnya harga. Warna dasar hijau turquoise yang didapat dengan proses pewarnaan yang paling sulit, harganya relatif paling tinggi di antara warna-warna lain.
Permainan warna menjadi sesuatu yang paling diandalkan, sekaligus paling dicemaskan dalam setiap proses pembuatannya. “Motif bisa diperkirakan, tetapi warna sulit diprediksi. Ukuran yang sama, tetapi dikerjakan oleh orang yang berbeda, bisa menghasilkan warna yang berbeda. Makanya saya selalu mengingatkan pemesan untuk tidak mengharapkan bisa mendapatkan warna yang persis seperti diinginkan. Pasti ada melesetnya,” jelas Nasir.
Untungnya menggarap batik ala pekalongan, selain mempunyai kebebasan yang banyak untuk memberi warna, corak dan motif pun relatif tak terbatas kebebasannya. Kalau perlu, gambar-gambar khas dari negeri seberang atau dari daerah-daerah lain di Tanah Air, bisa diadaptasi.
Ratusan desain selalu siap dituangkan dalam batik. Namun dari pengalamannya belasan tahun, Nasir mengamati, orang Asia umumnya lebih suka motif flora atau tumbuhan, sedang bangsa Barat lebih memilih motif-motif binatang. Sementara dari segi warna, selera orang Amerika dan Eropa, umpamanya, saling bertolak belakang. Untuk orang Eropa pun harus dilihat negara asalnya. Orang Perancis yang umumnya lebih senang perpaduan warna biru putih, tak sama selera dengan orang Italia yang senang warna “gegap gempita”, seperti merah, hijau, kuning, bahkan oranye.
Sumber : (ret) Kompas Cetak, Jakarta