Museum Bale Agung Kulon Progo; Dilengkapi Koleksi Cap Kain Batik

August 10th, 2006

Cap kain batik dengan berbagai corak batik asli Yogyakarta akan menjadi salah satu pelengkap koleksi benda cagar budaya di Kulonprogo yang disimpan di Museum Bale Agung Pemkab Kulonprogo. Museum tersebut menurut rencana pada pertengahan September mendatang akan dibuka untuk umum.

Kepala Subdin Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kulonprogo, Drs Santoso dan Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan, Singgih Hapsoro yang ditemui KR di ruangkerjanya, Rabu (9/8) mengungkapkan di Museum Bale Agung dilengkapi cap kain batik yang ada di Yogyakarta. Cap kain batik merupakan tehnologi industri batik pasca penggunaan alat canthing.

Menurutnya peralatan tersebut diperoleh dari para perajin batik dari berbagai daerah yang sudah tidak dipergunakan lagi. Karena pertimbangan ekonomi, corak kain batik yang diproduksi tidak laku di pasaran sehingga peralatan itu tak dipakai lagi. Read the rest of this entry »

Peragaan Busana Batik untuk Korban Gempa

July 28th, 2006

Dana yang terkumpul akan disumbangkan kepada para perajin batik yang terkena musibah gempa di Yogyakarta dan Jateng. Pergelaran ini juga untuk mencari dukungan bagi pembangunan museum batik Indonesia.

Yayasan Batik Indonesia menggelar peragaan busana batik untuk mengumpulkan dana amal bagi para perajin batik yang terkena gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, baru-baru ini. Acara yang berlangsung di salah satu hotel di Jakarta ini didominasi batik-batik rancangan Ramli.

Batik yang dimunculkan terdiri dari berbagai macam corak dan modifikasi. Batik dengan motif tradisional menjadi lebih menawan dengan tambahan payet yang mengkilap. Ada juga batik-batik pesisir dengan permainan warna yang lebih berani. Ditampilkan pula motif batik Cina-Belanda, yakni motif batik yang banyak dipengaruhi budaya kedua negara itu saat masa penjajahan dulu.

Selain peragaan busana batik, turut digelar pameran batik kuno dari berbagai daerah seperti Lasem dan Madura. Batik-batik tersebut dibuat pada tahun 1900-an atau lebih dari seabad silam. Selain untuk membantu para perajin batik yang terkena gempa, acara ini ditujukan untuk mencari dukungan bagi pembangunan museum batik Indonesia. Diharapkan dengan adanya museum, batik Indonesia dapat lestari.

Sumber : (BOG/Erik Nopriadin dan Julianus Kriswantoro) >Liputan 6

Dari Sogan Batik ke Sogan Village

July 23rd, 2006

Awalnya Iffah M. Dewi merintis usaha Batik Sogan di Dusun Rejodani yang sebenarnya bukan Desa Batik. Usaha batik dari pewarnaan alam tersebut dimulai dari nol. Pertama kali mengajari tiga wanita penduduk Rejodani yang sama sekali belum bisa membatik. Proses ini terus berkembang dan kini sudah cukup banyak wanita dari Dusun Rejodani yang bisa membatik dan membantu usahanya. Kebetulan nenek Iffah M.Dewi mempunyai rumah di Rejodani yang cukup luas dan tidak ditempati, sehingga rumah tersebut dijadikan sebagai workshop sekaligus butik Sogan Batik.

Usaha Sogan Batik pun terus berkembang. Dalam mengembangkan usahanya Iffah bekerja sama dengan biro travel untuk membuat paket wisata yang salah satunya melakukan tur ke Sogan Batik. Selama tiga tahun, Iffah konsisten di dunia batik, ”Banyak teman-teman, pembeli dalam maupun luar negeri, rombongan pelajar, mulai mendatangi workshop Sogan Batik,” katanya. ”Teman-teman banyak yang memuji tempat ini sejuk dan enak suasananya.

Kebetulan di depan bangunan untuk workshop dan Batik Boutique masih ada bangunan tua berupa joglo yang tidak terawat. Akhirnya kami bikin sebagai restoran garden yang menyatu dengan tempat produksi maupun butik Sogan Batik. Hanya dipisahkan oleh halaman rumput yang cukup luas. Sehingga kini Sogan Batik berganti nama Sogan Village yang menawarkan rekreasi makan dan kultural bernuansa kampung,”kata Iffah yang juga pemilik Sogan Village ini. Di sini, juga bisa dijadikan sebagai wisata edukatif membatik bagi anak-anak.

Sumber : (nri ) >Republika Online

Semangat Tak Pantang Menyerah Fatiyah

July 16th, 2006

Batik karya kelembutan tangan Fatiyah sampai diminati pasar mancanegara. Berbagai penghargaan telah diterima termasuk penghargaan Upakarti tahun 1993 atas keberhasilannya mendalami industri kerajinan batik.

angan mudah menyerah. Itulah moto hidup yang dipegang erat Fatiyah Abdul Kadir. Wanita kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah ini sukses mengarungi hidup yang penuh tantangan. Keuletan Fatiyah mendalami usaha batik berbuah manis. Hasil karya kelembutan tangan Fatiyah sampai diminati pasar mancanegara.

Semua kesuksesan yang diraih ibu empat anak dengan delapan cucu ini tidak datang begitu saja. Berbagai halangan dan sempat berbuah kegagalan telah dirasakan. Namun berkat keuletan dan kerja keras, kegagalan menjadi keberhasilan. Buah manis tak hanya dirasakan istri Ahmad Umar ini. Warga setempat juga ikut mengenyamnya karena dipekerjakan olehnya. Read the rest of this entry »

Jejak Barack Obama - Daster Batik Tante Anne

July 14th, 2006

Ann Dunham, ibunda Barack Obama alias Barry, tinggal di Jakarta berpuluh-puluh tahun. Di kawasan Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Ann sering dipanggil Tante Anne. Meski orang bule, namun Anne suka batik. Dia sangat senang daster batik.

“Saya sering diminta menjahit daster Tante Anne. Kebanyakan batik, dia suka kain batik,” kata Eti Hayati (51), tetangga Anne pada tahun 1968-1971 di Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Setelah Anne tidak tinggal lagi di Menteng Dalam, Anne tetap masih ingat dengan Eti.

“Karena Tante Anne tahu kalau saya bisa menjahit, dia akhirnya sering meminta dijahitkan daster,” ujar Eti yang hingga saait ini masih berprofesi sebagai penjahit. Anne menjadi langganan tetap Eti hingga tahun 1995, sebelum Anne meninggalkan Indonesia dan pulang ke Hawaii karena sakit. Read the rest of this entry »

Hj Siti Ruminah Sudiono - Dari Kepedulian terhadap Nasib Pembatik

July 9th, 2006

Hasil karya batik selama ini begitu lekat dan tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kekayaan corak dan ragam batik pun dimiliki di setiap daerah. Bahkan, sejumlah daerah di Indonesia telah berhasil memperkenalkan hasil produksi batiknya secara luas hingga ke mancanegara.

Namun, ternyata nasib batik khas Indramayu tak demikian adanya. Usaha batik yang ditekuni masyarakat Indramayu yang telah berlangsung turun temurun sejak zaman Belanda, bagai lumut di atas batu, hidup segan mati tak mau. Beragam hasil karya batik yang dihasilkan tidak dapat dipasarkan karena tidak memiliki konsumen, apalagi pelanggan. Nasib para pembatik pun menjadi kian terpuruk.

Melihat keterpurukan nasib pembatik dan batik Indramayu secara keseluruhan, jiwa Siti Ruminah pun terpanggil. Di tahun 1972, istri dari H Sudiono itu mulai berusaha untuk memperbaiki kondisi tersebut dengan menjadi pengepul (pengumpul, red) batik. Padahal, saat itu dia telah menjadi produsen es mambo yang sukses.

”Namun saya alihkan usaha es mambo ke usaha batik, karena kepedulian saya terhadap nasib pembatik dan batik khas Indramayu. Apalagi motif batik khas Indramayu sangat bagus dan beragam,” kata ibu dari lima orang anak itu.

Menurut Siti Ruminah, motif batik khas Indramayu sampai saat ini masih asli sejak zaman Belanda. Motif itu diantaranya kapal kandas, ikan etong, merak ngibing, kuyong, pesawat penganten, dan masih banyak lainnya. Semua motif itupun memiliki nilai seni yang tinggi dan masing-masing mempunyai nilai sejarah tersendiri.

Kiprah sebagai pengepul batik dimulainya dengan mengumpulkan beberapa lembar kain batik dari warga di sekitar rumahnya yang beralamat di Jalan Siliwangi No 315 Kelurahan Paoman, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kemudian, lembaran-lembaran kain batik itu dijualnya kembali ke sejumlah rekannya.

Kebetulan, nenek empat cucu itu memang aktif di berbagai organisasi seperti Dharma Wanita Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, tempat suaminya bertugas. Selain itu, dia juga rajin berolah raga tenis sehingga memiliki banyak teman. Nah, para kenalannya itulah yang kemudian menjadi sasaran pemasaran batik-batiknya.

Lama kelamaan, kain batik yang dijualnya itu semakin dikenal luas. Para pembeli pun mulai berdatangan ke rumahnya. Memang tak banyak batik yang dibeli orang saat itu, hanya berkisar satu sampai dua lembar. Namun, dengan diiringi kualitas batik yang bagus, minat pembeli semakin tinggi dan usahanya semakin berkembang. Kain batik khas Indramayu pun mulai dikenal masyarakat luas dengan sebutan Batik Paoman, sesuai dengan nama tempat awal mula batik Indramayu berkembang.

Wanita yang menjabat sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Wanita Indonesia (IWAPI) Indramayu sejak tahun 2000 tersebut lantas mulai berpikir untuk lebih serius mendalami usaha batik. Karena itu, dia tidak lagi berperan hanya sebatas sebagai pengepul. Dengan merekrut tenaga kerja sebanyak dua orang, dia pun mulai memproduksi batik di rumahnya sendiri. Batik yang diproduksinya pun beragam mulai dari batik tulis, batik cap, hingga batik printing.

Untuk lebih memperkenalkan kain batik hasil produksinya maupun kain batik yang dikumpulkannya dari warga, di tahun 1980-an Siti Ruminah mulai memasang iklan. Tak tanggung-tanggung, iklan itu dipasangnya melalui internet, yang saat itu baru saja ada. Dampaknya, kain batik Paoman dikenal di berbagai negara.

Tercatat, ada sejumlah pembeli dari Jepang, Belanda, dan Australia yang langsung memesan batiknya itu. Bahkan, para pembeli dari negara-negara tersebut kini menjadi pelanggan tetapnya. Selain itu, banyak pula pembeli dari berbagai kota di Indonesia yang memburu kain batiknya. Usahanya pun semakin berkembang dan tenaga kerja yang direkrutnya kini telah mencapai 63 orang.

”Namun, saat itu saya khawatir corak batik Paoman akan diklaim pihak lain, seperti halnya batik Pekalongan yang dipatenkan oleh Malaysia. Karena itu, saya mulai memperjuangkan hak paten untuk corak batik Paoman melalui Pemkab Indramayu,” tutur anak kedua dari 13 bersaudara pasangan Wasa Harja Prawira dan Sutinah itu.

Niat Siti Ruminah untuk mematenkan batik Paoman mendapat tanggapan dari Pemkab Indramayu. Dan kini, dari sekian banyak corak batik Paoman, 94 persen di antaranya telah dipatenkan.

Berdasarkan klasifikasi yang dilakukan Balai Batik Indonesia, corak batik Paoman memang memiliki banyak corak dan motif. Berdasarkan masukan dari para konsumennya, Siti Ruminah lantas mulai memvariasikan corak batik Paoman. Menurut dia, batik Paoman sebenarnya hanya memiliki satu warna dasar, yakni putih. Namun, warna batik Paoman itu dikembangkannya hingga beragam.

Selain warna, kain batik yang diproduksinya juga mulai dikembangkan menjadi produk siap pakai. Awalnya, batik Paoman hanya berupa lembaran kain. Namun kini, batik Paoman telah menjelma dalam bentuk pakaian, seprei, bed cover, gorden, tas, sandal, dan lain-lain.

”Selain memperkenalkan produk melalui internet, saya juga rajin mengikuti berbagai pameran sehingga saat ini saya telah memiliki pelanggan tetap dari Bandung, Jakarta, Bogor, Bali, dan beberapa negara asing,” kata Siti Ruminah.

Dengan banyaknya pelanggan maupun pembeli dari berbagai kota, Siti Ruminah lantas membuka cabang usaha di Jakarta dan Bali. Omset penjualannya pun mencapai rata-rata 30 lembar per hari untuk kain batik tulis, ratusan lembar kain batik cap, dan ribuan lembar kain batik printing.

Selain berdasarkan pesanan, sistem pemasaran juga dilakukan dengan menyediakan batik di toko-tokonya. Dan, dengan sistem pemasaran cash and carry, usaha yang dikembangkannya itu tak pernah terkendala masalah dana.

Kesuksesan usaha itu tak membuat Siti Ruminah melupakan para pembatik lainnya. Dengan usahanya yang semakin berkembang, dia pun terus merekrut tenaga kerja yang dilatihnya agar bisa membatik. Selain itu, dia juga menjalin kerja sama dengan ratusan orang baik secara individu maupun kelompok sebagai mitra kerjanya. Para mitra kerja itu diberinya modal, bahan, dan contoh corak batik untuk dibuat. Selanjutnya, batik-batik itu dipasarkannya.

”Untuk menanamkan kecintaan batik pada generasi muda, saya juga membuka les membatik bagi sisiwa-siswa SMA. Saat ini, siswa yang ikut les membatik telah mencapai 120 anak,” ujar Siti Ruminah.

Semua upaya Siti Ruminah untuk mengembangkan batik Paoman lantas mendapat penghargaan dari pemerintah. Pada tahun 1986, dia mendapat Adhikarya dari Bakorwil Cirebon. Pada tahun 1994, penghargaan Adhikarya itu diperolehnya kembali dari gubernur Jawa Barat.

Selain itu, IWAPI juga memberinya penghargaan sebagai Wanita Pengusaha Indoensia Berprestasi tingkat nasional pada tahun 2002. Pada tahun yang sama, dia juga mendapat penghargaan sebagai UKM Berprestasi dari presiden RI dan gubernur Jawa Barat. lis

Nama lengkap: Hj Siti Ruminah Sudiono
TTL: Indramayu, 25 Juni 1951
Nama suami: H Sudiono
Anak: lima orang
Cucu: empat orang
Nama usaha: Batik Paoman Art
Alamat rumah dan usaha: Jalan Siliwangi No 315 Indramayu
Telepon usaha: (0234) 271151
Email usaha: batikpaoman@yahoo.com
http://welcome.to/batikpaoman

Sumber : >Republika Online

Meski Harus Berkarya di Bawah Tenda; Ratna Tetap Coba Kembangkan Batik

July 5th, 2006

KENYATAAN gempa telah memporak-porandakan segalanya memang pahit. Ratna Purwaningsih sebagai produsen pakaian batik mencoba bangkit, menghadapi kenyataan yang ada dengan memulai produksi pakaiannya kembali dengan peralatan yang seadanya. Sebelum gempa, Ratna memiliki 8 mesin jahit namun akibat gempa beberapa waktu lalu, 4 mesin jahitnya rusak dan tidak bisa terpakai lagi. Sementara itu rumah dan show roomnya ‘Rena Griya Batik Bordir dan Kebaya’ yang berada di Demangan Tegal, Jambidan, Banguntapan, Bantul ikut ambruk. Dengan semangat yang kuat untuk kembali menata perekonomiannya, akhirnya Ratna melanjutkan usaha jahitnya di bawah tenda yang didapatnya dari Disperindag.

Produksi pakaian batiknya telah dimulai Ratna sejak 2 tahun yang lalu. Semasa kuliah tahun 1990, Ratna mulai usaha kecil-kecilan dengan membuat mukenah dan kerudung yang kemudian berkembang menjadi produksi pakaian muslim. Kemudian Ratna beralih memroduksi pakaian batik dengan memperkerjakan 16 orang tenaga kerja yang membantunya dalam proses produksi pakaian batik. Namun setelah gempa, hanya 4 orang yang masih bekerja di tempatnya karena karyawannya yang kebanyakan berasal dari Bantul juga terkena imbas dari gempa. Read the rest of this entry »

Pasar Tiban Batik Imogiri; Pengganti Sementara Museum yang Roboh

July 4th, 2006

Jogja Heritage Society (JHS) dengan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia ‘Sekar Jagad’, Yayasan Losari, Mayasari Indonesia, dan LPM Institut Pertanian (Intan) Yogya masih menggelar Pasar Tiban Batik. Di halaman rumah Sarjono di Dusun Pajimatan Desa Girirejo yang semula untuk warung lesehan, saat ini digunakan untuk lokasi pasar tiban tersebut.

“Kami senang warung lesehan ini digunakan untuk pasar tiban batik, agar Imogiri segera bangkit setelah musibah gempa. Sebab kalau terlalu lama tidak ada kegiatan membatik, ciri khas Imogiri sebagai pusat batik ‘Bantulan’ akan semakin tenggelam dan lenyap,” ujar Sarjono yang mendapat mandat dari penyelenggara pasar tiban batik, Ir Dra Larasati Suliantoro Sulaiman.

Menurut Larasati Suliantoro, kegiatan ini merupakan salah satu program ‘Bangkitkan Kembali Pusaka Rakyat Jogja’, pelestarian pusaka secara terpadu tangiable dan intangiable serta pemulihan ekonomi lokal berdasarkan aset yang ada. Setiap hari puluhan pembatik Imogiri mengerjakan kerajinan batik di Pasar Tiban ini. Mereka mendapat upah Rp 5 ribu dari rencana Rp 10 ribu setiap hari. Read the rest of this entry »

Sepasang Kain Batik untuk Hakim

July 3rd, 2006

Isi pesan singkat (SMS) dari ponsel seorang pejabat Mahkamah Agung (MA) ini sungguh mengejutkan. Ia mempertanyakan rencana promosi Nana Juwana menjadi Ketua Pengadilan Tinggi (KPT) Jawa Tengah di Semarang. “Nana Juwana yang memutus perkara Depok mau dijadikan KPT Semarang. Main mata, ya?” Begitulah SMS-nya.

Nana adalah mantan Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Barat yang memutus perkara sengketa pemilihan kepala daerah (pilkada) Depok. Majelis yang dipimpin Nana membatalkan hasil perhitungan pilkada KPU Depok yang memenangkan Nur Mahmudi Ismail sebagai Wali Kota Depok. Belakangan, putusan itu dianulir oleh MA.

Mejelis yang memutus perkara itu dinilai oleh tim panel yang beranggotakan hakim agung melakukan unprofessional conduct. Desember tahun lalu, Nana dan empat hakim koleganya ditarik ke MA sebagai hakim non-palu. Eh, kini ada kabar bahwa Nana akan dipromosikan. Read the rest of this entry »