Archive for October, 1999

Ardiyanto Pranata: “Jawanisasi” Desain Bikin Batik tak Berkembang

Friday, October 29th, 1999

Meskipun denyut pemulihan industri tekstil sudah mulai terasa saat ini, para ahli batik dan desainer tekstil Indonesia sangat prihatin dengan proses pemiskinan dan penyempitan corak atau desain beragam batik dari berbagai daerah di Indonesia.

Pemiskinan dan penyempitan pertumbuhan desain, terutama dipicu oleh proses “Jawanisasi” dalam desain, serta eksploatasi terhadap desain lama, sehingga beragam corak daerah yang memiliki kekuatan keunikan hilang karena masuknya unsur-unsur desain, teknik pembuatan, dan selera batik Jawa.

“Sudah sangat sering saya lontarkan keprihatinan saya ini ke berbagai tempat, memang ada proses ‘Jawanisasi’ dalam desain yang sesungguhnya justru merusak desain-desain dari berbagai daerah. Cuma kegelisahan seperti ini ternyata tidak jadi kegelisahan nasional. Padahal kesalahan seperti ini kemudian jadi kejahatan dalam kesenian yang tidak disadari,” kata Ardiyanto Pranata (55) desainer batik dan tekstil terkenal dari Yogyakarta kepada Kompas, Kamis (27/10) petang. Keluhan seperti itu, katanya, mulai dirasakan oleh beberapa rekannya sesama desainer namun sulit mengajak semua pihak mengatasinya.

Instruktur desain tekstil dan batik pada Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG) Kesenian Yogyakarta itu terus terang mengemukakan, Indonesia bukan hanya Pulau Jawa. Batik Indonesia bukan cuma batik Jawa. Berbagai daerah di Indonesia sebenarnya memiliki corak sendiri dan jumlahnya luar biasa besar.

“Saya beruntung mendapat pesanan untuk mengembangkan desain-desain batik Sulawesi Selatan. Tetapi saya tahu persis, tidak akan saya masukkan unsur-unsur cecek atau isen-isen (dua teknik membatik asal Jawa) pada batik Sulawesi. Desain dan pola-pola yang ada itulah yang akan saya angkat kembali, dan kita ciptakan dalam wujudnya yang baru tanpa menghubungkan dengan teknik pembuatan Jawa. Ini pasti akan menimbulkan kekuatan baru, dan Anda akan heran kalau ini serius ditangani dan ada tenaga-tenaga di daerah, dalam lima-sepuluh tahun lagi akan panen desain batik daerah yang elok,” kata Ardiyanto.

Ardiyanto Pranata menunjukkan puluhan desain (corak) batik klasik Jambi, Bengkulu, Pekanbaru, Manado, dan Sulawesi Selatan sempat mengalami kemunduran desain justru karena campur tangan dan masuknya unsur-unsur asing yang membuat semua batik kita menjadi berselera Jawa. Padahal ciri batik Jawa yang ber-soga, coklat kehitaman, dan simbol-simbol yang termuat dalam desain-desainnya, tidak bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan pakaian. Inilah sebabnya, sejumlah desain batik klasik maupun desain yang dianggap baru mengalami kejenuhan pasar.

Ardiyanto yang selama ini dikenal sebagai desainer kain, desainer pakaian serta produsen tekstil mengemukakan, batik Jawa bukannya jelek, tetapi jika kita mengulang-ulang desain yang ada, pasarnya terbatas dan penggunaan corak itu pun terbatas. Tetapi jangan lalu membawa tukang-tukang batik Jawa ke Kalimantan, Jambi, atau Sulawesi Selatan dan mereka diminta meniru atau menangani desain batik setempat. Cara-cara yang banyak dilakukan desainer baru dan para istri pejabat itu, dianggap sebagai “kejahatan kultur” yang sangat merugikan keaslian desain dan spirit senirupa daerah.

Beberapa kendala
Kendala lain yang dilihat Ardiyanto ialah tebatasnya jumlah desainer (corak kain) yang benar-benar memahami keberagaman budaya daerah, maupun minimnya sekolah atau studio-studio tekstil, batik, dan kain yang secara khusus mendalami dan mendidik tenaga-tenaga baru.

“Karena tidak mendalami sungguh-sungguh, pada saat akan membuat desain larinya ke motif-motif lama yang mereka ambil dari buku-buku. Pada saat mereka harus go international mereka tidak punya apa-apa karena desain yang ada sudah dicontoh di mana-mana, bahkan desain parang dari Jawa misalnya sudah dipatenkan jadi milik sebuah negara Eropa,” kata Ardiyanto menunjukkan kelemahan kultur komunal kita menghadapi budaya modern hak paten.

Ketidaksiapan lain, karena tidak adanya institusi atau balai kajian batik yang bisa mengkader desainer baru. Kalau industri batik/tekstil hanya mengandalkan pabrik, perusahaan itu akan ambruk, karena tak terserap pasar. Padahal pabrik harus memiliki tenaga desain, peka dengan trend warna, trend bahan, maupun mengkombinasikannya dengan teknik pembuatan tekstil seperti makrame (seni rajutan), bordir, sulam, maupun jumputan.

Sumber : (hrd) Kompas Cetak

Iwan Tirta Meminjam Batik untuk Perak

Friday, October 22nd, 1999

Iwan TirtaNAMANYA selalu dikaitkan dengan batik sejak tiga puluh tahun lalu, bahkan sejak masih menjadi mahasiswa S2 bidang hukum di Yale University, AS. Kecintaannya terhadap batik tidak juga luntur saat ini, ketika kata-kata globalisasi meluncur dengan lancar dari bibir setiap orang dan benda-benda bermerek dari Eropa menjadi kebanggaan mereka yang ekonominya baru kuat. Setiap ada kesempatan, Iwan masih duduk di bangku kecil, menghadap kain, dan dengan luwes tangannya mencanting lilin mendidih dari mangkuk di atas anglo kecil di sebelahnya.

Ternyata, Iwan Tirta yang sesungguhnya adalah manusia multidimensi yang punya banyak minat dan kecintaan. Laki-laki yang menghabiskan waktunya antara Jakarta dan New York ini juga mengerti mengenai tari-tarian dari Keraton Jawa, senang memasak (Iwan paham betul apa yang membuat rasa soto ambengan begitu khas atau rahasia membuat lontong sayur yang sedap), aneka gending Jawa, berbagai jenis kain di luar batik, dan yang terakhir adalah barang-barang seni dari perak. Pada saat yang sama Iwan juga paham bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman, bersekolah di London School of Economics dan menerima beasiswa Adlai Stevenson.

Ketertarikan Iwan pada benda-benda seni dari perak ternyata sudah sama lamanya dengan perhatiannya pada batik. Benda peraknya yang pertama dibuatnya tiga puluh tahun lalu. Berbeda dari batik yang kemudian menjadi “tanda tangan” Iwan, benda dari peraknya tidak digarapnya seintensif batik. Selama tiga puluh tahun, Iwan “baru” memiliki 21 benda seni dari perak.

Kamis (21/10) petang kemarin, benda-benda itu mulai dipamerkan di La Casa de Mexico, Jl Panglima Polim, Jakarta Selatan, setelah pameran resmi dibuka Dubes Meksiko untuk Indonesia. Pameran yang berlangsung hingga 28 Oktober itu terbuka untuk umum. Meskipun demikian, benda-benda tersebut bukan benda biasa, apalagi ketika Iwan sendiri menuturkan cerita di balik tiap benda seni buatannya itu.

“Saya pernah mengundang Dubes Meksiko makan malam di rumah saya, lalu saya ceritakan tentang benda-benda perak koleksi pribadi saya. Dubes tertarik dan beliau mengundang saya untuk pameran,” tutur Iwan.

Memang bukan kebetulan bila Dubes Meksiko mengajak Iwan berpameran. Meksiko memiliki tradisi seni perak sangat panjang, dari masa peradaban Aztec yang kemudian mendapat pengaruh Eropa dengan kedatangan Columbus. “Sampai sekarang terdapat dua macam gaya, yaitu yang dipengaruhi peradaban Aztec dan yang bergaya Eropa Spanyol. Setiap tahun Pemerintah Meksiko mengadakan lomba desain perhiasan perak dengan sumber dari benda-benda kuno yang disimpan di museum,” jelas Iwan.

***

TENTANG benda-benda peraknya tersebut, laki-laki yang sempat bekerja di Perserikatan Bangsa-bangsa itu mengatakan, ia ingin menunjukkan keindahan yang bisa dimunculkan oleh perajin perak Indonesia. Iwan sedih karena perajin perak dari Kotagede yang pernah sangat terkenal, hanya membuat benda-benda komersial seperti sendok dan garpu atau perhiasan kecil-kecil.

Iwan paham betul bahwa pilihan itu terpaksa dilakukan para perajin tersebut karena kebutuhan yang sangat konkret; mereka harus bisa menjual barang-barang yang mereka produksi. Tidak mungkin menuntut terlalu banyak dari para perajin. Zaman yang berubah membuat peran patron yang dulu dipegang keraton kini tidak mungkin sama seperti dulu lagi. Sedihnya, patron yang baru-yang dalam bahasa Iwan adalah mereka yang punya selera “biru” serta uang yang juga “biru” (dan halal)-lebih merasa gengsinya terangkat bila memiliki perangkat benda seni perak dari Eropa.

Untuk membuat benda-benda seni dari perak tersebut Iwan tentu saja menggunakan uangnya sendiri. “Saya tidak memikirkan apakah ada yang akan membeli benda-benda ini dan saya tidak pernah memikirkan berapa uang saya yang tertanam pada benda-benda seni seperti yang terbuat dari perak itu,” kata Iwan. Oleh karena itu, Iwan mengaku tidak punya rumah mewah atau kekayaan kebendaan lain.

***

BENDA-benda yang dipamerkan umumnya merupakan replika dari benda-benda seni milik kerajaan di Jawa. Bentuknya mulai dari kereta milik Kesultanan Kasepuhan Cirebon, perangkat upacara makan sirih milik Paku Buwono X, hiasan kepala penari bedaya dan serimpi dari Keraton Mangkunegara, aneka bokor, lampu yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang, perangkat minum teh, hingga bakul nasi. Sebagian besar benda-benda itu dibuat di Kotagede, Yogyakarta, sisanya dibuat di Desa Kamasan, Klungkung, Bali, di mana perajinnya biasa membuat barang perak tradisional pesanan raja-raja Bali.

Entah karena begitu dalam menggeluti batik atau memang seperti itu naluri yang muncul, ragam hias yang muncul pada benda-benda perak itu juga mendapat pengaruh batik. “Saya bukan yang pertama, karena saya sudah melihat Paku Buwono menggunakan motif batik modang untuk benda perak maupun benda-benda lain,” tutur Iwan. Motif yang biasa muncul pada ikat kepala laki-laki Jawa itu, memang cocok menjadi ragam hias pada benda-benda dari perak yang berdimensi tiga.

Dari tatapan mata lalu berkembanglah ide. Iwan kemudian melihat bukan cuma motif modang yang bisa dipinjam dari batik. Motif nogo rojo (dari motif batik seling nogo) serta motif peksi (burung), hanyalah dua motif yang bisa dipinjam dari batik untuk benda-benda dari perak. Bentuk naga yang dipakai untuk kaki bakul nasi-yang aslinya terbuat dari anyaman bambu dari Palembang-juga mendapat inspirasi dari motif naga pada batik. Tentu saja tidak semua benda itu mendapat pengaruh batik.

Melihat pilihan Iwan pada motif-motif tradisional, baik pada batik, perak atau bentuk kesenian lainnya, tak pelak memang menunjukkan preferensi Iwan menjadi penjaga makna dalam yang terkandung pada batik dan benda seni tradisional lainnya. Itu bukan berarti Iwan tak melakukan inovasi. Ia cuma tidak mau mengorbankan makna yang terkandung pada batik atau benda seni tradisional lainnya hanya demi mengikuti trend, lalu laku terjual.

Batik, kata Iwan, tetap akan bertahan, tetapi hanya akan menjadi benda koleksi. Alasannya, pengerjaannya dengan tangan memerlukan waktu lama dan makin sedikit artisan yang sanggup mengerjakannya. Yang akan tertinggal pada masa mendatang untuk orang banyak, Iwan khawatir, bukan batik dalam pengertian teknik menahan warna memakai lilin untuk membuat motif, tetapi tinggal motif batik yang diproduksi massal menggunakan teknik cetak.

“Lewat pameran ini saya cuma ingin menunjukkan, ini lho benda-benda seni yang kita masih bisa bikin saat ini supaya lebih banyak orang terutama anak muda, melihat dan percaya apa yang kita bisa buat. Saya ingin ada semacam museum atau showroom benda perak bermutu di Kotagede atau Yogyakarta. Mudah-mudahan Sultan Hamengku Buwono X bersedia menyediakan tempatnya,” harap Iwan.

Iwan Tirta telah berbuat konkret dengan menjadi patron, tetapi tidak mungkin ia bekerja sendiri. Entah siapa lagi dengan darah dan dana “biru” bersedia menjadi patron untuk sebuah tindakan yang sering diucapkan tetapi sekaligus disalahmaknakan;: melestarikan budaya masa lalu saat ini untuk masa depan.

Sumber : (ninuk mp) Kompas Cetak